Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Jadi, Untuk Apa?


__ADS_3

Suara ketukan membangunkan Caca dari tidurnya, ia lihat jam yang terpasang, "Jam 11 malam, siapa yang datang?"


Aku segera memakai kerudung instan, untungnya aku memang terbiasa menggunakan piyama dengan tangan juga kaki panjang.


"Nih, obatin!" seru orang yang ada di depannya sambil menyerahkan jari telunjuknya.


"Ha?" tanyaku yang merasa bahwa ini masih di alam mimpi kah? Kukucek mata beberapa kali. Namun, tetap saja tak ada bedanya.


"Kenapa? Apa matamu sakit?"


"Om? Ini lu?"


"Ck, apa kau punya Om lagi selain aku?" tanyanya berdecak pinggang.


"Ngapain ke sini?"


"Bukankah aku sudah bilang, kalau jariku terluka dan butuh diobati?"


"Ha?"


"Udah, sana! Ambil obat, ha-ha-ha mulu!"


Meskipun dengan perasaan yang campur aduk dan bingung, aku tetap menurutinya. Mengambil kotak obat di bawah meja televisi yang jarang kuhidupkan.


Kubuka plester dan menempelkannya di jari yang luka tadi, "Oke, selamat tidur Baby," kata Riki mengusap kepala Caca sebentar dan masuk ke kamar yang ada di depan kamar Caca.


Kamar yang dulu sempat ia tempati juga, "Ha? Gue mimpi atau gimana, sih?" Kutampar pipi agar meyakinkan bahwa ini bukan mimpi, "Aw ... sakit," kataku mengusap pipi.


Kembali ke kamar setelah menguncinya, dengan langkah kaki yang gundah dan bingung. Namun, tak kuperdulikan karena besok harus kerja kembali.


Sinar mulai mengusik tidurku, aku sedikit mengucek mata agar menstabilkan diri. Tak lupa meminum air putih terlebih dahulu dan membuka gorden.


Melangkah ke balkon dan menatap langit biru Amerika, "Maa Syaa Allah," gumamku melihat indahnya ciptaan Tuhan.


Setelah selesai dengan memuji dan bersyukur, kulangkahkan kaki menuju kamar mandi tak lupa membawa baju ganti.


Selesai. Aku sedikit memutar melihat penampilanku yang lebih rapi dari kemarin. Wajar, hari ini ada jadwal ke salah satu tentara AL yang ada di kota ini.


Jangan ajak aku untuk berpikir tentang badang sispeck, otot kekar, juga wajah tampan mereka. Bisa-bisa, tak fokus diri ini nanti bekerja.


"Ciee ... yang mau ketemu sama para tentara. Rapi amat, mana wanginya mungkin akan sampai ke lantai lima di gedung ini," sindir Riki yang ada di ambang pintu dengan bersandar pada dinding.


"Eh, ternyata bukan mimpi?" tanyaku dan menutup pintu kembali.


"Mimpi-mimpi. Sebegitu rindunya, sampe aku aja masuk ke mimpi kamu?"


"Enggak, sih, cuma aneh aja. Bukannya seharusnya calon pengantin itu di pingit?"


"Seenggak berharap itukah kamu dipersatukan denganku?"

__ADS_1


"Gak gitu sih Om."


"Lalu?"


"Eh, Om mau ke mana?" tanyaku menaikkan alis melihat dia yang juga ikut ke lift dengan pakaian yang lagi-lagi serba hitam kali ini menggunakan topi.


"Suka saya dong, kok nanya?"


"Eh, sejak kapan Om suka pake topi?"


"Sejak saya menyadari bahwa menggunakan topi saya jauh lebih tampan."


"Ck, gaje beut dah ni orang!"


"Udah lama nunggu Kak?" tanyaku melihat Aldy yang lagi-lagi menunggu di ambang pintu utama. Dia menatap ke arahku juga ke samping di mana itu posisi Riki.


"Pantasan sopirnya gak ada, ternyata tuannya yang ada," kata Aldy menatap ke arah Riki.


"Kau berkata padaku?" tanya Riki yang seolah tak merasa tengah jadi pembicaraan.


"Bukan. Lupakan."


"Om mau ikut?" tanya Caca mendongak.


"Ingin. Tapi, saya ada kerjaa. Kau ikutlah dengan dia, nanti pulang akan saya jemput." Riki berjalan lebih dulu kala sopirnya baru saja sampai.


"Lah, dia tau dari mana tempat tugasku?" tanya Caca menaikkan alisnya.


Aku yang baru tahu akan hal itu langsung membulatkan mata dan menutup mulut, "Ha? Gila banget ternyata Om Riki! Temannya ada di mana-mana, pantasan aja banyak beut cewek yang deket sama dia," gumamku sendiri sedangkan Aldy hampir sampai ke mobil.


Dengan cepat aku berlari masuk ke dalam mobil mengikuti Aldy, dia telah duduk di bangku pengemudi sedangkan aku di sampingnya.


Tak ada yang membuka suara sampai kami tiba di tempat kerja, aku terkejut kala melihat ada sambutan dibuat oleh dari pihak Tentara.


Kami berfoto terlebih dahulu, saling berkenalan dan bercerita. Suntik di lakukan di tempat terbuka. Namun, tetap menggunakan tenda.


"Dokter, apakah dia calon suamimu?" tanya salah satu tentara yang duduk di sampingku.


Aku yang tak siap dengan pertanyaannya langsung terbatuk, kulihat Aldy sebentar dirinya melirik ke arahku tapi tetap fokus pada tentara yang lain.


"Bukan, hanya rekan kerja saja."


"Apakah kau sudah punya pacar?"


"Belum, aku belum kepikiran sampai ke sana."


"Kenapa?"


"Karena aku belum siap buat nikah."

__ADS_1


"Haha, kau lucu dokter. Apakah pacaran harus saat sudah siap nikah?"


"Lantas, kalau bukan nikah tujuan pacaran. Jadi, apa?" tanya Caca yang membuat bungkam tentara di sampingnya.


"Jangan bermain hati dan sesuatu yang tak seharusnya dipermainkan. Jangan merasa bangga ketika kau sudah berhasil merebut sesuatu yang seharusnya tak harus kau rebut," sambungku menasehati tentara disampingku ini.


"Sudah, siap. Silahkan selanjutnya."


Hanya selesai beberapa orang saja, aku dan Aldy harus makan siang dan juga menunaikan kewajiban lebih dulu.


Kami berjalan agak jauh dari kantor tentara ini, berdua. Ya, hanya berjalan berdua. Sebelum berjalan ke Masjid terdekat, ketua tentara telah memberi tahu bahwa mereka akan menyiapkan makanan.


Aku pun telah memberi tahu makanan apa yang bagus dimakan untuk mereka yang baru dapat suntikan.


"Kau tau Ca? Aku tak paham kenapa bisa kau bertahan selama ini di negara yang menurutku menyeramkan ini."


"Kenapa menyeramkan?" tanyaku menatap orang yang ada di samping.


"Kau liat wanita yang berjalan tergesa di sebrang jalan." Aku langsung melihat ke arah yang dimaksud.


"Dia tengah mengelak dari orang yang mengejarnya."


"Lantas, kenapa gak kita bantu Kak?"


"Di ujung sana 'kan kantor tentara. Juga ada pengamanan, pastinya dia akan baik-baik saja."


"Apa kau yakin?"


"Dan jika kita terlalu ikut campur dengan urusan mereka, kita bisa akan terikut dalam masalah yang ada padahal kita tak tau siapa yang salah dan benar."


"Tapi, Ca tak pernah mendapatkan perlakuan yang buruk."


"Semoga tidak akan."


Aku masuk juga Aldy ke dalam Masjid, kami berpisah karena ruang wudhu dan shalat yang memang berbeda.


Selesai 20 menit karena memperbaiki kerudung, aku keluar. Ternyata, sudah ada dua tentara lengkap senjata juga Aldy yang sudah menunggu di sana.


"Kenapa kalian menyusul?"


"Ada orang jahat sekitaran kalian. Apakah kalian pernah berbuat jahat?" tanya mereka dengan wajah cemas.


"Ha?" tanyaku kaget dan membuat diri ini seketika takut.


"Ternyata yang kita liat tadi, mereka ingin menjebak kita. Mereka ingin menembak ke arah kita, mereka tengah berpura-pura."


"Dari mana mereka tau?"


"Tadi salah satu penjaga kantor mendapati mereka mengarahkan pistol ke kamu," jelas Aldy yang membuatku menutup mulut seketika.

__ADS_1


"Tapi, apa salahku?"


__ADS_2