
"Ca ... kamu marah sama aku soal kemarin?"
"Enggak dokter Aldy," jawabku sambil berjalan masuk ke dalam gedung.
"Kalo enggak kenapa naik taksi?"
"Bukan taksi, mobil Om Riki juga sopirnya itu."
"O-oh ... aku kira taksi."
"Enggak, kok," jawabku dengan sedikit tersenyum.
Sebelum masuk ke kelas masing-masing murid, aku dan Aldy ke ruang kepala sekolah terlebih dahulu.
Semua telah selesai, satu per satu ruangan pun kami masuki, "Gimana kalo satu ruangan satu orang aja Kak? Biar makin cepat selesainya," saranku.
"Apa kamu risih ada aku?"
"B-bukan begitu."
"Baiklah." Aldy berjalan ke ruangan yang ada di samping kelas aku berpijak kini. Biarlah, terserah padanya saja.
Aku masuk ke ruangan yang sudah ada wali kelasnya, satu per satu nama dipanggil dengan berbagai drama.
Namun, aku tertawa. Mereka sangat lucu dan menggemaskan, selesai hari ini pukul 1 siang. Aku langsung berlari menuju parkiran.
"Pak, cari masjid atau musala dekat sini, ya!"
"Baik nak Caca."
[Kak Aldy, maaf tak sempat menunggu atau berpamitan. Caca pulang duluan karena belum shalat juga mau makan] pesan kukirim agar Aldy tak mencari-cariku nanti.
Tak kutunggu balasannya, yang penting aku sudah memberi tahunya. Mobil berhenti tepat di depan Masjid.
"Maaf, Bapak tidak shalat?"
"Saya non-muslim nak Caca."
"Oh, baiklah. Saya keluar dulu," kataku dan keluar dari mobil.
***
"Siapkan tiket pesawat."
"Wo-wo ... kok mendadak, sih?" tanya Farhan menatap laki-laki yang ada di depannya kini.
Dia menunjukkan jarinya, "Terus, kenapa?" tanya Farhan menautkan alis melihat jari Riki.
"Kau tak melihat jariku luka?"
"Iya, bukannya itu biasa?"
"Aku ingin mengobatinya."
"Itu hanya luka kecil, tinggal dikasih plester langsung sembuh."
"Kau ini!"
"Eh, iya-iya Pak Riki. Pak Riki mau tiket ke Amerika pastinya 'kan? Wah ... sungguh jauh sekali dokter Pak Riki."
"Memangnya kenapa?"
"Tidak-tidak. Tiketnya mau berapa?"
"Apa kau ingin ikut?"
Farhan menatap ke arah Riki dengan wajah yang gembira juga mata yang otomatis menatap kaget, "Aku hanya bertanya, bukan berarti akan mengajak," jawab Riki cepat.
Membuat Farhan mendengkus kesal, "Dasar, tukang PHP," gumam Farhan pelan.
__ADS_1
"Sudah kau beli tiketnya?"
"Sudah, nanti sore Pak Riki akan berangkat."
"Baik, handle semua kerjaan di sini."
"Siap Pak Riki."
"Kalau kau bosen di kos, bisa ke apartemenku."
"Ada makanan emangnya?"
"Cukup untuk seminggu."
"Emangnya, Pak Riki akan lama di sana?"
"Rencananya aku akan menjalankan toko lagi di sana."
"Membuka cabang baru?"
"Ya, semacam itu."
"Hmm ... baiklah. Tapi, tak sampai 2 bulan 'kan? Ingat Pak Riki, bahwa ada acara nikah."
"Acara nikah siapa?"
"Mmm ...."
"Tenang saja, akan kukabulkan dia nikah jika memang itu inginnya. Bisa jadi, laki-laki itu sangat kekurangan uang."
Riki bangkit dari kursinya, menutup laptop dan memasukkan ke tasnya, "Aku akan bersiap-siap." Mengingat jam sudah pukul 2 sore dan dirinya akan pergi jam 5 sore nanti.
Berjalan ke arah parkiran dan menaiki bangku depan, "Cil, gue rindu lu naik di jok belakang gue," kata Riki menatap jok belakang.
'Om pelan-pelan'
'Ih ... Om genit banget!"
'Emang sengaja 'kan beli motor yang tinggi? Biar Caca gak bisa naik?'
'Dasar, modus!'
'Ihh ... modus banget sih ni orang Tuir!'
Tiba-tiba, ingatan Riki kembali menembus 4 tahun yang lalu. Saat dirinya dan Caca tak sejauh sekarang, bibir pun tanpa dia ketahui langsung terangkat ketika mengingat.
Dirinya memasang helm dan membelah jalanan yang ramai dengan kecepatan tinggi dan kehati-hatian yang semoga saja tinggi juga.
Sampai ke apartemen dirinya langsung bersiap-siap, membawa beberapa dokumen juga tak lupa serta membereskan apartemen.
"Farhan, jemput saya," kata Riki di sambungan telepon.
"Baik Pak Riki," jawab Farhan di sebrang.
[Baby, kamu ada di apartemen atau di rumah Mama?] Satu pesan masuk, Riki melihat saja.
'Hmm ... kalau aku bilang di apartemen bisa-bisa gagal untuk pergi dan kalau gak aku balas malah dia langsung ke sini nanti. Mending aku bohong aja deh, sesekali,' batin Riki menatap pesan dari Diva.
[Rumah] Setelah mengirim pesan itu, ia segera keluar dari kamar tepat pukul 4 sore. Kewajiban telah dilaksanakan juga telah mandi.
Dirinya berpakaian serba hitam dan kali ini, dia ingin menggunakan topi yang padahal dirinya jarang sekali menggunakannya.
"Kenapa lama?" tanya Riki ketika Farhan turun dari mobil dan ingin membantu memasukkan koper ke bagasi.
"Maaf Pak Riki, ini jam pulang jadi jalanan macet."
"Baiklah, jalankan mobil dengan segera karena saya tak mau wanita itu sampai mengetahui kepergian saya." Riki masuk duluan ke dalam mobil dan Irga langsung berlari masuk ke bangku supir.
"Pak Riki, kalau nanti Mama Anda bertanya Anda di mana saya harus jawab apa?" tanya Farhan di tengah-tengah perjalanan.
__ADS_1
"Jawab saja saya lagi ada urusan kerjaan."
"Kalau ditanya berapa lama?"
"Bilang saja kau tak tau. Oh, iya, satu lagi. Nomor Indonesia akan saya non-aktifkan agar Mama atau Diva tak bisa menghubungi. Jadi, kau panggil saja dari nomor Amerika, ya."
"Baik Pak Riki."
Sementara di rumah Mama Riki, Mamanya tengah menonton televisi di ruang tamu seorang diri.
"Assalamualaikum Tante," salam seseorang yang baru masuk dan membuat Mama memutar badan melihat ke arah orang yang masuk.
"Waalaikumsalam Diva," jawab Mama dengan mereka yang saling berpelukan.
"Sini, duduk."
"Ini Tante, Diva bawain cake yang super enak. Langganan keluarga Diva."
"Ya, ampun. Ngapain harus repot-repot, sih? Makasih, ya."
"Iya, Tante. Sama-sama," jawab Diva sambil melihat ke arah salah satu ruangan.
"Kamu liat apa?" tanya Mama yang menyadari.
"Rikinya mana Tante?"
"Ha? Riki? Dia mana ada ke sini."
"Tapi, tadi katanya lagi di rumah Tante."
"Mungkin maksud dia mau ke sini kali. Coba kamu hubungi aja."
"Oh, iya, bentar, ya," ujar Diva dan menelpon ke nomor Riki, "kok gak bisa, ya, Tante?"
"Gak bisa kenapa?"
"Gak tau, katanya di luar jangkauan gitu."
"Handphone-nya mati kali."
"Hmm ... bisa jadi, sih," jawab Diva dengan raut wajah kecewa.
"Yaudah, kita makan cakenya dulu, ya," kilah Mama dengan tersenyum, "bik ...."
"Ada apa Nyonya?"
"Ini, tolong di hidangkan, ya."
"Siap Nyonya."
"Eh, gimana? Kamu sudah jadi beli cincin lamaran?"
"Udah dong, Tante. Liat, nih!" Diva memamerkan cincin yang dibelinya bersama Riki tersebut.
"Permisi Nyonya," ucap sopir yang datang di tengah-tengah mereka.
"Iya, Pak ada apa?"
"Itu di depan ada kurir paket."
"Untuk siapa?"
"Katanya buat Pak Riki."
"Yaudah, sebentar."
Mama pun bangkit tak kalah juga Diva yang ingin tahu paket apa yang datang, Mama Riki mengambil paket tersebut dari kurir.
"Dari siapa Tante?" tanya Diva yang tak bisa melihat dari siapa karena dipegang oleh Mama Riki.
__ADS_1
Setelah membaca nama pengirim, Mama Riki menatap ke dapan, "Caca."