Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Tanggal Dimajukan


__ADS_3

Mobil yang kami tumpangi mulai masuk ke komplek rumah, aku sedikit berdebar. Entah bagaimana nanti reaksi Bunda saat melihatku.


Pintu rumah terkunci, halaman tak ada satu pun sampah. Semua masih sama, tertata pada tempatnya.


Kubuka pintu mobil, berjalan dengan mata yang lurus. Tanpa sadar, air mata mengalir. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam, kami juga sudah shalat di jalan tadinya.


Dengan tangan yang gemetar, kuketuk dua kali pintu. Tak ada kunci cadangan, aku lupa membawanya.


"Sebentar," sahut orang yang di dalam padahal aku tak mengucapkan salam karena memang disengaja.


"Iya, siapa?" tanya orang yang berada di dalam dengan membuka pintu. Tatapan kami bertemu, wanita itu menutup mulutnya dan melepas gagang pintu.


"Bunda ...!" teriakku dan memeluk wanita yang ada di depanku kini.


"Caca ... kamu udah pulang nak?"


"Hiks ... s-sudah Bunda."


"Kenapa gak kabari Bunda?" tanya Milda memeluk tak kalah erat.


"Mau buat kejutan buat Bunda."


"Ya, ampun." Milda melepaskan pelukan dan menangkup wajah Caca, "Kamu sehat 'kan? Gimana di sana? Baik-baik aja?" tanya Milda menghapus jejak air mata Caca juga dirinya.


"Alhamdulillah Bunda, Caca gak kenapa-kenapa. Di sana juga menyenangkan," jawabku dan menghapus jejak air mata ulang.


Bunda menatap ke arah belakangku, aku segera beralih ke samping, "Riki?"


"Iya, Tante."


"Kamu pulang bareng Caca?"


"Iya, Tante. Kebetulan bisa pulang bareng, karena tugas kerjaan juga udah kelar."


"Oh, syukur deh."


"Cil, ini koper kamu," kata Riki menyerahkan koper Caca yang sudah diturunkan oleh Farhan, "kalau begitu. Saya permisi, ya, Tante. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," balas Milda dan Caca secara bersamaan. Mereka pun menatap punggung Riki yang kian menjauh dan masuk ke dalam mobil.


'Lah, kok malah masuk mobil? Emangnya gak mau tinggal di rumah Tante, apa?' batin Caca menatap kepergian mobil Riki tadi.


"Hey, kamu kenapa?" tanya Milda mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan Caca.

__ADS_1


"Eh, gak papa kok Bunda."


"Yaudah kalau gitu, yuk, masuk! Kamu juga pasti capek, mandi deh habis itu siap-siap mau shalat."


"Siap, Bunda!"


Caca dibantu Milda membawa kopernya masuk ke dalam, setelah selesai Caca memilih untuk segera membersihkan diri yang terasa lengket.


Tak lupa untuk mengisi daya batrei handphone yang sudah habis akibat dipakai seharian dan tak membawa powerbank.


"Om Riki kok gak pulang ke rumah, ya? Jadi, dia benar-benar tinggal di apartemen miliknya? Emangnya dia gak rindu sama Tante, apa?"


"Gak masuk akal banget kalo alasannya cuma karena taman dan aku, pasti ada sesuatu yang lain mangkanya Om Riki pergi dari rumah."


"Haih, ngapain juga aku harus pusing mikirin tuh orang? Biarin ajalah, bukan urusan aku juga!"


Berbagai macam pertanyaan bersarang di pikiranku, tentang semua ini. Namun, tak mungkin kutanyakan langsung dengan orangnya.


Bukankah semua orang juga punya hak privasi di hidupnya?


"Ca ...," panggil Bunda dengan mengetuk pintu kamarku.


"Iya, Bunda, sebentar!" Aku segera berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"Hehe, iya, Caca sampe lupa belum cerita sama Bunda. Yaudah, yuk, kita cerita Bun!" Aku mengajak Bunda untuk duduk di sofa ruang tamu.


Kuceritakan segala hal yang terjadi, mulai dari yang manis hingga yang pahit. Bukankah hidup memang seperti itu?


Di lain sisi, ada seseorang yang tengah mondar-mandir di dalam kamarnya. Dirinya memegang rambutnya dengan kuat.


"Gimana bisa tuh si manusia licik balik lagi ke sini? Bukannya dia balik dua tahun lagi? Kalo aku tau dia akan balik secepat ini, mending aku minta dinikahi sebulan setelah di lamar!" omelnya dengan bersedekap dada.


3 bulan lagi menuju hari pernikahan antara Diva dan Riki, dirinya mengira dulu bahwa Caca memang akan pulang 2 tahun lagi.


Itu sebabnya dirinya ingin diberi waktu yang cukup lama untuk mempersiapkan pernikahan yang besar-besaran.


Akan tetapi, semua tak sesuai dengan yang dia pikirkan. Semuanya berubah begitu saja.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya mama Diva saat melihat putrinya tengah mondar-mandir di dalam kamar.


"Ma ... Diva mau pernikahan antara Diva dan Caca dimajuin, Ma," pinta Diva memegang tangan mamanya.


"Tenang dulu nak tenang, kamu kenapa? Kok jadi khawatir gini mukanya? Emangnya ada apa, sih? Kok tiba-tiba malah pengen dimajuin?" tanya mama Diva yang kebingungan dengan keputusan anaknya yang terbilang sangat mendadak.

__ADS_1


"Diva gak mau tau Ma, intinya Diva mau pernikahan Diva dan Riki dimajuin. Mama ngomong dong ke Mamanya Riki."


"Y-ya, nanti Mama coba omongin ke Mamanya Riki. Emangnya ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba kayak gini?"


"Ada seseorang yang mau rebut Riki dari Diva, Ma," kata Diva menatap dengan kebencian seolah ada orang tersebut di hadapannya kini.


"Siapa?"


"Mama gak perlu tau, Diva bisa menyingkirkan wanita itu sendirian, kok. Mama tenang aja," papar Diva menatap ke arah Mamanya yang masih memasang wajah bingung.


"Menyingkirkan? Maksud kamu apa? Jangan sampai kamu berbuat hal yang tidak-tidak Diva!" perintah Mamanya menatap anak semata wayangnya itu.


"Mama tenang aja, aku akan melakukan hal yang memang sudah seharusnya dilakukan. Mama bilang sama Mamanya Riki aja biar pernikahannya dimajukan."


"Yaudah, nanti Mama coba omongin, ya."


"Iya, Ma."


"Kalau gitu Mama keluar dulu."


Diva mengangguk dan berjalan menuju jendela kamarnya, dia tersenyum dengan sinis melihat ke arah luar jendela.


"Caca-caca, gue gak tau kenapa manusia kek lu tercipta di dunia ini. Kenapa gak sebaiknya lu musnah aja, sih? Buat tepo, tau!" murka Diva mengepalkan tangannya.


"Pak, sepertinya Diva sudah tau kalau kita pulang ke Indonesia," ujar Farhan yang baru saja masuk ke apartemen Riki.


Riki yang tengah fokus ke layar laptop menghentikan aktivitasnya, "Maksudmu?" tanya Riki menaikkan satu alisnya.


"Iya, dia minta pernikahan antara Pak Riki dan dia dimajuin berhubung dengan Pak Riki sudah pulang ke Indonesia," jelas Farhan menunduk.


"Dari mana kau tau?" tanya Riki dengan suara yang meninggi.


"Mama Pak Riki baru saja menelpon saya, menyuruh saya untuk memberi tahukan bahwa nanti malam Pak Riki harus pulang. Karena, keluarga Diva akan datang ke rumah Pak Riki untuk membahas tanggal pernikahan yang baru," ungkap Farhan yang baru saja di telpon oleh mama Riki.


"Ck, segitu murahannya kah dia? Sampai-sampai dia yang mendatangi seorang laki-laki?" tanya Riki berbicara remeh.


"Dan satu lagi Pak, menurut saya sepertinya dia memiliki anak buah yang ditugaskan memata-matai kita atau Caca. Sehingga dia tau ketika kita sudah sampai di Indonesia," terka Farhan yang langsung diangguki Riki.


"Yasudah, nanti malam kau jemput aku setengah jam dari jadwal yang telah di tentukan."


"Baik, Pak."


"Pergilah!" Farhan hanya mengangguk dan keluar dengan kembali menutup pintu.

__ADS_1


"Kau ingin main-main denganku Diva? Baiklah, kau yang memaksaku untuk melawan seorang wanita," cerca Riki tersenyum remeh dan kembali fokus pada laptop yang sudah ada berbagai pekerjaan.


__ADS_2