Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Bukan Aku Penyebabnya


__ADS_3

Kupalingkan wajahku dengan sinis, terserah dia mau menganggapku dokter yang tak ramah atau segala macamnya.


Jika aku tak suka, maka aku akan menunjukkan reaksi yang memang tak suka. Toh, buat apa sok suka sama seseorang kalo ternyata tak suka sama sekali?


Kusuap makanan yang sudah kuambil sedangkan Aldy tak menyuap salad yang kuambil, dia mencari sesuatu di handphone dan mencatatnya. Kubiarkan saja, sepertinya aku tengah sangat lapar itu sebabnya jadi emosian seperti tadi.


Tapi, bukan seutuhnya itu salahku. Memang dianya saja yang terlalu sibuk dan kepo dengan kehidupan orang lain.


"Cari apa?" tanyaku yang melihat Aldy sangat fokus sampai memakai kacamata yang diambil dari saku.


"Penyakit ini ada di sini?" tanyanya melihatkan gambar.


"A ...." Belum sempat aku menjawab pertanyaan, seseorang sudah berlari masuk ke dalam kantin dan memanggilku dengan napas yang ngos-ngosan.


"Dok ... dokter! Anak yang ke ... kemarin datang lagi!" serunya dan membuatku langsung membulatkan mata.


Makanan yang tak habis dan baru terisi dua suapan di dalam mulut kutinggalkan begitu saja bahkan tak sempat pamit dengan Aldy.


Aku berlari dengan perawat yang juga sepertinya sudah bersiap-siap untuk pulang karena memang jadwal kami telah habis.


"Dia di mana?" tanyaku sambil berlari menuju koridor.


"Di ruang spesialis kandungan dokter."


"Dia kenapa?"


"Pendarahan." Aku yang mendengar kata itu langsung merinding dibuatnya, anak sekecil itu harus merasakan pendarahan yang bahkan orang dewasa saja belum tentu mampu kuat menahan sakitnya.


Pintu ruang telah tertutup, kulihat ada seorang wanita yang duduk di depan ruangan dengan asyik bermain handphone.


Kudekati ke arahnya, "Apa kau keluarga pasien yang ada di dalam?" tanyaku menaikkan alis.


Wanita itu menatap penampilanku dari atas hingga bawah, "Kenapa bisa ada muslim di rumah sakit ini?"


"Memangnya kenapa? Tak ada larangan di sini bahwa tak boleh ada seorang muslim."


Dia bangkit dan menatapku dengan amarah, mungkin, "Oh, jadi kau yang membuat anak tersebut ingin keluar dari rumahku dan kabur hingga dia kecelakaan seperti ini?" tanyanya dengan nada yang tinggi.


Perawat kulihat sudah menelpon satpam yang ada, "Maaf, bahkan aku tak memperiksa dia sampai selesai!" kataku yang juga sedikit keras.

__ADS_1


"Oh, ya? Terus, apa yang membuat dia hingga ingin kabur dariku?"


"Apa kau pekerjakan dia di tempat yang tak seharusnya dia bekerja?" tanya perawatku sekarang. Sedangkan aku hanya menatap ke arahnya saja.


"Kalau, iya? Memangnya apa masalahmu?" tanya wanita yang mungkin usianya baru 40-an atau bahkan 30-an karena make-up yang tebal dan menor membuat dia terlihat menjadi tua.


"Dia masih terlalu dini!" bentak perawatku yang sepertinya tak tahan lagi. Aku yang tak mengerti tempat apa itu hanya diam saja mencerna dan mencoba memahami tentang 'tempat' itu.


Wanita yang ada di depan kami sepertinya sangat marah dengan bendatakan dari perawatku, ia mendorong perawat dan beruntung dengan cepat kutahan.


Jika tidak, maka mungkin dia akan sudah terduduk di lantai, "Kau sangat kasar! Apa tak bisa pelan-pelan?!" geramku yang melihat hal itu.


"Kau manusia yang sangat tak berperikemanusiaan! Anak sekecil itu kau suruh menjadi wanita bayaran! Apa kau tak pernah berpikir bahwa dia itu masih terlalu kecil?" sambungku dengan menunjuk ke arahnya.


Beberapa orang bahkan keluar dari ruangan kala mendengar suaraku, mungkin ada yang kaget karena aku tak pernah berbicara dengan nada tinggi.


Dua orang satpam sudah datang juga Aldy yang ternyata menyusul kami, "Itu bukan urusan kalian!" amuknya lagi.


"Bukan urusan kami? Kalau bukan urusan kami seharusnya anak itu tak ke sini! Agar hal itu tak menjadi urusan kami!" bentakku yang merasa tak terima dengan ucapannya.


Dia mendorong bahuku dengan keras, aku yang tak bersiap-siap pun terdorong. Tak sakit, kubuka mataku dan kulihat sudah ada Aldy di samping dan teryata tangannya menopang tubuhku.


Mereka membawa paksa wanita tadi yang sesekali masih beradu argumen dengan perawatku, orang yang melihat di ambang pintu ruangannya pun menghampiriku untuk bertanya keadaanku.


"Aku tak papa," jawabku pada mereka semua dengan senyuman.


Mereka kembali ke ruangan masing-masing, aku melihat ke dalam ruangan dari kaca pintu yang memang ada.


"Aku malas lagi mengurus anak itu dokter! Mau-mau aja kembali ke sana udah tau penyihir itu kejam!" kesal perawatku.


Aku yang mendengar ucapan itu menatap ke arahnya yang melihat lantai, kududukkan punggungku di sampingnya.


"Dia mungkin belum tau kawasan sini, jadi itu hal yang wajar," ucapku yang sebenarnya kesal juga. Kulirik ke arah Aldy yang ada di sebrang bangku kami tapi dia masih bisa mendengar ucapan kami.


"Maaf, ya, Kak. Caca jadi harus ninggalin Kakak tanpa pamit tadi," kataku yang sedikit tak enak.


"Gak masalah, nih handphone kamu," ucap Aldy memberikan handphone-ku. Setelah kuambil, kumasukkan kembali handphone itu ke dalam jas.


"Sekarang gimana?" tanya Aldy dan membuat aku juga perawat menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Apanya?" tanyaku menautkan alis. Sedangkan perawatku malah tersenyum.


"Dokter Caca sama dokter Aldy kok wajahnya agak mirip, ya?" tanyanya tersenyum.


"Iya, dokter Aldy ngikut-ngikutin."


"Mana bisa begitu, orang aku yang duluan lahir, kok."


Pintu ruangan terbuka, aku dan perawat langsung refleks bangkit sedangkan Aldy setelah kami berdiri dia baru ikutan.


"Kok ada dokter Caca?" tanya dokter yang baru saja menangani gadis itu.


"Iya, emang saya sebelumnya yang merawat gadis itu dokter."


"Dia pendarahan dan anaknya harus diangkat."


"Sekarang, dia gimana dokter?"


"Masih tidur karena efek bius."


"Oh, yaudah kalau begitu. Kami permisi, ya."


Aku dan perawat segera permisi dari tempat ini, karena anak itu juga sepertinya tengah istirahat. Semoga saja besok dia masih ada dan tak kabur, jadi aku bisa menenangkan anak itu.


Aldy ruangannya sedikit jauh dariku, dia sepertinya juga akan bersiap-siap akan pulang. Aku mengambil tas yang beruntungnya telah kumasukkan semua pelatanku tadi ke dalamnya.


Menempelkan kartu pada scand yang ada agar pertanda bahwa diri sudah pulang dari gedung ini, kulangkahkan kaki dengan lemas dan malas.


Sebenarnya, aku bukan wanita kuat yang bisa menahan dan menghadapi setiap permasalahan sendiri.


Namun, aku pun malu jika harus menangis di hadapan orang lain meskipun jika aku menangis di hadapan mereka itu adalah hal wajar.


"Hiks ... hiks!" Tangisanku pecah di atas kasur juga bantal.


"Caca capek, ih!" keluhku yang selalu mengucapkan kata-kata itu saja.


Saat jauh dari Milda juga Riki, aku memang akan selalu menangis di dalam kamar saja dengan cara menenangkan diri bisa mencoret-coret buku, menatap awan atau meminum es.


Kuambil handphone, kulihat nomor Riki yang tak ada tulisan 'online'-nya. Biarlah tak dilihat sekarang yang terpenting aku butuh tempat cerita.

__ADS_1


__ADS_2