
Tepat pukul 6:30 Caca keluar dari apartemen dan menunggu Riki di depan pintu, ia tak mau mengetuk pintu laki-laki itu.
Bisa jadi dirinya tengah bersiap atau apa saja. Jadi, lebih baik menunggunya saja paling bentar lagi dirinya akan muncul.
Benar saja, orang yang ditunggu telah keluar dari kamarnya tak lama supir pun muncul dan meraih koper Riki.
Caca menatap koper-koper yang ada, "Kenapa?" tanya Riki yang bingung dengan tatapan Caca.
"Banyak banget barang bawaan Om," kata Caca dan mulai melangkah meninggalkan apartemen dirinya dan bekas Riki.
"Iya, hadiah semua."
"Buat siapa?"
"Buat Bunda, Mama dan karyawan di toko."
Mendengar sebutan 'Bunda' Caca langsung berhenti dan memukul keningnya, "Oh, iya! Caca lupa buat belikan hadiah untuk Bunda," kata Caca yang sama sekali tak ingat untuk kemarin malam pergi membeli hadiah.
"Tak apa, nanti akan kuberi dua kado buat Bunda dan bilang bahwa satu untukmu," ucap Riki dan menatap Caca.
"Hmm," jawab Caca lemah. Dirinya terlalu sibuk belajar tadi malam, padahal bisa saja ia belikan hadiah ke mall dulu.
Namun, waktu sudah tak dapat diputar kembali. Riki pun sudah harus ke bandara karena keberangkatannya akan segera jalan.
Setelah selesai transaksi masalah apartemen, Riki dan Caca duduk di bangku belakang mobil. Caca tampak seperti biasanya, menikmati jalanan dengan melihat gedung juga orang-orang yang sedang berjalan dan berolahraga.
Sedangkan di lain sisi, Riki sibuk mencari sesuatu di saku celana, jas, dan tempat-tempat lainnya sehingga sedikit mengusik dan menarik perhatian Caca.
"Om, cari apa?" tanya Caca menatap Riki yang masih fokus mencari sesuatu itu.
Bukannya menjawab pertanyaan Caca, Riki menatap ke depan seolah sedang mencoba mengingat sesuatu.
Setelahnya, ia segera mengambil handphone dan menchat seseorang sedangkan Caca hanya menatap dengan kebingungan.
[Apakah boleh kau melihat kamar apartemenku tadi? Jangan dulu kasih orang masuk, aku ketinggalan sesuatu] pesan Riki untuk penjaga apartemen yang memang dirinya minta sebelumnya.
[Baik, Pak. Apa yang akan kucari di kamarmu?] tanyanya yang beruntung dengan cepat membalas pesan Riki.
__ADS_1
[Kau masuk dan lihat laci di bawah televisi, di dalamnya apakah ada paper bag dan sebuah kotak cincin]
[Baik, aku akan menceknya. Tunggu sebentar] balasan yang tak cukup membuat Riki tenang.
Ia menyenderkan kepalanya di kursi, sungguh tak terbayangkan jika sampai barang itu sampai hilang atau tercecer.
"Kenapa sih Om?" tanya Caca yang masih kebingungan dan melihat Riki.
"Ada sesuatu yang tinggal."
"Jadi, kita balik lagi?"
"Tidak. Karena waktu sudah tak banyak, jika balik lagi sudah tentu aku akan terlambat."
"Iya, juga sih," kata Caca yang bingung, "emangnya apa yang tinggal?" tanya Caca yang lupa menanyakan hal yang sepertinya sangat penting itu.
"Sesuatu," jawab Riki malas. Bunyi notifikasi langsung membuatnya tegap kembali, ia segera melihat isi pesan yang ada.
[Apakah ini?] tanya petugas apartemen sambil mengirimkan gambar ke nomor Riki.
Senyum langsung terbit di bibir Riki kala melihat apa yang dia cari ternyata ada, [Iya, itu. Tolong simpan. Oh, tidak. Tolong tuliskan kata-kata ini di dalam paper bagnya dan kasih untuk wanita ini nantinya] perintah Riki dan menuliskan kata-kata yang dia inginkan.
'Padahal, mikirin konsepnya udah jauh hari. Kenapa selalu ada saja halangan? Apakah itu pertanda bahwa memang aku bukan jodoh dan takdir Caca?' sambung Riki yang sudah mulai berpikiran tidak-tidak.
Ia langsung menatap ke arah luar jendela dengan semangat yang sudah tak dimiliki, tiba-tiba semangatnya habis begitu saja melihat hal yang penting tak jadi terlaksanakan.
"Om, kenapa? Lapar, ya?" tanya Caca yang melihat Riki seperti tak berdaya. Riki yang menyandarkan badannya ke kursi langsung menatap ke arah Caca.
Caca membuka tas yang dibawanya, ia mengeluarkan bekal, "Nih, makan Om," kata Caca menyuapkan roti yang berselai cokelat.
Riki tak menolak sama sekali suapan dari Caca, ia membuka mulutnya dan menerima roti yang kebetulan dirinya pun belum makan.
Caca juga ikut makan roti yang sama sambil sesekali menatap ke luar jendela, 3 potong roti habis dimakan mereka secara bersamaan.
Ia mengembalikan tempat bekal dan mengambil minum, Caca mencoba membuka botol minum yang masih tersegel.
"Kalo gak bisa tuh bilang," kata Riki dan mengambil botol dan membukanya. Setelah botol terbuka, "nih, minum."
__ADS_1
"Om aja duluan," suruh Caca. Riki pun hanya menuruti, ia meminum air yang ada di botol dengan tak mengenakan bibirnya di dekat botol.
Caca mengambil uluran botol minum dari Riki dan meminumnya, "Nih, buat Om kalau lagi gabut nanti di dalam pesawat," ujar Caca memberikan box kecil yang berisi brownis.
"Siapa yang buat?" tanya Riki tak percaya dengan apa yang diberikan Caca.
"Caca dong!" jelas Caca dengan pede.
"Sejak kapan bisa buat beginian? Dulu aja buatnya selalu gosong," kekeh Riki mengingat kejadian saat ia menemani Caca tengah belajar membuat brownies juga.
Dengan gaya seperti chef yang seolah sudah profesional, Caca menimbang segala keperluan dan merasa sudah sesuai dengan resep yang ada.
Namun, ternyata Caca terlalu lama dalam memasukkan brownies ke oven. Jadilah browniesnya gosong akibat kelalaian itu.
"Dih, Om! Itu kejadian udah lama, semua orang juga bisa menjadi apa pun itu kalo dia mau berusaha dan belajar," ketus Caca dan memajukan bibirnya.
"Ca, aku mau bertanya sama kamu," ucap Riki dengan wajah serius.
"Iya, apa Om?" tanya Caca menatap wajah Riki dengan fokus.
Sedangkan yang di tatap malah melihat ke arah yang lain, "Kita sudah sampai di bandara?" tanya Riki dan membuat Caca melihat sekitar.
Benar saja, mereka telah sampai di bandara. Caca langsung mendatarkan wajahnya dan melihat sinis ke arah Riki, "Kenapa?" tanya Riki dengan sedikit terkekeh.
"Nyebelin!" ketus Caca dan keluar dari mobil lebih dulu.
Ah wanita itu, membuatku jadi sangat malas untuk pulang. Namun, ada wanita yang lebih harus aku perhatikan.
Biarlah dia fokus dulu ke keinginannya dan aku akan fokus dengan keinginan juga apa yang akan kuwujudkan.
Riki turun dan segera berada di sebelah Caca, dua koper dibawa oleh sopir dan satunya lagi dibawa Riki.
Ketika sudah mendapati ada dorongan koper, Riki langsung menyuruh sopir untuk menaruhkan ke situ saja dan ia yang membawa barang ke tempatnya.
Sedangkan sopir disuruh menunggu Caca di dalam mobil, "Om!" panggil Caca mendongak.
"Ya?" tanya Riki melihat ke arah Caca.
__ADS_1
"Doain Caca semoga segera pulang, ya," kata Caca dengan manik miliknya yang sudah berembun namun bibir dipaksa tersenyum.