
Begitu panjang pesan kuketik untuknya, kulihat jam pada layar gadget membuatku bangkit dan menghapus air mata.
Memilih untuk mandi dan bersiap-siap masak untuk makan, karena saat makan di kantin hanya beberapa suap yang masuk ke mulut akibat perawat yang datang menganggu.
Handphone-ku cas dan aku menuju kamar mandi, setelah selesai dengan baju tidur lengan panjang juga celana panjang tak lupa kerudung santai.
Aku menuju ke arah dapur, sebelum ke dapur kulihat handphone. Tak ada juga balasan tapi centeng berubah menjadi dua meskipun tak kunjung membiru.
****
"Mama mau kamu menikah dengan Diva, Riki!" bentak Mama Riki di ruang rumah sakit yang hanya ada mereka berdua.
"Tapi, Ma. Riki gak cinta lagi sama dia," tolak Riki dengan suara yang tak dinaikkan karena bagaimana pun dirinya tengah berbicara dengan peri tak bersayapnya.
"Terus? Kamu cintanya sama siapa? Caca? Anak yang udah ninggalin kamu sampe 4 tahun begitu aja tanpa pamit sama sekali?"
"Mama kenapa seperti ini, sih? Dulu Mama gak seperti ini, kenapa sekarang berubah menjadi orang yang gak Riki kenal?" tanya Riki menautkan alisnya seraya bergeleng ke arah Mamanya.
Setelah kepergian Caca memang Riki menjadi anak yang berbeda bahkan jarang sekali ingin menjaga kesehatannya.
Entah sebab itu sekarang Mamanya tak setuju jika Riki dengan Caca atau sebab lain, pasalnya memang dulu Mamanyalah yang sangat semangat untuk menjodohkan mereka.
Namun sekarang? Sudah berubah menjadi menjodohkan Riki kembali dengan masa lalunya itu.
"Karena Mama takut dia akan meninggalkan kamu lagi dan membuat kamu tersiksa," ungkap Mama Riki dengan mata yang mulai berembun.
"Ma, di dalam percintaan itu suatu hal yang biasa. Toh, Riki yang menjalani hubungan itu!" Riki langsung berjalan ke luar dari ruangan begitu saja.
Setelah sampai ke Indonesia, Mamanya menyuruh dan mendesak Riki untuk menikahi Diva saja. Meskipun sudah sering kali Riki menolak untuk dijodohkan kembali dengan wanita itu.
Ketika Riki tengah duduk di halaman depan, tiba-tiba saja datang seorang perawat ke arahnya dengan napas ngos-ngosan, "Mama Anda, Mama Anda," katanya dengan terbata-bata.
Riki yang sudah berpikiran tak tenang langsung berlari kembali ke ruangan di mana Mamanya di rawat.
Sudah ada Diva juga orang tuanya dan Papa Riki di depan ruangan, pintu ruangan juga tertutup semua menampilkan wajah cemas.
__ADS_1
"Mama kenapa?" tanya Riki menatap ke semua orang yang ada di situ dengan berharap ada yang menjawab pertanyaannya.
"Gak tau, katanya tiba-tiba kejang-kejang. Kamu ke mana tadi? Bukannya Mama sama kamu di ruangan?" tanya Papa Riki dengan wajah marah.
"Ya, tapi Riki tadi memilih ke depan."
"Awas terjadi kenapa-kenapa sama Mama kamu! Papa gak akan pernah memaafkan kamu!" bentak Papa menatap tajam ke arah Riki.
Dive mendekat ke arah dua orang yang sedang bertengkar saat ini, "Udah Om, lebih baik kita sekarang berdoa agar Tante gak kenapa-kenapa aja," timbrungnya menengahi.
Papa memilih duduk kembali sedangkan Riki menatap ke arah Mamanya yang masih d diu tangani melalui kaca pintu yang ada meskipun hanya kecil.
Pintu ruangan terbuka dan memperlihatkan dokter yang keluar dari dalamnya, "Beliau tidak papa, cuma tolong jangan mengajak dia untuk berdebat atau berpikir keras," ungkap dokter dan diangguki semua orang.
"Kalau begitu, saya permisi."
"Terima kasih dokter," ucap Riki dan diangguki oleh dokter yang berjalan menjauh dari mereka semua.
Papa Riki lebih dulu masuk di susul orang tua Diva, "Yuk, kita masuk," ajak Diva dengan mengusap tangan Riki. Namun, di tepis dengan kasar oleh sang empu dan ditinggalkan begitu saja.
Laki-laki itu malah semakin dingin dan tak pernah ingin bercerita dengannya, itu sebabnya kerudung kembali dibukanya begitu saja.
Sekarang, dia kembali dengan pakaian kurang bahannya itu juga rambut yang sudah entah berapa kali ganti.
Semua orang kini di ruangan, perawat yang sebelumnya masih memeriksa akhirnya keluar karena dirasa semua sudah membaik.
Pelan-pelan mata Mama Riki terbuka, dia melihat ke seluruh arah ruangan ini. Menatap satu per satu orang yang ada di sisinya.
Diva tersenyum dengan ramah dan memegang tangan Mama Riki, "Tante yang kuat, ya. Pasti bisa sembuh!" seru Diva tersenyum ke arah Mama Riki yang masih terbaring lemah.
Tangan Mama Riki terangkat mengusap kepala Diva, "Terima kasih Diva, kamu memang wanita yang baik," puji Mama Riki membuat laki-laki itu membuang wajahnya dari melihat pemandangan sekarang.
"Pa ...," panggil Mama dan menatap ke arah Papa yang berada di sebelah kirinya sedangkan Diva di sebelah kanan.
"Iya Ma?"
__ADS_1
"Diva cocok 'kan jadi menantu kita?" tanya Mama dan mendapat anggukan. Sedangkan Diva tetap tersenyum bahkan sepertinya pipinya terbakar karena bahagia mendengar penuturan Mama Riki sekarang.
Dirinya melihat ke arah orang tuanya yang ada di sampingnya itu, Riki hanya menampilkan wajah datar. Sangat ingin pergi saat ini juga, tapi tak mungkin hal itu dirinya lakukan.
"Kamu mau jadi menantu Tante?" tanya Mama Riki kali ini kepada Diva. Wanita itu tanpa ragu mengangguk, bukankah memang itu yang dia mau? Mengapa harus bertanya terlebih dahulu?
Riki tak kuat mendengar percakapan mereka, dirinya tak tahan lagi dan memilih berjalan keluar ruangan.
Semua orang menatap kepergiannya itu, Papa Riki menyusul dengan tangan yang terkepal kuat.
"Riki!" bentak Papanya dengan suara yang cukup besar.
Laki-laki yang namanya disebut langsung berdiri tapi tak membalikkan badannya ke arah suara itu karena tanpa dirinya berbalik, dia pun sudah tahu suara siapa itu.
"Kamu bisa bersikap dewasa?" tanya dengan wajah marah.
"Apa?"
"Kenapa kau begitu tak bisa menghormati Mama?"
"Apakah aku harus menghormati orang yang tak pernah menghormati keinginan orang lain?"
"Apakah kau tak bisa mengikuti apa kemauannya? Dia bukan menginginkan berbagai hal setiap saat, hanya kali ini saja."
"Kenapa tak sekalian dia pinta aku untuk terjun dari gedung rumah sakit ini. Itu akan sama saja rasanya dengan aku disuruh menikah dengan wanita itu."
"Kau?!"
"Aku bukan anak kecil, berpikirlah jika ingin memarahiku dan lihatlah tempatnya!" kata Riki dingin dan pergi dari koridor yang ternyata ada beberapa orang yang menatap ke arah mereka sekarang.
Riki pergi ke kantin dan membuka handphone-nya, ia menelpon seseorang yang dirasa bisa menjadi tempat curhatnya.
Dirinya tak menggunakan kuota dalam menghubungi orang tersebut melainkan pulsa biasa.
Jika, dia terlihat aktif maka akan banyak pesan bermasukan dan telepon dari berbagai orang juga tokonya.
__ADS_1
Itu sebabnya, dia tak aktif dari tadi dan jika aktif tidak disengajanya tadi. Mungkin, beberapa pesan jadinya centeng dua akibat ulahnya tadi.