Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Bukan Body Shaming


__ADS_3

Riki menatap sopir dengan menaikkan alisnya sebelah, "Mau di bayar berapa, Pak?" tanya Riki yang malah menjawab ucapan sopir.


"Hehe, becanda Tuan." Sedangkan Caca memukul lengan Riki pelan karena merasa tak sopan jika berbicara dengan yang lebih tua dengan nada seperti itu.


Mereka telah sampai di tujuan selanjutnya, Caca membuka pintu duluan, "Belum aku bukain juga," ujar Riki kesal yang merasa terlambat.


"Heleh, Ca juga bisa sendiri!"


"Biar romantis." Caca menaikkan sebelah bibirnya seolah jijik dengan perkataan dan wajah Riki yang sekarang dibuat-buat seolah menggemaskan.


"Om, ingat umurmu!" kata Caca sambil menatap dan mengangguk ke arah Riki. Dirinya berjalan masuk duluan dan meninggalkan Riki begitu saja.


"Emangnya kenapa? Aku masih tampan dan muda, dih, dasar tuh wanita!" Riki langsung berlari mengejar Caca yang sudah lumayan jauh darinya.


Caca masuk dan berhenti terlebih dahulu, dirinya pun tak tahu sebenarnya ke sini mau ngapain dan ada perlu apa.


"Kok berhenti?" tanya Riki yang sudah ada di samping Riki. Caca hanya melihat ke samping dan mendongak.


"Mau ke mana?" tanya Caca melihat ke tingkat dua mall ini.


"Hmm ... ayok!" seru Riki yang berjalan lebih dulu sekarang. Caca mengikuti dan berada di sebelah kanan Riki.


Beberapa mata melihat ke arah mereka, pesona Riki yang mungkin membuat mereka tertarik. Pasalnya memang laki-laki itu bukannya bertambah tua usianya namun awet muda.


Masalah rambut, Riki sudah tak lagi gondrong. Semenjak dipaksa Caca buat pangkas rambut dulu, hingga kini dirinya sering pangkas juga.


Mengambil keranjang belanjaan yang tersedia dan mulai memasuki lorong, Caca menautkan alisnya heran, "Kenapa kita ke sini?" tanya Caca yang kebingungan.


Riki menadahkan tangannya, "Tunggu sebentar! Di sini dan jangan ke mana-mana!" peringat Riki dan langsung pergi.


"Tuh orang kenapa, sih? Kok jadi aneh gini?" tanya Caca yang kebingungan dengan sikap Riki yang entah mengapa jadi berubah.


Caca tetap berdiri di lorong yang disuruh Riki, dirinya melihat-lihat orang yang masuk-keluar serta lalu-lalang dari hadapannya.


Setelah menunggu sepuluh menit lamanya, Riki akhirnya kembali lagi dengan sesuatu yang Caca pun tak paham apa maksudnya.

__ADS_1


"Nih, dingin!" Riki memasangkan hoodie yang baru saja dibeli Riki, ternyata dirinya menadahkan tangan tadi karena ingin merasa hawa di mall ini.


Caca mematung mendapatkan perlakuan yang dilakukan Riki tersebut, 'Om, ajak aku nikah langsung!' batin Caca berseru mendapat perlakuan yang tak pernah lagi dia rasakan sejak 4 tahun terakhir.


"Eh, ayok!" tegur Riki yang ternyata sudah berjalan duluan sedangkan Caca masih saja terpatung.


Ia mengerjapkan mata dan kembali stabilkan diri, "Iya, Om!" Caca berjalan ke arah Riki.


Riki memilih barang-barang. Mulai dari; serum bibir, lipstik, eyeshadow dan beberapa peralatan kecantikan lainnya.


Ya, mereka tengah berada di lorong kosmetik. Itu sebabnya dari awal Caca sudah kebingungan dibuat laki-laki itu, apa sebabnya ia mengajak ke tempat ini.


Alis tertaut dan wajah bingung kala melihat Riki yang sesekali menatap wajahnya lalu melihat produk yang ada, "Apa, sih?" tanya Caca yang risih.


"Mana yang kamu suka?" tanya Riki menunjukkan kedua eyeshadow dari brand berbeda.


Caca menatap lekat kedua barang itu, melihat warnanya yang tak terlalu mencolok. Warna kalem dan tak terlalu terang menjadi pilihan Caca.


Riki langsung meletakkan yang satu lagi dan memasukkan pilihan Caca ke keranjang yang berwarna kuning itu.


"Wajah kamu terlihat lelah, apakah selama di sini tidak pernah di rawat atau pergi ke klinik kecantikan? Aku tau kamu gak suka hal yang begitu, namun pergilah untuk membeli skincare atau masker wajah yang ada," ungkap Riki yang menjelaskan maksud dirinya.


Caca dengan cepat langsung membuka tas, mengambil handphone dan membuka kamera. Memang ada kantung mata yang semakin parah juga mata panda.


Wajar, karena memang semenjak menjadi dokter Caca harus belajar lebih ekstra. Tentang berbagai penyakit juga cara menengkan pasien tanpa harus di suntik penenang.


Handphone kembali dimasukkan, wajah di tekuk dan bibir dimajukan, "Kenapa?" tanya Riki yang merasa tak berbuat salah.


"Om body shaming, ya? Om malu jalan sama cewek kucel dan gak glowing kek Caca?"


"Astagfirullah, bukan begitu. Apa kamu gak malu ketemu sama pasien yang lebih cantik dari kamu? Bukankah seorang dokter adalah dia yang paling terjaga segalanya? Pola makan, kebersihan, kerapihan, juga wajah dong pastinya."


Seolah kalimat yang diucapkan Riki berisi kebenaran semuanya, Caca hanya terdiam. Bener juga, seorang dokter memang biasanya adalah orang yang terjaga semuanya.


Riki melanjutkan rak lainnya dan melihat-lihat barang, Caca pergi ke luar lorong dan mengambil juga keranjang.

__ADS_1


"Buat apa itu?" tanya Riki melihat Caca yang ada di sampingnya melihat-lihat serum wajah.


"Buat Om! Om juga harus perawatan biar gak cepat keriputan," cibir Caca dengan terkekeh. Dirinya melihat dengan jeli serum apa yang bagus dan cocok buat Riki.


Selesai dengan kebutuhan, mereka pergi berjalan ke arah kasir. Beruntungnya tidak terlalu banyak antrean.


"Siniin!"


"Apanya?" tanya Caca yang sudah berbaris di belakang Riki.


"Keranjangnya, aku saja yang bayar."


"Enggak, Caca aja."


"Gak usah, siniin!" kata Riki dan mengambil alih keranjang ke tangannya.


Caca pun keluar dari barisan dan menunggu di depan kasir saja, melihat berapa jumlah belanjaan skincare dan alat make up mereka.


Mengeluarkan uang separuh jumlah barang tersebut, "Sisanya sama Bapak itu, ya, Mbak!" seru Caca dan berlari dengan cepat meninggalkan Riki.


Tak ada yang bisa dibuat, memang Caca anaknya keras kepala, "Maaf, uangnya tadi bisa dikembalikan?" tanya Riki menatap kasir yang kebingungan dengan tingkah Caca.


Mengeluarkan ATM dari dompet, "Pake ini aja," sambung Riki dan mengumpulkan kembali uang Caca tadi.


Tampak dari jauh, Riki berjalan keluar mall dengan membawa dua kresek. Sedangkan Caca hanya melihat dari dalam mobil saja.


Pintu samping terbuka, penumpangnya pun masuk dan menatap dengan kesal ke arah Caca, "Kenapa?" tanya Caca polos dan pura-pura tak tahu.


Kantong kresek diberikan ke Caca satu dan satunya lagi diambil Riki, Caca melihat ke dalam kresek. Sudah ada uang yang tadi dan juga barang yang awalnya bukan punyanya.


Mengambil kresek yang di pegang Riki, melihat cuma satu barang isinya dari 10 produk yang dipilih oleh Caca.


"Ini namanya gak menghargai pemberian orang!" ketus Caca dan memasukkan barang yang dipilihnya tadi.


Diam. Hanya itu yang dilakukan Riki melihat satu per satu barang kembali di masukkan ke kresek dirinya, "Tapi --," ucap Riki terjeda membuat Caca yang tengah mengikat kresek menatap.

__ADS_1


"Aku gak tau cara pakainya," sambung Riki polos yang membuat Caca tertawa.


__ADS_2