
Kubuka pintu ruangan milikku, mengedarkan pandangan dan mencari pasien dan perawat tadi. Ke mana mereka? Apakah mungkin diajak bermain atau bertanya-tanya kembali.
Kembali kututup, aku belum bertanya tentang kota anak tersebut. Kota apa itu sehingga perawatku sampai sekaget tadi.
Kakiku terhenti kala tangan memegang benda pilih milikku, 'Oh, iya! Kan ada handphone, aku cari tau aja itu kota apa,' batinku dan memutarkan badan kembali ke arah ruangan.
Namun, langkahku terhenti dan pandanganku terpaku saat seseorang yang kukenal akrab denganku dulu sekarang berada di depanku.
"Boleh tunjukkan tempat kantin dokter Caca?" tanya Aldy menatap ke arahku.
Tak mungkin menolak, kulihat di belakangku berharap ada perawat agar perawat yang mengantarkan laki-laki ini, "Dokter tinggal lurus nanti belok kiri," kataku dengan berusaha se-profesional mungkin.
"Mm ... aku ingin bertanya tentang sesuatu juga. Apakah dokter sibuk?" tanya Aldy menaikkan alisnya sebelah. Ia berpaling menatap lengan kiri Caca.
Aku yang menyadari dirinya tengah menatap tangan kiriku langsung menyembunyikannya dan memasang wajah yang bingung, canggung dan campur aduk lainnya.
"Ternyata masih kau pakai," kata Aldy tersenyum ke arah Caca, "baiklah kalau memang kau sibuk dan tak bisa diganggu, aku akan mencari tempatnya sendiri." Aldy berlalu dengan berjalan tepat di samping Caca.
Aku hanya menatap ke depan tanpa berniat melirik laki-laki yang berjalan tepat di sampingku, saat kudengar langkahnya telah menjauh kulihat dia yang ternyata sudah tak ada lagi.
Ah ... kenapa pulak koridor yang biasanya ramai lalu-lalang bisa-bisanya langsung sepi seperti ini, sehingga membuat dirinya bisa berbicara denganku dalam keadaan diri yang belum siap sama sekali untuk berbicara.
Seketika, aku langsung teringat bahwa ingin mengetahui asal-usul anak tadi. Aku kembali melangkahkan kaki yang sempat terhenti.
"Dokter Caca!" panggil seseorang dan kembali membuatku terhenti juga menghadap ke suara siapa itu.
Ia mendekat ke arahku, "Jangan teriak-teriak, ini rumah sakit," peringatku pada perawat pribadi milikku.
"Hehe, maaf dokter," katanya sambil menampilkan sebuah cengiran dengan menggaruk tengkuknya.
"Ada apa? Mana anak tadi?" tanyaku yang memang ingin mengetahui hal tersebut dari tadi.
Saat mulut perawat akan mengeluarkan kalimat, kulihat di belakangnya sudah ada brankar dorong dan juga perawat yang bergegas mendorongnya.
Segera kuawaskan tubuh perawat agar bergeser, "Kita pindah tempat aja, soalnya ini koridor tempat orang lalu-lalang," anjurku dan diangguki perawat.
__ADS_1
Kami berjalan ke arah sofa di lobby, tempat yang biasanya di duduki pasien rawat jalan atau orang yang mau cek sakit.
"Bagaimana?" tanyaku yang sudah tak tahan lagi menahan kepo tentang tempat dan juga apa saja yang mereka bicarakan tadi.
"Jadi dokter Escobares adalah kota termiskin di negara ini. Kota yang berlokasi di Texas itu berada di perbatasan antara negara ini dan Meksiko," papar perawat dan kudengarkan dengan seksama.
"Di kota itu, sebanyak 62% penduduk hidup di garis kemiskinan dengan angka kriminalitas yang sangat tinggi pun katanya kota itu dikuasi oleh para mafia," jelasnya yang membuatku kaget dengan kata terakhirnya.
Mafia? Aku kira mafia hanya ada di cerita-cerita saja, mafia yang luluh dengan gadis imut dan cantik juga mafia yang tampan.
Apakah di kota itu mafianya juga akan sama? Oh, ayolah Caca! Ini bukan saatnya aku untuk berpikir dari yang fiksi ke nyata. Tentu saja hal itu berbeda.
"Terus?" tanyaku yang tak sabar menunggu sambungan cerita dari perawatku ini. Ia sedang menarik napas, mungkin karena lelah telah menjelaskan.
"Dia ke kota ini dengan menumpang juga berjalan. Ternyata, di tengah jalan ia melihat seorang wanita yang lumayan tua dan wanita itu membawanya ke sebuah tempat," ungkap perawat yang membuat otakku berpikir keras.
"Tempat apa itu?"
"Tempat ...." Belum sempat perawatku menjelaskan tentang tempat yang ia maksud. Seseorang tiba-tiba duduk di samping perawat dengan menjaga jarak dan berhadapan denganku.
"Apakah Anda dokter baru?" tanya perawatku yang menatap ke arahnya dengan wajah senang.
Apa-apaan ini, apakah dia langsung lupa dengan cerita tadi? Dengan kalimat yang harus terpotong akibat laki-laki ini datang begitu saja.
"Ngapain Kak?" tanyaku yang keheranan dengan kehadirannya. Tak ada yang mengundang dan menyuruh duduk dia malah langsung duduk begitu saja, dasar menyebalkan!
"Kau, ceritakan tentang hal tadi ke ruanganku dan jangan dengan dokter Caca," ucap Aldy menatap perawat Caca itu.
Tanpa menunggu persetujuan Caca, ia langsung mengangguk begitu saja dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya.
"Lah, tapi dia perawatku Kak! Ngapain cerita ke Kakak?!" geram Caca melihat tingkah kedua orang yang ada di hadapannya kini.
Bukannya menjawab dan menanggapi, Aldy malah bangkit dan berjalan dengan tangan dimasukkan ke dalam jas.
Perawatnya juga berdiri dan mengikuti Aldy dari belakang, Caca yang masih duduk hanya menatap dengan bingung dan kesal ke arah punggung kedua manusia itu.
__ADS_1
Bibir yang tadinya ingin bertanya segala hal dan ingin tahu tentang tempat yang dimaksud langsung menjadi maju seperti mulut bebek.
Ia berdiri dan bersedekap dada berjalan menuju ruangannya, "Liat aja nanti! Akan kuhukum kau!" gerutu Caca yang berjalan. Namun, langkahnya berhenti. Ia merubah haluan yang seharusnya ke dalam menjadi ke luar gedung.
"Susah tak ada dia," ucap Caca dengan pelan dan melihat ke arah taman.
"Dokter," sapa seseorang dengan memegang bahu Caca. Sontak wanita itu langsung kaget dengan bahu yang terangkat.
"Astaghfirullah!" balas Caca dengan menghadap ke perawat sesekali mengelus dada.
"Haha, maafkan saya dokter," katanya dengan suara tawa yang mungkin merasa aneh karena Caca tak biasanya kaget.
"Ada apa?" tanya Caca menatap perawat.
"Dokter cari Mary?"
"Bukan, saya hanya mengira dia masih ada di sana."
"Oh, dia sudah masuk tak lama dokter masuk."
"Dia sakit apa?"
"Dia terkena gagal ginjal dok."
Mendengar penuturan itu, Caca langsung menutup mulutnya. Pantasan wanita itu berkata tentang kematian.
Memang gagal ginjal adalah penyakit yang paling sulit sembuh pun penderitanya akan tersiksa setiap kali sakit menyerang pengidap sakit itu.
"Kenapa dia di rawat? Bukannya boleh cuci darah pulang-pergi? Apakah tidak ada pendonor?"
Jika karena ekonomi, tak mungkin rasanya karena ruangan yang dihuni wanita itu saja sangat mewah. Kamar VIP yang setiap 30 menitnya harus dilihat oleh perawat juga dokter yang sudah harus siap jika dipanggil malam-malam untuk menangani pasien di kamar itu.
"Dia sudah pernah mendapatkan pendonor. Namun, dia menolak donoran itu."
"Alasannya?"
__ADS_1
Perawat tampak diam dan menatap marmer berwarna putih yang ada, "Dokter ingin tau jawabannya? Saya mau cek dia, apa dokter mau ikut?" tanya perawat mengajak Caca agar melihat langsung dan mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaan yang ada di dalam benaknya.