
Caca berjalan ke arah apartemen karena belum saatnya ia untuk masuk bekerja, sedikit beberes kamar apartemen dan makan siang atau bahkan tidur sejenak.
Ah ... aktivitas yang sangat menyenangkan di hari yang cerah ini. Caca hanya fokus pada langkahnya tanpa melihat ke belakang bahwa ada seseorang yang mengikutinya.
Ia sudah sampai di apartemen dan langsung masuk, "Pak, kita ke mana lagi?" tanya sopir berhenti di depan halaman apartemen.
"Jalan!" titah Riki dan hanya dapat anggukan dari sopir saja.
'Aku kira dia akan berjalan-jalan, ternyata langsung masuk ke kamar. Apa dia gak pernah jalan-jalan, ya?' batin Riki bertanya-tanya tentang kehidupan Caca.
Sebenarnya dirinya ingin bercerita lebih lama, mencurahkan rasa rindu atau bahkan memeluk wanita itu.
Namun, melihat Caca yang sekarang jauh lebih shalihah membuat Riki menjaga jarak agar tak menyentuh wanita itu.
Riki masuk ke salah satu restoran muslim yang sudah pasti makanan di dalamnya halal, ia segera duduk di meja yang diinginkan.
Setelah menyebutkan pesanan, Riki membuka benda pipih dan fokus menatap layar benda tanpa menghiraukan orang yang berlalu-lalang.
"Riki?" tanya seseorang menatap dirinya. Sang empu yang disebut namanya langsung mendongak melihat siapa yang menyebut namanya.
Senyum remeh dan alis yang diangkat satu, sedangkan Riki membuang pandangannya dengan menatap kembali handphone yang di genggam.
"Wah ... suatu kejutan bisa ketemu lo di sini," ucap orang tersebut duduk di bangku depan Riki tanpa diperintah oleh Riki terlebih dahulu.
Riki tak menghiraukan ucapan laki-laki tersebut, baginya hanya membuang-buang waktu saja meladeni orang seperti laki-laki yang ada di depannya sekarang.
"Gimana lo sekarang? Eh, bekas lo ternyata lumayan juga, ya. Mmm ... nilainya 9 deh, tapi lo hebat gak tergoda sama penampilan dia yang begitu," ungkap orang tersebut dengan tersenyum.
Riki melirik sekilas ke arah laki-laki tersebut, "Hilangkan senyum menjijikkan itu!" caci Riki menatap laki-laki itu.
"Wah, apakah iya? Ini senyum paling manis yang gue punya padahal," balas laki-laki tersebut. Riki tak menjawab, ia hanya diam dan mencoba sabar agar tak terpancing amarah.
__ADS_1
"Oh, iya. Gue denger-denger dia pulang ke Indonesia 'kan? Gimana, lo udah balikan sama dia? Masa gak mau, sih? Udah gue sisain tuh untuk lo, ambil aja. Gak usah munafiklah, gue yakin lo pasti udah deket lagi sama dia," sambung laki-laki tersebut tanpa henti.
Riki tersenyum miring, menyandarkan punggungnya di bangku dan bersedekap dada. Memperhatikan laki-laki yang masih tersenyum di depannya kini.
"Angga Wijaya Pratama. Laki-laki munafik, bejad, pengecut. Hmm ... nama panggilan apa lagi yang pantas digelarkan buat lo, ya? Oh ... gak bisa menghargai wanita. Sekarang gue paham --," kata Riki menjeda ucapannya menatap lantai dan menganggukkan kepala.
"Pantasan aja adeknya jadi wanita seperti itu dan mendapatkan perlakuan yang buruk, mungkin disebabkan Kakaknya," sambung Riki menatap remeh ke arah laki-laki itu.
Angga yang tak terima langsung bangkit dengan amarah yang menggebu dan memegang kerah baju Riki.
"Eitts ...." Dengan santai, Riki melepaskan tangan Angga tersebut dari kerah bajunya. Ia pun berdiri menatap ke arah Angga yang sejajar dengannya.
"Kenapa, sih? Apa yang gue katakan benar, ya?" bisik Riki dan menjauhkan badannya.
"Jangan pernah ungkit-ungkit almarhum adek gue," geram Angga dan menunjuk ke wajah Riki.
"Kenapa? Biar gue jabarkan, bahwa kematian dia itu bukan karena orang lain. Tapi, karma karena kakaknya yang juga melakukan hal bejad pada wanita lain!"
Riki menatap jari Angga yang menunjuk ke arahnya itu, "Liat! Satu jari lo yang nunjuk gue, empat jari lainnya nunjuk ke arah lo. Artinya apa? You lecherous one," ucap Riki santai dan tersenyum.
Ia pergi meninggalkan meja yang sebelumnya diinginkan tempat mengisi perut, dirinya langsung berjalan ke kasir karena tetap harus membayar pesanan tadi.
Kembali ke mobil dan menenangkan diri yang sebenarnya sudah ingin memukul laki-laki tadi. Namun, beruntungnya dapat di tahan.
"Excuse me, Sir, where was that earlier?" tanya pelayan yang tak tahu bahwa Riki sudah pergi.
Angga yang dari tadi terpatung dan melihat Riki sudah pergi, menatap ke arah pelayan yang datang dan langsung pergi meninggalkan pelayan tanpa menjawab pertanyaannya terlebih dahulu.
Sedangkan Riki, memilih untuk pergi kembali ke apartemen. Sesampainya di apartemen ia langsung mengunci kamar dan memukul serta membuang apa saja yang ada di nakasnya.
Tempat tidur yang awalnya sudah rapi di susunnya, kini kembali berantakan. Juga vas bunga yang ada di meja kini hancur berkeping-keping.
__ADS_1
Riki melihat kaca besar yang ada, entah apa yang merasukinya kaca tersebut telah hancur berkeping-keping atas perbuatannya.
Darah merah pun keluar dari tangannya akibat dari kaca tersebut, Riki terduduk di bawah kasur dan membiarkan darah menetes di lantai apartemennya.
Amarah, kesal, kekecewaan telah selesai terlampiaskan. Nafas yang memburu kini sudah beraturan.
Riki bangkit dan keluar dari kamar membiarkan tangan yang masih saja mengalir darah segar di lantai apartemen yang ia lewati.
"Please, treat this," kata Riki dingin menunjukkan tangannya kepada suster yang ada.
"But, he's the one who treats," sambungnya lagi sambil menatap ke arah Caca yang baru keluar dari ruangannya.
Suster yang dari tadi masih syok karena melihat darah Riki yang terus menetes membuat dirinya bertambah bingung dan takut.
Pasalnya, tak ada rasa sakit yang terlukiskan di wajah Riki sedangkan darah menetes tanpa henti. Caca yang melihat Riki datang dan melihat tangan kanan juga kirinya yang berdarah langsung berlari.
"Om, kenapa sih?" tanya Caca dengan khawatir melihat ke kedua tangannya.
"Doctor, does he have immunity?" tanya suster menatap Caca yang merasa aneh melihat Riki.
"I go first." Caca langsung pergi sambil menarik ujung baju Riki ke ruangannya.
Laki-laki tersebut hanya diam tanpa melawan atau protes dengan apa yang dilakukan Caca padanya.
Memang setelah meluapkan emosinya, Riki langsung berjalan ke rumah sakit tempat Caca bekerja setelah dirinya memberi tahu kepada penjaga apartemen untuk mempel koridor yang ia lalui akibat tetesan darah.
Riki duduk di tempat tidur pasien, beruntungnya hari ini pasien Caca belum datang. Mungkin jadwal mereka datang nanti malam atau sore nanti.
Caca membersihkan darah yang ada menggunakan air infus, dengan kapas yang ada. Pelan-pelan dirinya hapus agar tidak terjadi infeksi nantinya.
Suara deheman dikeluarkan Riki membuat Caca menatap ke arah laki-laki yang memperhatikannya, "Kalo sakit bilang sakit, gosah sok cool gitu Om," cibir Caca dan fokus lagi membersihkan luka Riki.
__ADS_1