Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Dia Bisa?


__ADS_3

Hap ...!


Riki memegang tangan Caca, wanita itu sontak menatap ke arah Riki dengan wajah yang keheranan.


"Rame Cil! Ntar lu hilang, gimana? Mangkanya jangan pendek, setidaknya kalo pendek itu pake hels kayak mereka-mereka."


"Dih, mereka udah tante-tante, ya, wajar kalo pake gituan. Buat apa juga Caca pake gituan."


Riki menepuk jidatnya, "Apa kau pikir yang pakai hels hanya mereka yang sudah berumur dewasa? Kau juga sudah dewasa Cil, umurmu udah kepala dua."


"Udah, ah, Om berisik. Caca lagi PMS, jangan sampai mood Caca buat makan jadi hilang!" peringat Caca dan membiarkan tangannya di genggam Riki.


'Ternyata dia lagi datang tamu bulanan, gawat nih mana tadi pake acara ada tantangan yang konyol itu lagi!' batin Riki merutuki dirinya.


Mereka mendapatkan tempat makanan yang tak terlalu ramai, Caca melepaskan tangan Riki bahkan sebelum mereka sampai di tempat makan.


Caca duduk di bangku tepat depan Riki, bukannya di samping laki-laki itu. Dia lebih dulu memesan makan, "Air putihnya satu," kata Riki sambil ngobrol dengan seseorang yang ada di telepon.


Menunggu 10 menit, ice cream dan air putih yang diminta Riki akhirnya datang. Caca memakan ice cream dengan rasa gembira.


Setidaknya, mood ia kembali membaik. Riki yang masih fokus menelpon menatap ke arah Caca, "Udah gede, makan ice cream jangan belepotan," katanya sambil mengelap bibir Caca yang terkena cokelat tapi tetap handphone di telinga.


Caca mengerjap-ngerjapkan matanya melihat hal yang dilakukan Riki, ia mengambil air mineral yang bukan diletakkan pada gelas melainkan botol yang bersegel.


"Susah banget, dah!" gerutu Caca pelan agar tak terdengar Riki.


Satu tangan terulur mengambil botol dan membukanya, Caca lagi-lagi menatap laki-laki yang masih asyik ngobrol sepertinya tengah membahas kerjaan.


"Makanannya sudah sampai?" tanya Riki memasukan handphone dan menatap Caca yang sedang minum.


Caca memberikan gelengan sebagai jawaban, "Bukannya orang PMS gak boleh makan ice cream, ya?" tanya Riki dengan nada di pelankan dalam penyebutan PMS itu.


"Boleh kok Om, dia gak akan ber-efek ke mana-mana. Mereka yang bilang bahwa orang yang sedang PMS gak boleh minum ice cream itu hoax."


"Oh, aku kira itu emang bener."


"Enggak, kok."

__ADS_1


Mereka saling diam dengan mata yang melihat-lihat ke arah lain, "Cantik, ya, Om cewek tadi? Sampe senyumnya lengket beut gak mau lepas," sindir Caca yang membuat wajah Riki memerah bukan karena bullshing tapi takut.


"Hehe, itu 'kan kita yang main tantangan tadi Ca."


"Oh, gitu ...." Kepala Caca mengangguk, "Tapi, cantik 'kan?" tanya Caca menaikkan alisnya.


"Enggak, tetap cantikan kamu sih."


"Heleh!" sentak Caca memalingkan wajah.


"Kamu gak percaya?"


"Gaklah!"


"Sama, saya juga."


"Om ...!" geram Caca yang dengan cepat mencubit tangan Riki yang berada di atas meja.


Bukannya marah, Riki malah tertawa melihat Caca yang menyalurkan emosinya. Setelah merasa puas dengan memukul dan mencubit tangan Riki. Riki melihat tangannya.


"Aw ... sampe merah gini, lho, Ca," kata Riki dengan mata yang berkaca-kaca. Caca yang merasa puas meluapkan emosi langsung memainkan handphone-nya.


"Gak usah, saya tau kok kamu emang marah sama saya. Tapi, jangan lukai begini, dong. Sakit, tau," kata Riki dengan mempertahankan wajah sedihnya.


Caca yang merasa bersalah segera pindah tempat duduk ke samping Riki, ia mengambil tangan yang sebesar kedua tangannya.


Mengambil dompet dan mencari plester, Caca memang selalu membawa benda kecil itu ke mana saja.


Ditiup Caca terlebih dahulu punggung putih yang terlihat urat-uratnya tersebut, "Maafin Caca, ya, Om," ujar Caca sambil menempelkan plester.


"Iya, gak papa kok," kata Riki dingin. Tidak, sama sekali tidak sakit. Namun, Riki hanya ingin mengerjai wanita itu saja tak lebih.


Caca menatap nanar Riki, matanya sudah berembun, "Hay, kau kenapa Cil?" tanya Riki.


"Om marah sama Caca, ya? Caca jahat sama Om, ya? Hiks ... Ca-caca, gak sengaja Om."


"Iya-iya, aku tau kau tak sengaja Cil. Sekarang diamlah, oke," kata Riki lembut dan mengusap air mata yang jatuh.

__ADS_1


Makanan Caca dan Riki akhirnya datang, sangat lama! Mungkin, karena memang waktunya makan atau emang akibat restorannya yang ramai?


Suara music terdengar, Caca yang sekarang duduk di samping Riki mencari-cari suaranya. Ternyata live music ada di restoran yang tengah mereka datangi kini.


"Om," rengek Caca menatap Riki yang sedang asyik makan.


"Aku tak tau, aku tak dengar sesuatu apa pun," kata Riki sudah paham dengan maksud Caca. Wanita itu tertawa dan mendorong bahu Riki.


"Ayo, dong Om," rengek Caca kembali sambil menggoyangkan lengan kekar milik Riki.


"Tapi, aku lagi tak minat nyanyi Ca."


"Yaudah, main alat musik aja. Gimana?" tanya Caca mengerjap-ngerjapkan matanya.


Riki yang menggunakan kemerja hitam sedikit terbuka bagian atas, celana hitam dan sepatu putih itu berdiri. Sebelum meninggalkan Caca dirinya berpesan, "Jangan ke mana-mana," bisiknya dan melangkah berjalan ke atas panggung mini.


Mata Caca membulat, bukan karena bisikan Riki. Namun, karena permintaannya, "Ha? Om Riki bisa main alat musik?"


Riki berbicara terlebih dulu dengan yang punya band, setelah beberapa detik. Akhirnya live music pun dimulai dengan penyanyi yang men-tes micnya.


Caca memasukkan makanannya masih tak percaya, "Om Riki bisa main drum band? Wahh ... daebak!" seru Caca menutup mulut.


Memegang dua tongkat stik dan mulai menyalakan alat yang sekarang lebih canggih karena bisa pakai listrik.



Musik dimulai, semua pengunjung menatap ke arah mereka. Tentunya bukan karena band tersebut tapi karena ada Riki, "Orang-orang pasti natap ke panggung bukan karena gak sabar denger penyanyinya, tapi, karena ada Om Riki. Dih, dasar! Aku yakin itu, orang di situ cuma Om Riki doang yang tampan," kesal Caca. Dia mencoba mengingat apa yang dia bicarakan hingga akhirnya menutup mulut.


"Heh, Ca! Lu gelo apa? Kenapa malah muji tuh orang tuir?" tanya Caca memukul pelan bibirnya.


Caca tak mengetahui judul lagunya, dia memang tak menyukai musik rock, dangdut atau Inggris. Dia hanya menyukai musik genre pop saja.


"Daebak ternyata Om Riki bukan cuma pinter aja, tapi pinter banget! " teriak Caca melihat Riki dengan fokus dan serius memainkan drum band hingga rambutnya menjadi penarik pesona bagi kaum hawa yang ada.


Riki yang mendengar teriakan wanitanya menatap ke wanita itu dengan tersenyum hingga akhirnya kembali fokus bermain dengan stiknya.


Tentu saja, moment seperti itu diabadikan Caca. Waktu Riki nyanyi 4 tahun yang lalu juga dia abadikan. Namun, handphone-nya rusak dan tak hidup.

__ADS_1


File tertinggal semua di situ, itu akibatnya membuat dia sangat merindukan suara Riki. Karena, dirinya tak bisa mendengarkan ulang suara laki-laki itu.


__ADS_2