Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Tetap Di Sampingku


__ADS_3

Caca langsung mengalihkan pandangan dengan membuka kantong kresek dan Riki melihat siaran TV yang ada.


Dirinya membuka plastik yang ada pada produk serum wajah, "Om deketin sini wajahnya," kata Caca menatap Riki.


Serum, sunscrean, pelembab bibir dan masker wajah. Hanya itu saja yang dibelikan Caca ke Riki tak sebanyak Riki membelikan Caca.


"Ini namanya serum Om, pake ini, ya. Gak usah banyak-banyak," ujar Caca meneteskan serum ke wajah dan meratakannya.


Setelah rata, Caca mengambil sunscrean. Ketika ingin menaruhnya ke wajah Riki tiba-tiba saja telepon miliknya berbunyi yang ada di meja kerja.


Segera mengambil handphone dan kembali duduk di samping Caca, "Ada apa?" tanya Riki kepada orang yang ada di sebrang.


Caca hanya menatap saja, dirinya pun tak tahu siapa yang menelpon Riki, "Oke," kata Riki mematikan panggilan.


Membuka tutup sunscrean, Caca meratakan ke semua wajah Riki, "Nah, kalo mau bepergian biasakan pake ini Om. Agar kulit wajahnya gak langsung terkena matahari, gak bagus."


"Tapi, saya 'kan cuma di apartemen. Kenapa pakai itu?" tanya Riki yang membuat aktivitas Caca yang sedang memasukkan sunscrean terhenti.


"Iya juga, ya?" Tatapan polos di buat Caca, dirinya pun tak tahu mengapa bisa dirinya memberikan itu ke Riki.


"Gak masalah, karena kamu udah pakekan itu. Lebih baik sekarang kita pergi sekalian beli bahan masakan, agar besok kamu bisa langsung masakan saya."


Tak ada kata iya dari Caca, Riki langsung berjalan ke atas untuk berganti pakaian sepertinya. Caca hanya menatap punggung laki-laki yang menaiki tangga itu.


"Emangnya aku ada bilang mau, ya?" tanya Caca yang merasa dijebak. Daripada hanya menunggu Riki saja, Caca berjalan ke arah meja kerja Riki kembali dan meyusunkan barang-barangnya itu.


Riki berjalan menuruni tangganya dengan celana casual hitam dan kaos polos berwarna hitam juga topi berwarna cokelat.


Wangi menyerbak ke ruangan, Caca hanya terdiam melihat perubahan Riki sekarang. Apakah sebegitu cintanya laki-laki itu dengan warna hitam?


"Kenapa?" tanya Riki saat melihat Caca yang menatapnya dengan keadaan bengong.


"Gak papa," jawab Caca gelagapan sambil membuang pandangannya.


"Kamu seperti itu aja?"


Caca menatap baju dari atas hingga bawah terlebih dahulu lalu menatap ke Riki, "Memang kita akan ke mana?" tanya Caca agar gampang memilih outfit.


"Gantilah gamis dengan berwarna hitam," perintah Riki tanpa mengasih tahu tujuan.


Diam dan mengangguk tanpa memaksa laki-laki itu untuk menjawab pertanyaannya, Caca keluar dari kamar lebih dulu agar Riki tak lama menunggunya nanti.


Sekitar 20 menit lamanya menunggu, Caca telah selesai dan Riki juga sudah menunggu di depan pintu kamar.

__ADS_1


"Sudah?" tanya Riki memastikan.


"Sudah!"


Gamis warna hitam, sendal pansus dan hijab berwarna coklat tua. Caca berjalan di samping Riki dengan pikiran yang masih menebak-nebak.


Ke mana dan akan ke mana dirinya sekarang dengan Riki sehingga pakaian pun harus berwarna hitam, 'Apa mau ke pemakaman, ya?' batin Caca bertanya.


Masuk ke lift dan saat pintu terbuka sudah ada sopir yang menunggu di bawah, Riki langsung berjalan ke arah mobilnya itu.


"Tunggu di sini saja!" peringat Riki menyuruh Caca untuk berhenti di tempat yang lumayan jauh dari mobil.


Memajukan bibir dan bersedekap dada, melihat dengan kesal ke arah laki-laki yang sepertinya tengah memberi alamat ke sopirnya itu.


Laki-laki itu berjalan kembali ke arahnya setelah pintu mobil dibuka dan sopir telah masuk ke bangku depan, "Ayo!"


Caca berjalan lebih dulu dan memutar mobil duduk di bangku yang pintunya belum di buka oleh Riki.


Riki hanya menghela nafas pelan menatap wanita yang sudah ada di dalam, sepertinya ia harus ekstra sabar mengahadapi wanita itu.


"Kenapa?" tanya Riki kala melihat tangan Caca tak kunjung turun dari dada dan wajah yang sudah berpaling.


"Gak papa!" ketus Caca dan mobil mulai dijalankan ke tempat yang dimaksud Riki.


"Nanti kau juga akan tau tempatnya kok."


"Ya salam. Jangan marah-marah, bisa?"


"Siapa yang marah?"


"Nah, itu!"


"Gak ada yang marah!"


"Iya-iya, gak ada yang marah."


Satu jam perjalanan tak ada diisi dengan percakapan, Caca keluar dari mobil dan melihat gedung yang sebelumnya tak pernah dilihat.


"Tetaplah di sampingku atau kau akan digoda oleh manusia yang tak tau caranya menghormati," bisik Riki.


Sontak Caca langsung menatap laki-laki itu dan berjalan di sampingnya, mereka masuk secara bersamaan dengan ruangan yang sedikit gelap.


"Om, ini tempat apa?" tanya Caca yang mulai ketakutan.

__ADS_1


Pasalnya ini bukan tempat diskotik atau tempat minum-minuman, melainkan bau-bau darah yang tercium semenjak dirinya masuk ke dalam.


Rasa takut mulai memuncak, Caca berhenti karena makin tak tahan dengan bau tersebut. Apakah dirinya takut? Tentu saja!


Riki yang menyadari bahwa Caca tak lagi ada di sampingnya langsung berhenti dan melihat ke belakang, ia mendekat ke arah Caca dan memegang tas selempang milik Caca.


"Bukankah sudah kubilang untuk tetap di sampingku?"


"Om, ini tempat apa? Kenapa bau darah?" tanya Caca dengan wajah takut dan menatap wajah Riki yang tenang.


"Selama kau di sampingku, darahmu tak akan pernah tercium di sini! Ayolah cepat!"


Riki memegang tas Caca dan berjalan, Caca pun mau tak mau ikut berjalan di samping Riki. Mereka ke luar ruangan dan terdapat halaman.


"Hey, Bro!" sapa temen Riki dengan tinggi yang mungkin 180-an karena Riki pun kalah dibuatnya.


Mereka bersalaman dan menatap halaman yang ada di penuhi oleh kebanyakan laki-laki juga beberapa wanita seksi.


Caca mendekat ke arah Riki, entah mengapa dirinya mulai tak mempercayai laki-laki itu. Sedikit berpikiran negatif tentang Riki, ia mulai merencanakan apa yang akan dilakukannya nanti jika terjadi apa-apa pada dirinya.


"Wah, siapa yang ada di sampingmu itu?" tanya laki-laki itu dan beralih menatap Caca sambil tersenyum.


"Jangan menatapnya atau isi yang ada di kepalamu akan keluar semua," kata Riki bercanda namun terdengar menakutkan.


"Hahaha, bercanda teman. Aku ini masih temanmu, bukan?"


Riki hanya menatap datar dan melihat-lihat sekitar, "Mereka ngapain?" tanya Riki dan menatap William kembali.


"Mereka menunggu pelatih."


"Pelatih apa?"


"Tinju. Ada latihan tinju yang baru saja kubuka, kau terlalu lama untuk berkunjung ke sini."


"Wah ... makin hebat saja kau."


"Kapan-kapan berlatihlah. Skillmu itu perlu di asah!"


"Apa kau meremehkan kemampuanku?"


"Hahaha, bukan Riki. Hanya saja aku takut kau sudah lupa."


"Riki ... aku merindukanmu," teriak seseorang yang tiba-tiba saja langsung memeluk Riki dari samping kanan.

__ADS_1


Caca yang berada di sebelah kiri langsung menjauh untuk melihat siapa yang memeluk laki-laki itu.


"Menjauhlah dariku," ucap Riki melepas pelukan dan sedikit mendorong wanita dengan pakaian kurang bahan juga rambut pirang itu.


__ADS_2