Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Bukan Cincin Lamaran


__ADS_3

Pasien mulai bemasukan satu per satu, aku hanya memperiksa dan menuliskan penyakit apa yang dialami pasien agar nanti bisa menebus obat di apotek rumah sakit ini.


"Caca," panggil Aldy dan langsung kutatap dengan tangan berhenti menulis.


"Iya dokter Aldy?"


"Boleh tolong sambungkan periksa anak ini? Saya mau duduk sebentar," ujarnya dengan wajah yang pucat.


Aku mengangguk dan beralih, memeriksa juga memberi tahu apa penyakit juga menanya keluhan. Setelah selesai resep kuberikan pada orang tua pasien yang ikut menemani.


"Dokter kenapa?" tanyaku mendekat sedangkan Aldy masih menutup wajahnya seolah menyembunyikan rasa sakit yang ditahan.


"Tidak papa," jawabnya tapi tak menatapku.


Kuletakkan daftar jadwal pasien masuk dan pergi ke luar, "Obat demam, satu," kataku sudah sampai di apotek ini.


"Dokter Caca sakit?" tanya perawat penjaga apotek.


"Bukan. Dokter Aldy yang sakit."


Dia mengangguk dan memberikan obat yang kupinta, "Terima kasih." Aku berjalan ke arah kantin untuk meminta air hangat.


"Ini, minum Kak," perintahku memberikan air dan obat di meja. Dia mendongak dan menatap gelas yang berisi air itu.


"Obat apa?"


"Demam."


Saat aku ingin memberikan perhatian lebih, tanpa sengaja kembali melihat cincin di jadinya, 'Ca, jangan berlebihan! Jangan sampai membuat pernikahan orang kandas karena ulah lo! Jangan jadi pelakor!' batinku mengingatkan saat ingin memberi perhatian kepada Aldy.


Dia meminum obat sedangkan aku melihat jadwal lagi dan duduk di bangku yang tersedia di ruangan.


"Ca," panggil Aldy pelan.


"Ya?"


"Minta tolong ambilkan roti atau nasi dulu, saya lupa belum makan."


"Baik." Aku berdiri dan keluar kembali, rasanya sedikit kasian saat melihat keadaan Aldy seperti ini. Bagaimana pun, bukankah itu gara-garaku? Karena, dia menemaniku mandi hujan membuat dia jadi sakit seperti sekarang.


"Buk, ada bubur?"


"Bubur untuk pasien Dokter?"


"Bukan-bukan. Untuk Dokter Aldy."


"Tadi, air hangatnya juga?"


"Iya Buk, sepertinya dia tengah demam."


"Oh, sebentar, ya," katanya dan kuberi anggukan. Aku menunggu di ambang pintu saja, melihat bangku dan meja yang sudah berisi para perawat yang sepertinya menginap.


"Hai, Dokter Caca," sapa seseorang yang membuatku menatap.


"Hai," balasku dengan tersenyum.

__ADS_1


"Lagi sibuk, ya?"


"Lumayan. Mary gimana?"


"Kemarin dia nyari dokter karena lagi ada masalah sepertinya keluarganya."


"Dari mana dia tau?" tanyaku mengerutkan dahi.


"Karena keluarganya emang selalu berantem di depan dia."


"Ini dokter," kata penjaga kantin memberikan nampan berisi dua bubur.


"Kenapa dua Buk?" tanyaku menatap bubur yang ada.


"Satu buat dokter Aldy dan satu buat dokter Caca," katanya dengan tersenyum.


"Hehe, maaf Buk. Saya tidak suka bubur," ungkapku hati-hati agar tidak menyakiti hatinya karena merasa sudah lelah menyiapkan malah kutolak.


"Buat kamu aja," ujarku mengambil satu mangkuk bubur ke perawat yang menjaga Mary.


Dia tersenyum dan tak menolak, penjaga kantin juga tersenyum, "Kalau begitu, saya duluan ya. Mari," pamitku dan pergi menuju ruangan Aldy.


Kuketuk pintu sebelum masuk ke ruangan, setidaknya agar orang yang di dalam tahu bahwa aku ingin masuk.


"Ini, makan Kak," suruhku meletakkan nampan berisi bubur.


"Kok bubur?" tanyanya mengerutkan dahi.


"Ya, orang sakit makan buburlah. Masa; sate padang, bakso, mie ayam, pizza segala!" ketusku berjalan ke sofa kembali.


"Udah, tinggal makan aja pun!"


"Hmm ... iya-iya. Makasih, ya."


"Hmmm."


Setelahnya, kami hanya diam yang terdengar hanya dentingan sendok. Sengaja pasien kusuruh jeda dulu karena mengingat Aldy yang sepertinya sudah sangat kesakitan.


Sambil menunggu selesai makan, aku membuka gawaiku melihat-lihat postingan di medsos.


"Kamu gak makan Ca?"


"Nanti aja Kak," kataku sambil melihat ke arah dia ketika menjawab pertanyaan.


Ketika kita tengah asyik bermain handphone, tapi, ada yang mengajak berbicara. Maka, berhentilah dulu untuk menatap layar tersebut.


Tatap orang yang sedang berbicara atau jika memang dia lawan jenis dan bukan mahram maka menunduk.


Namun, jangan sampai ketika orang tengah bertanya atau berbicara dengan kita. Kitanya malah sibuk dengan benda pipih ini.


Jangan sampai melupakan adab, apalagi sampai melakukan hal itu ke orang tua. Ibu serius bertanya, kita malah sibuk ke handphone.


"Kenapa gak sekarang?"


"Udah makan roti tadi pagi."

__ADS_1


"Makan nasi, agar perutnya gak masuk angin."


"Kan udah di isi sama roti, gak akan masuk angin dong."


"Tetap aja masuk, Ca."


"Sotoy beut!" ketusku mengalihkan pandangan. Dia hanya terkekeh mendapatkan perlakuanku seperti itu, sangat menyebalkan, bukan?


"Calon istri Kakak gak dikabari kalo Kakak sakit?" tanyaku yang kepo kenapa dia tak pernah nampak tengah teleponan mesra.


"Uhuk-uhuk!" Dia tersedak. Apakah ada pertanyaanku yang salah? Aku sedikit panik tapi tetap tak ingin melangkah ke dekatnya.


Diteguknya air minum yang hangat tadi, "Kata siapa saya punya calon istri?" tanya Aldy dengan kekehan.


"Itu ...," tunjukku menggunakan mulut yang sedikit monyong ke arah jarinya. Aldy pun mengikuti ke mana arah bibirku yang sudah seperti mulut; angsa dan bebek kayaknya.


"Oh, ini?" tanyanya menunjukkan jarinya dan kuberi anggukan.


"Ini bukan cincin lamaran."


"Terus?"


"Nabrak!" jawabnya asal dan terkekeh melihat wajahnya yang sudah fokus mendengar jawaban malah dibecandain menjadi kesal.


"Ini cuma cincin biasa, dibelikan Umi waktu itu. Gak tau buat apa juga pas mau dilepas Umi marah. Katanya boleh dilepas kalo udah dapat calon istri dan kasih cincinnya ke calon istri."


"Tapi 'kan itu kek ukiran buat cowok. Masa dikasih ke calon istri, sih?"


"Ya, mana saya tau. Umi nyuruh begitu, lagian malas nanya-nanya juga toh calonnya belum ada."


Aku mengangguk paham, "Kenapa? Kamu kok kepo? Ngira saya udah punya calon, ya? Atau ... mau jadi calon saya?" goda Aldy dan membuat aku menatap dengan wajah galak menurutku.


"Heh! Mana ada!" ketusku membela diri yang tak terima dengan ucapannya tadi.


"Biasa aja dong kalo emang enggak, mah. Ngapain ngamok, gitu?"


"Udah! Cepet makan tuh bubur, pasien masih banyak ini!"


"Ciee ... malah ngalihkan topik pembicaraan." Kualihkan pandangan dengan sinis, sungguh menyebalkan sekali laki-laki ini.


Eh, tunggu ... apakah pipiku merona? Semoga saja tidak, agar dia tak kembali menggodaku menyebalkan sekali rasanya.


"Nanti, kita ke mall, yuk, Ca! Temenin saya mau beli beberapa barang dan makanan."


"Liat nanti, kalo gak sibuk!"


"Sebentar aja pun."


"Yaudah, iya!"


Dia kembali memakan bubur yang sepertinya diaduk olehnya, tak terlalu kuperhatikan soalnya bagaimana cara dia memakan bubur itu.


Entah mengapa, aku sangat tak menyukai bubur baik diaduk atau tidak. Meski, kata orang bubur itu rasanya enak sekali apalagi kalo dikasih ayam.


Tapi, menurutku itu tak ada enaknya baik dikasih ayam atau lainnya. Suara dering handphone Aldy membuat aku kembali menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum?" tanyanya yang tak sempat melihat nama orang di layar ponselnya itu. Dia tengah menyusun mangkuk dan gelas ke nampan kembali.


__ADS_2