Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Hanya Membela Diri


__ADS_3

Pagi ini, kuhias wajah dengan bedak yang cukup tebal. Bukan karena ingin menggoda dokter-dokter yang ada di tempat kerja. Namun, agar sembab tak terlihat.


Setelah kurasa penampilanku rapi, segera keluar dari kamar. Aku sudah makan roti dan juga minum susu putih tadi, bagaimana pun hari ini harus tetap kulalui dengan semangat.


"Eh, iya! Aku lupa sesuatu," gumamku berhenti dan kembali menuju kamar. Kubuka kembali pintunya dan mengambil barang yang tertinggal di laci.


"Pas sekali. Seharusnya, aku sudah memakai ini ke mana pun mulai tadi malam," kataku menatap cincin yang melingkar dengan penuh kemewahan di jariku.


"Lu terlambat Ca! Salah lu juga, gosah salahin orang lain! Lu juga yang jahat sama dia waktu itu, ninggalin begitu aja semau jidat lu! Giliran sekarang dia udah mau nikah dengan orang lain, malah gini lu!" omelku pada diriku sendiri sambil membungkus papar bag ini dengan rapi. Tak lupa menempelkan alamat yang ingin dituju.


Ya, cincin ini akan kukembalikan ke Indonesia tempat yang sebenarnya dia berada. Bukan di tempatku yang jahat ini, tenang tak perlu mengutuk diriku. Aku sudah melakukan itu.


Sudah rapi, aku kembali keluar dengan sedikit berlari karena melihat jam yang sudah hampir jadwalnya masuk ke rumah sakit. Untungnya, pengiriman barang tak terlalu jauh dari gedung apartemenku.


Membayar ongkos-kirim dan menerima resi, kulangkahkan kaki dengan menghilangkan jejak air mata. Berat! Sangat berat harus membiarkan barang itu pergi kembali.


Ketika tengah melangkah keluar gedung pengirim barang, handphone yang selalu di saku gamisku berbunyi. Dengan cepat kuambil sambil menetralkan mata melihat mobil yang berlalu-lalang.


Aku sedikit menautkan alis kala melihat nomor asing masuk ke nomorku. Bukan, bukan nomor asing. Nomor ini juga masuk bersamaan dengan nomor Riki kemarin.


"Iya, halo?" tanyaku dengan sesekali berlari agar perjalanan akan cepat sampai.


Diam. Tak ada jawaban dari sebrang sana, aku melihat handphone apakah aku kelamaan mengangkat nomornya sehingga panggilan terputus atau orang tersebut yang mematikan?


Panggilan masih tersambung, "Halo? Siapa, ya? Kalo gak penting saya matikan," tegasku dengan menggunakan bahasa Indonesia karena nomornya berasal dari nomor Indonesia +62.


Ketika ingin mematikan handphone, "Hai!" seru orang yang ada di sebrang.


"Siapa, ya?" tanyaku yang tak mengenal suaranya. Beberapa orang yang papasan tersenyum ke arahku, aku sudah sampai di rumah sakit.


"Aku ... Diva. Apa kau ingat?" tanyanya yang seperti sedang tersenyum.

__ADS_1


Aku berhenti di koridor karena kaget mendengar nama itu, "Oh, ada apa?" tanyaku santai meskipun ada yang menggebu di dalam sana. Ingin rasanya mencabik-cabik wanita yang sudah mengambil seseorang itu dariku.


"Tidak papa, hmmm ... apa lu akan datang ke acara nikah gue nanti? Oh, iya. Lu udah tau apa belum, nih? Gue udah di lamar sama Riki, makasih banget, ya, karena udah jauh dari dia. Kalo bisa, sih. Lebih jauh, gak usah cuma ke Amerika ke ... neraka contohnya," hinanya sambil terkekeh.


"Hahaha, neraka bukannya cocoknya buat lu, ya?" tanyaku dengan sinis. Beberapa perawat yang ada di ruang informasi serta administrasi melihat ke arahku, mungkin mereka heran kenapa aku berkata begitu kasar.


"Kok buat gue? Buat lu dong cocoknya, karena orang yang suka menggantungkan hubungan juga membuat anak orang berharap lebih itu bagusnya di situ!"


"Eh, kalo gue gak menggantungkan hubungan seperti itu. Bahkan lu bisa saja berada di bagian paling bawah neraka yang bahkan wangi surga aja gak dapat lu cium! Karena kenapa? Karena lu akan melakukan bermacam cara untuk merebut dia termasuk mungkin menyerahkan tubuh lu itu ke dia!" hinaku yang merasa puas. Aku menyeringai setelah mengatakan hal-hal sadis itu.


Tak lama, panggilan terputus. Aku menatap remeh ke nomor itu, 'Sudah? Cuma mampu segitu doang lu?' batinku.


"Jaga bahasamu sebagai seorang muslimah apalagi memakai kerudung," kata seseorang menasehatiku.


Aku langsung melihat ke samping kiri, tempat di mana orang itu berada, "Ya!" jawabku dingin dan pergi meninggalkannya.


Dia tak tahu apa masalahnya, ini bukan waktu yang tepat untuk manasehatiku. Aku bukan manusia bebal atau keras kepala, hanya saja kalau dilembutin manusia seperti Diva itu tak akan ada untungnya.


Kuhempaskan tas ke meja dan duduk, memegang kepala dengan tangan bertumpu pada meja. Pusing! Ntahlah, aku sangat pusing.


"Kalau ada masalah itu, curhat ke manusia atau ke Allah. Jangan di pendam sendiri, kamu gak akan bisa melaluinya," ujar seseorang lagi dan membuat aku mendongak.


"Hmm," dehemku melihat ke arah lain.


"Ini jadwal hari ini, langsung datang ke ruangan saya aja."


Aku mengambil jadwal yang dia berikan, deretan jadwal bukan hanya miliknya, punyaku pun sama.


"Setau aku, dulu kamu bukan orang yang sekeras ini, deh." Aku yang tengah menatap selembar kertas jadwal mengalihkan pandangan menjadi ke arahnya.


"Sama aja."

__ADS_1


"Enggak, kamu dulu anak yang sangat baik Ca. Bahkan, dulu gak tahan sama hujan. Kamu pernah pingsan dulu, sekarang? Kamu malah lebih kuat daripada saya."


"Dulu sama sekarang itu beda."


"Dan, apakah orangnya juga beda? Kepribadiannya menjadi minus?"


Aku bangkit, menatap dirinya dengan lekat. Entah mengapa, aku merasa bahwa dia baru saja tengah menghinaku, "Gue saranin, kalo Anda tidak tau permasalahannya jangan ikut campur dan men-judge saya semau Anda dokter Aldy," ucapku menekan kalimat terakhir berupa namanya.


Kutinggalkan dia sendiri di ruangaku dan memilih pergi ke ruangannya itu.


"Kamu kenapa Ca? Ceritalah samaku, apa kau tak tau aku sangat ingin tau apa masalahmu itu?" gumam Aldy yang sudah tidak ada Caca di ruangan ini.


'Apakah aku sehina itu? Sehingga dikatakan minus? Aku capek jika harus selalu mengalah pun jika aku mengalah tak ada seorang yang mau membela. Jika aku terus diam, dia akan seenaknya saja menginjak-nginjakku,' batinku sambil menghapus cepat jejak air mata.


'Apakah aku sangat melukai hati Caca?' batin Aldy yang melihat Caca tengah menyapu pipinya dari belakang.


Aku berhenti, menunggu Aldy sampai lebih dulu. Bagaimana pun tak sopan rasanya jika masuk ke ruangan orang lain, aku 'kan hanya pendamping. Kualihkan wajah ketika dia telah berada di sampingku.


"Kenapa gak masuk Ca?" tanyanya.


"Duluan. Ini 'kan ruanganmu bukan ruanganku," jawabku tetap dengan posisi tak melihat ke arahnya.


Pintu terbuka, Aldy masuk lebih dulu dan kususul.


"Ca, bagaimana mungkin suatu misi akan tercapai jika timnya bermusuhan atau berbeda misi? Satu ingin cepat keluar dan satu ingin cepat sembuh?"


Aku menatap sekilas ke arahnya yang tengah membuka gorden, sedangkan aku berdiri tak jauh dari pintu.


"Duduklah Ca, pintu itu tak akan hilang atau dicuri," ucapnya terkekeh mungkin mencoba mencairkan suasana.


"Ca? Maafkan aku," sambungnya lagi dan berdiri di dekat gorden.

__ADS_1


__ADS_2