Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Siapa Yang Penggoda?


__ADS_3

Kicauan burung dan terik matahari mulai terpancar. Caca bangun dari tidurnya, ia sudah melakukan kewajiban tapi memilih tidur kembali tadi.


"Pagi, Bunda!" sapa Caca dengan Milda yang sudah berada di bangku dan memakan rotinya.


"Pagi, Sayang. Kamu kok udah rapi, sih?"


"Iya, Bunda. Om Riki ngajak ke galeri gitu," jawab Caca dan duduk di samping Milda sambil mengambil roti dan mengoleskannya.


"Ca, kamu tau 'kan kalo Riki itu udah tunangan?" tanya Milda menatap lekat ke arah Caca. Caca yang tadinya fokus dengan rotinya seketika memberhentikan aktivitasnya menyelaikan roti.


"Bunda gak mau kamu kenapa-kenapa karena tetap nekat dekat dengan Riki, Sayang," sambung Milda ketika melihat Caca tak membuka suara.


Aku tersenyum dan mengenggem tangan Bunda, "Bunda tenang aja, Caca tau batasannya, kok. Mungkin, ini terakhir Caca ketemu sama Om Riki. Lagian, kita pergi gak sendiri sama Om Farhan kok."


"Bunda harap kamu paham dengan kecemasan Bunda, Bunda gak mau sampe anak Bunda di cap sebagai anak yang gak baik hanya karena hal ini."


Aku dengan cepat mengangguk, paham ke mana arah pembicaraan Bunda kali ini. Kalau dilihat pun, benar apa yang dikatakan Bunda.


Kalau aku di posisi Tante Diva, mungkin aku akan marah juga saat tahu bahwa tunanganku masih dengan wanita lain.


"Bunda mau ke mana?" tanyaku melihat Bunda yang bangkit dari kursi.


"Mau ke tokolah, nanti kalo kamu bosen. Kamu bisa datang ke toko aja."


"Okey, Bunda!"


"Yaudah, kamu hati-hati nanti, ya, di jalannya." Bunda mencium pucuk kepalaku yang tertutup kerudung.


"Iya, Bunda. Bunda juga, ya."


"Iya, Sayang. Bunda pergi, dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Bunda."


Setelah kepergian Bunda, aku segera menyelesaikan sarapan. Melihat piring yang belum di cuci seketika membuatku meraih handphone.


Entah mengapa, aku sangat suka saat membereskan rumah sambil mendengar music. Seolah seperti terhibur dan tak terlalu terasa lelah.


Tok ...!


Tok ...!


Suara ketukan dari depan pintu membuatku kaget, pasalnya ketukan itu sangat kencang tidak sama sekali ada pelannya.


"Bentar!" teriakku dan mengelap tangan serta mematikan music melangkah ke depan untuk membuka pintu.


"Ya, ada apa?" tanyaku dan menatap orang yang sekarang ada di depanku.

__ADS_1


"Wah ... Hama sudah pulang ternyata," kata orang yang ada di depanku dengan bersedekap dada.


"Ada apa? Kalo gak ada yang penting maka pergilah. Aku punya banyak pekerjaan," jawabku sambil menahan diri agar tak terpancing emosi.


"Iyakah? Apa sih kerjaanmu? Menggoda calon suami orang, ya? Apakah itu masuk ke dalam daftar pekerjaan?" tanya orang tersebut dengan nada menyindir.


"Gak ada yang mau dibicarakan? Silahkan pergi!" ketusku dan segera menutup pintu. Namun, dia dengan cepat menahan pintu hingga kini terbuka lebar.


"Cih, apakah ini yang kau pelajari selama 4 tahun? Bahkan, sopan santun saja kau tak punya!"


"Lu yang tak punya sopan santun, bukankah sudah diusir? Mukamu di mana, sih? Oh, iya, gue lupa kalo lu gak punya muka Tante Diva," kataku menekan setiap kalimat yang keluar dari mulutku.


"Oh, ya? Lebih parahan mana sama seorang penggoda dan ******? Lebih parah dirimu deh sepertinya."


Aku maju mendekat ke arah wajahnya dengan menyunggingkan senyuman, "Coba berkaca, bahkan pakaianmu yang bisa dibilang seperti penggoda dan ******!" bisikku menatap ke arahnya sekilas.


Kututup pintu selagi dia mencerna atau menahan kemarahannya akibat kata-kataku, tak kupedulikan lagi dirinya yang mengetuk serta teriak di depan pintu.


Pekerjaan rumah selesai jam 9 pagi sudah dengan mencuci baju, suara Diva tak lagi kudengar. Segera kuintip dari jendela kaca dan benar, dirinya sudah tak ada.


Kusapu bagian teras rumah agar tak terlalu kotor, ketika ingin masuk kembali ke dalam suara klakson mengangetkanku dan mengurungkan niatku untuk ke dalam.


"Om Farhan?" gumamku saat melihat laki-laki itu keluar dari mobil.


"Ca, kamu udah siap?"


"Karena jaraknya lumayan jauh."


"Oh, yaudah tunggu bentar. Caca mandi sekejap, tiga puluh menit deh Om," kataku sambil cengengesan.


Farhan hanya menggelengkan kepalanya saja, "Yaudah, saya tunggu di dalam mobil, ya."


"Oke, Om." Aku segera berlari masuk kembali ke dalam rumah. Meletakkan sapu pada tempatnya dan bergegas ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap.


Celana kulot warna putih, baju hitam dan kerudung hitam tak lupa juga tas selempang berwarna hitam.


Merasa sudah siap semuanya, aku segera keluar dari rumah menggunakan sepatu berwarna putih. Sungguh sempurna menurutku.


"Maaf, ya, Om karena lama," kataku dan langsung duduk di jok depan di samping Om Farhan.


"Ehem!" dehem seseorang yang berada di belakang dan membuatku menoleh. Ternyata sudah ada laki-laki dengan menggunakan sweater hitam, celana jeans hitam juga masker putih.


"Eh, Om kok ada di sini?" tanyaku dengan badan sedikit bergeser.


"Ke belakang Cil! Ngapain malah duduk di samping Farhan?"


"Caca kira Om Riki gak ada, tadi."

__ADS_1


"Yaudah, ke sini!" perintah Riki dengan menatap tempat duduk di sampingnya yang masih kosong.


Aku turun kembali dan masuk ke bangku belakang, mobil mulai keluar dari komplek. Kulihat rumah Om Riki tadi tertutup rapat.


Sepertinya tak ada orang di sana, "Om tidur di mana?"


"Apartemen."


Aku hanya mengangguk dan ber 'oh' ria, "Berhenti!" perintah Riki dan membuat Farhan memberhentikan mobil.


"Ada apa Pak?" tanya Farhan melihat dari kaca spion.


"Turun!" titahnya dan Farhan langsung turun.


"Kau ke depan," sambungnya dan aku hanya mengikuti saja.


"Lah, kenapa malah Om yang nyetir?" tanyaku saat dia mengubah tempat duduk dan mengalih andil setir mobil.


Om Farhan jadi di belakang dan kami di depan, "Gak papa, sesekali. Farhan lama bawa mobil," ungkapnya dan hanya membuat Farhan membuang pandangannya.


"Heleh, bilang aja gak mau langsung ke galeri," gumam Farhan menatap jalanan.


"Apa katamu Farhan?" tanya Riki yang mendengar ucapan Farhan.


"Ha? Aku t-tidak bicara apa pun Pak," jawab Farhan gelagap.


"Hayo-hayo Om Farhan, hahaha. Mangkanya, jangan suka ngomongin orangnya di belakang," timpal Caca yang malah menakut-nakuti laki-laki itu.


"Ck!" decak Riki yang melihat Farhan dengan tatapan tajam melalui kaca spion. Sedangkan Farhan yang melihat tatapan itu segera menunduk.


Aku hanya tertawa melihat kedua orang di dalam mobil ini, "Om Farhan gak mau bawa calon istrinya sekalian, nih?" tanyaku menggoda dirinya dan menatap kursi yang masih kosong di sampingnya.


"Saya gak punya calon istri, Ca," jawab Farhan seadanya.


"Masa, sih?" tanyaku kaget. Pasalnya, masa tidak ada wanita yang tertarik dengan Om Farhan. Padahal, dia gak jelek-jelek amat, kok.


"Iya, saya mau fokus kerja dulu."


"Bagus, sih, bagus."


"Patah tuh leher!" sindir seseorang dan membuatku langsung menatap ke arah wajahnya.


"Dih, mana ada gitu!" ketusku dan tatapan kami bertemu sebentar. Aku mengerutkan kening saat wajah Om Riki tak lagi menatapku.


"Itu kenapa?" tanyaku yang menangkap sesuatu tadi.


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2