
Sedangkan teman laki-laki Riki itu hanya tersenyum melihat situasi sekarang, "Apakah kita jadi latihan?" tanyanya tersenyum.
"Mengapa kau tersenyum?" tanya Riki dengan menatap dingin ke arah temannya itu.
"Aku pikir kau mau nostalgia dulu," jawabnya menutup mulut.
"Diam atau nyawamu melayang?"
Teman Riki mengangkat tangannya dengan senyuman yang tak kunjung hilang, "Santai dong, Bro."
Caca hanya diam, dirinya tak tahu apa yang harus diperbuat. Tali tas selempang di tarik ke arah tempat duduk penonton.
"Tetap di sini," ucap Riki menunjuk ke arah bangku yang kosong.
Wanita tadi ikut juga ke tempat duduk penonton, "Jangan dekat dengan wanitaku dan menyentuhnya, sempat tangan kotormu itu menyentuh dia--," ucap Riki melirik ke samping tempat wanita itu berada. Dirinya mengeluarkan senjata api dari saku celana, "peluru yang ada di dalam ini langsung masuk ke dalam kepalamu!"
Menutup mulut dan menatap dengan heran ke arah Riki, Caca menatap tak percaya bahwa ternyata Riki memiliki barang tersebut.
Meskipun tak guna heran, karena kenyataannya memang Amerika Serikat adalah negara yang bebas menjual-beli senjata api.
Oleh sebab itu, semenjak Riki tahu bahwa Caca tinggal di Amerika Serikat dirinya menyuruh seseorang untuk memantau Caca
Agar wanita itu baik-baik saja dan tak terjadi apa pun pada dirinya akibat ulah orang lain. Riki kembali berjalan ke arah temannya itu.
Wanita tadi duduk agak jauh dari Caca sementara Caca duduk di tempat yang telah diperintahkan oleh Riki.
Semua mata melihat ke arah dua laki-laki yang berada di tengah, Caca sebenarnya tak tahu ini tempat apa dan apa gunanya ada.
Riki memakai baju pengaman, semua penonton di suruh keluar dari ruangan dan duduk di luar ruangan namun masih bisa terlihat oleh penonton.
"Apakah dia wanita yang membuatmu bisa berubah?"
"Jangan menatapnya!" peringat Riki saat melihat temannya menatap ke arah Caca.
Caca yang tahu apa yang sedang dipakai oleh Riki merubah ekspresi menjadi panik, 'Apakah dia memang tau tembak-menembak?' batin Caca yang sudah panik mengingat resiko apa yang terjadi jika lawan main atau diri tak jago menghindari tembakan.
"Kau sangat cemburuan ternyata."
__ADS_1
"Fokuslah dan jangan melihat wanitaku, atau hari ini adalah hari kematianmu!" Riki menjauh dan mencari tempat aman.
"Dokter ... jika aku kenapa-kenapa tolong rawat aku dengan cintamu, ya!" teriaknya dengan tertawa.
Riki yang sudah agak jauh langsung menembakkan peluru ke lantai dekat dengan temannya itu, "Jangan banyak berbicara, Welson!"
Latihan pun di mulai, sebenarnya latihan tidak akan menimbulkan korban jiwa jika memang yang berlatih sudah ahlinya.
Namun jika bukan, maka seperti darah-darah yang ada di koridor tempat ini tadi. Caca hanya menutup matanya kala mendengar setiap kali suara tembakan dilepaskan.
Suara ricuh orang di sekitar Caca tak dia hiraukan, bahkan sorakan dari mereka saja tak dipedulikan Caca lagi.
Menutup telinga, menunduk dan menutup mata. Entah apa gunanya di tempat ini, hanya membuang waktu saja dan menguji diri melihat orang yang kita kenal tersakiti.
Caca melepas tangan dari telinga, menatap ke arah Riki dan juga temannya itu kemudian bangkit dari tempat duduknya.
Ia tak peduli dengan ucapan Riki yang menyuruh untuk tetap di situ, baginya melihat orang yang dikenal tersakiti sama saja seperti menyakiti diri sendiri.
Lebih baik dirinya tak melihat hal tersebut secara langsung, Caca pergi tanpa menoleh ke belakang atau peduli dengan ucapan-ucapan penonton lainnya.
Bagi mereka belajar untuk bisa mengelak dan bermain senjata api adalah suatu hal yang sebenarnya harus.
Riki menatap ke arah penonton, mencari keberadaan Caca. Ketika keberadaan wanita itu tak ditemukannya, Riki langsung melepas pengaman dan berlari.
"Hey, aku belum membuat darahmu keluar!" teriak Welson dengan raut wajah kesal.
"Ca!" teriak Riki berlari mengejar Caca yang sudah berada di pintu keluar tempat ini.
"Caca!" teriak Riki lagi yang memang sengaja tak di pedulikan Caca.
Tangan Caca di tahan Riki, Caca yang tak berjaga-jaga akhirnya langsung berputar menghadap ke arah Riki.
"Kamu kenapa?" tanya Riki dengan alis bertautan. Caca hanya menunduk dan dengan bahu yang sedikit terangkat-angkat.
Riki menaikkan wajah wanita itu, "Kamu kenapa nangis?" tanya Riki yang tak tahu sama sekali penyebab wanita itu menangis dan pergi dari tempat itu.
Caca diam, dia menatap ke arah wajah laki-laki itu terlebih dahulu. Melihat Caca yang tak kunjung membuka suara, Riki kembali melayangkan pertanyaan, "kamu kenapa, Ca?"
__ADS_1
"Aku kenapa Om tanya? Aku kenapa? Coba Om pikir gimana perasaan Om ngeliat orang yang Om kenal tengah bermain senjata yang bisa aja membuat nyawa seseorang itu melayang! Apakah Om sanggup?"
"Ca, itu hanya latihan."
"Iya, aku juga tau Om itu latihan. Tapi, latihan juga bisa berujung kematian 'kan? Kenapa gak olahraga atau bela diri yang lain?"
"Tapi, Ca. Di sini yang marak itu senjata api," jelas Riki dengan lembut dan pelan.
Entahlah, Riki sekarang sangat berubah dengan dirinya yang dulu. Ia lebih lembut dan bisa menahan sabar pada wanitanya sekarang.
Mungkin dirinya sudah belajar untuk bisa menahan diri dan mengendalikan amarahnya agar tak mudah meledak-ledak.
Caca mengangguk dan melepaskan tangan Riki dari tangannya, "Yaudah kalo gitu Om, lanjut aja latihannya. Ca mau pulang aja," kata Caca menghapus jejak air mata dan berbalik ingin meninggalkan Riki kembali.
Dengan sigap laki-laki itu langsung menahan lagi hingga membuat Caca berbalik kembali dan menabrak dada bidang milik Riki yang tertutup kaos hitam itu.
Caca langsung menjauh saat hal tersebut terjadi, "Maaf, aku tidak sengaja Ca," ucap Riki yang memang tak tahu bahwa hal tersebut akan terjadi.
Caca hanya kembali lagi berputar dan dengan segera meninggalkan Riki kembali, mau tak mau Riki pun sepertinya harus pulang juga.
Dirinya berlari mengejar Caca agar tak berjalan pulang sedangkan mobil masih ada menunggu mereka, "Ca kita naik mobil aja, ya. Biar ke mall dulu!"
Tak ada jawaban, Caca hanya masuk ke mobil. Bagaimana pun mereka memang akan ke mall untuk membeli bahan masakan.
Pasalnya mulai besok Caca akan sering memasakkan Riki makan siang, itu sebabnya mereka harus membeli bahan terlebih dahulu.
Di dalam mobil menuju mall, Caca hanya menatap ke samping. Tak sedikit pun melihat ke arah Riki.
Riki menusuk-nusuk bahu Caca menggunakan jari telunjuknya, "Apa?" tanya Caca ketus sedangkan yang di tatap tengah menampilkan wajah sok imutnya.
Bukannya imut, malah bisa membuat siapa saja tertawa melihat wajah laki-laki tersebut, "Jangan diamkan aku Ca 'kan udah berhenti ini lho latihannya. Udah ngikutin kamu dan di samping kamu."
"Terus? Apa aku minta hal itu?"
"Enggak sih, tapi apa sih yang enggak buat calon istri?"
Caca bungkam mendengar ucapan Riki tersebut, dirinya hanya menahan senyuman sedangkan Riki menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Siapa calon istrimu Om?"
"Ya, kamulah! Ca, cepatlah selesai kerja di sini agar kita pulang ke Indonesia dan akan kulamar dirimu langsung!" ucap Riki menatap lekat Caca.