Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Terungkap


__ADS_3

Flashback On


Setelah pertengkaran dengan Milda juga Mama Riki. Saat itu Caca dan Riki benar-benar tak diberi izin untuk bertemu.


Caca bahkan disuruh untuk memutus komunikasi dengan Riki dan tentunya paksaan oleh Milda. Caca yang merasa bosen di rumah akhirnya memilih untuk mencari lowongan pekerjaan.


Disaat yang bersamaan, Aldy memberi informasi bahwa di rumah sakitnya menerima perawat spesialis dalam.


"Kamu mau ke mana?" tanya Milda siang itu saat Caca ingin interview di rumah sakit tempat Aldy.


"Mau interview kerjaan Bunda," kata Caca sambil memegang map cokelat.


"Yaudah, Bunda temenin."


Ke mana saja, Milda selalu menemani Caca termasuk saat interview kerjaan. Dirinya juga masih sering men-cek tokonya.


Tetap dengan membawa Caca ke mana saja, Caca tak pernah diberi izin untuk menolak. Karena ketika dirinya menolak maka Milda akan mengancam langsung menjodohkan Caca


Setelah keterima di rumah sakit yang sama, Milda tetap mengantar dan menjemput Caca setiap harinya.


"Dia kenapa?" tanya Caca melihat salah satu pasien yang terbaring dengan mata yang tertutup di brankar.


"Gak tau Dokter, sepertinya pendarahan," jelas perawat yang memegang sisi brankar.


"Ha?" tanya Caca terkejut. Dirinya langsung melihat ke arah pasien, "Diva?" Ia langsung menjauh dari brankar dan menutup mulut.


"Kami permisi dulu, Dokter." Perawat akhirnya kembali menjalankan brankarnya ke spesialis kandungan.


Sedangkan di sisi lain, Riki menjadi lebih kejam dari biasanya. Dia sudah sering kali ingin bertemu dengan Caca dan membujuk Milda.


Ternyata, ancaman demi ancaman yang dia terima hingga membuat dia akhirnya memilih untuk tak bertemu daripada mengikhlaskan.


"Pak, dia ada di rumah sakit," kata Farhan yang masuk begitu saja.


"Apa kau tak punya sopan? Kenapa tak mengetuk lebih dulu?" tanya Riki dengan tatapan dinginnya.


'Dih, padahal dulu juga boleh-boleh aja!' batin Farhan yang memilih keluar lagi.


Tok ...!


Tok ...!


Ketuknya kembali, "Pak, saya boleh masuk?" tanya Farhan yang masih berada di luar.


"Hmm."

__ADS_1


Dirinya kembali masuk ke dalam, "Dia ada di rumah sakit, Pak."


"Siapa?"


"Diva."


"Terus? Apa hubungannya denganku?"


"Dia pendarahan, sebaiknya Bapak ke sana dan bawa Nyonya agar Nyonya tau kalo wanita itu sedang mengandung," saran Farhan yang membuat Riki berpikir terlebih dahulu.


"Siapkan mobil!" titah Riki dan memakai jas hitamnya.


Farhan langsung berlari kecil ke arah mobil, sedangkan Riki berjalan dengan langkah tegapnya.


Riki dan Mamanya juga Farhan kini telah sampai di loby rumah sakit. Riki tak tahu jika sekarang Caca sudah bekerja karena memang komunikasi mereka terputus juga Riki yang sudah menyuruh untuk mata-matanya berhenti mengikuti Caca.


"Mbak, maaf numpang tanya," kata Farhan kepada salah satu perawat.


"Iya, ada apa?" tanya perawat yang berhenti.


"Ruang spesialis kandungan di mana?" tanya Farhan kembali.


Mama Riki yang tak paham tujuan mereka ke sini langsung mengerutkan kening, "Buat apa spesialis kandungan? Mama gak hamil, kok," terangnya menatap ke arah Riki.


"Mama tenang aja dulu."


Deg ...!


Riki, Mama dan juga Farhan kaget saat perawat tersebut mengucapkan nama Caca.


"D-dokter Caca?" tanya Mama Riki dengan terbata-bata.


"Iya, Buk. Dokter muda yang pernah bekerja di rumah sakit ternama di Amerika," ungkapnya, "nah, itu dia dokter Caca." Perawat menunjuk ke arah Caca yang baru saja keluar dari ruangannya.


Sontak semua orang menatap ke arah Caca dan yang di tatap kaget saat melihat orang yang kini ada di hadapannya.


"Caca," gumam Riki yang melihat Caca akhirnya masuk ke ruangan spesialis kandungan. Dirinya bahkan tak tersenyum atau menyapa ke Riki dan lainnya.


"Dih, baru juga jadi dokter udah sombong banget. Gimana kalo jadi Presiden, nanti?" cibir Mama Riki yang kesal melihat Caca.


"Kalau begitu, saya permisi, ya. Mari," pamit perawat dan pergi dari hadapan mereka.


Mereka bertiga berjalan ke arah yang sudah ditunjukkan, salah satu perawat yang menangani keluar dari dalam.


"Maaf, siapa, ya?" tanya perawat yang kaget tiba-tiba sudah ada saja mereka.

__ADS_1


"Apa di dalam ada Diva?" tanya Farhan.


Perawat menautkan alisnya, dirinya pun belum tahu siapa nama pasien di dalam karena pasien dibawa oleh sopir taksi.


Kata sopir taksi, wanita itu terpeleset di salah satu restoran saat dia hendak makan. Mereka tak tahu jika Diva sedang hamil hingga akhirnya darah mengalih ke kakinya yang memang terlihat.


"Iya," jawab Caca singkat dan membuka sebelah lagi pintu yang masih tertutup.


Perawat yang ada di ambang pintu langsung melihat ke arah Caca, "Diva siapa dokter?"


"Nama pasien di dalam."


Perawat hanya mengangguk, "Silahkan masuk jika ingin melihat keadaan pasien," katanya mempersilahkan.


Ketika Mama Riki langsung berlari masuk ke dalam, Caca memilih keluar dari situ. Sebuah tangan mencekal pergelangannya.


"Anda bisa terkena kasus pelecehan Tuan! Turunkan tangan Anda!" tegas Caca dengan badan yang tak berbalik melihat ke arah orang itu.


"Ca ...."


"Sebaiknya Anda urus calon istri Anda itu, jaga anak kalian baik-baik. Beberapa hari lagi kalian juga akan menikah. Permisi!" Caca pergi begitu saja tanpa mendengarkan ucapan Riki.


Riki menatap punggung yang menggunakan jas putih tersebut semakin menjauh, ia hanya membuang napas kasar.


Tak mungkin saat ini dirinya menjelaskan semuanya, biarlah nanti pada akhirnya terungkap segalanya.


"Apa, dia hamil?" tanya Mama Riki kaget mendengar penuturan dokter.


"Benar, Buk. Wanita ini hamil, saya harap Ibu jaga kandungan menantu Ibu ini dan jangan sampai terjadi lagi benturan atau jatuh. Beruntungnya anak di dalam janin wanita ini baik-baik saja. Dia hanya perlu istirahat yang cukup panjang," jelas dokter yang merawat Diva.


"Dokter gak bercanda 'kan?" tanya Mama Riki yang masih belum percaya.


"Kalau Ibu tidak yakin saya akan berikan surat keterangan dan Ibu bisa bawa surat keterangan juga wanita ini untuk USG ke rumah sakit lain." Dokter tersebut akhirnya memberikan amplop warna putih kepada Mama Riki, "kalau begitu, saya permisi!"


Riki kembali bergabung dengan Mamanya, "Riki, apa kau yang telah membuat Diva hamil?" tanya Mama dengan marah.


"Tidak Ma. Dia hamil dengan laki-laki lain, aku sudah pernah ingin menjelaskan hal ini. Namun, Mama tetap kekeh dengan keputusan Mama sendiri!"


Mama Riki mengepal tangannya, ia menatap wanita yang masih tertutup matanya dengan kebencian.


"Maafkan Mama Riki, Mama hampir kemakan sama rayuan dia," ucap Mama Riki dengan wajah sendu.


"Gak papa Ma, setidaknya semua belum terlambat."


"Yaudah kalau gitu, kita pulang aja. Biarkan aja dia sendirian di sini," kata Mama Riki dan meninggalkan ruangan Diva.

__ADS_1


Flashback Off


__ADS_2