
Jangan pernah berharap kepada siapapun tentang apa pun itu, teruslah berharap kepada Tuhan meskipun apa yang kau inginkan terkadang tak sesuai.
"Aamiin, udah ntar jeleknya nambah," ujar Riki dengan menghapus air mata Caca yang mengalir di pipinya mengunakan jas yang dipakainya.
Caca hanya diam dan melihat sekitar, "Yaudah kalau gitu, aku mau ke dalam dulu, ya. Kamu pulang sama Bapak yang tadi dia nunggu di parkiran, kok."
Caca hanya mengangguk paham dengan yang dikatakan Riki. Riki mulai berjalan masuk ke bandaran sedangkan Caca juga berjalan menjauh.
Lambaian diberikan Caca juga senyuman kepada laki-laki yang baru saja padahal datang menemuinya. Namun, sudah harus pulang lagi karena sesuatu yang lebih penting.
Setelah selesai mengantarkan Riki, Caca berjalan ke arah parkiran sambil menunduk. Ia seolah sedang menahan kerinduan yang begitu mendalam.
Namun, mau tak mau memang inilah yang harus dirinya alami. Tak apa, pada saatnya pasti dirinya akan kembali ke tempat di mana dirinya dilahirkan.
Memasuki mobil dan duduk di bangku yang sama tetapi keadaan yang sudah berbeda, tak ada lagi orang yang berada di sampingnya tadi.
Caca melihat-lihat jalanan, tak berniat menatap handphone bahkan senyuman yang tadinya ada di wajahnya kini sudah menghilang bersamaan perginya seseorang yang kembali pulang.
"Makasih Pak," kata Caca kala telah tiba di gedung apartemennya. Ia kembali masuk ke apartemen karena jadwal masuk ke rumah sakit masih lama.
Ketika sedang berjalan di koridor menuju ke kamarnya, "Mbak!" panggil seseorang dan menghentikan langkah Caca.
Ia melihat ke belakang, ke arah suara yang memanggil dirinya, "Mbak manggil saya?" tanya Caca memastikan meskipun di koridor tak ada orang lain selain dirinya.
"Iya, Mbak." Karyawan apartemen mendekat ke arah Caca dan memberikan papar bag berwarna cokelat.
"Buat apa Mbak?" tanya Caca mengambil pemberian dari karyawan tadi.
"Mbak liat aja di dalamnya, saya cuma disuruh memberikan ini saja. Mari," pamitnya dan kembali ke tempat kerjanya.
Caca kebingungan dengan apa maksudnya, ia segera berjalan ke kamar agar bisa melihat apa yang ada di dalam paper bag ini.
Pintu kamar apartemen dibuka, ia masuk ke dalam dan lebih memilih cuci kaki terlebih dahulu. Melangkah ke arah sofa minimalis yang dipunya, meletakkan tas dan membuka isinya.
__ADS_1
Senyuman terukir begitu saja, Caca menutup mulutnya kala sudah tahu apa isi dari kotak itu. Ia meraih surat yang ada di dalamnya.
[To: Dokter Caca. Seharusnya, aku ingin memberikan ini di saat kita berada di dalam mobil, tapi entah bagaimana bisa cincinnya tertinggal.
Tolong ... yakinkan aku bahwa itu hanya ketidaksengajaan dan kelalaianku saja bukan karena memang Tuhan tidak mentakdirkan kita.
Aku tak meminta kau menjawabnya sekarang, silahkan pikirkan baik-baik. Jika, kau menerimaku maka pakai ketika kau pulang ke tanah air.
Namun, jika kau tak menerimanya pun tak apa. Kembalikan atau kau berikan untuk seseorang yang kau yakini pantas untukku.
Tak ingin berharap lagi, itu hakmu untuk memilih siapa yang pantas bersamamu dan tentang perasaanmu 4 tahun yang lalu. Aku hanya berharap perasaan itu masih sama.
Karena nyatanya, aku pun masih sama dengan perasaanku 4 tahun yang lalu dan sekarang. Yaitu; mencintai, menyayangi dan ingin memilikimu seutuhnya.]
Setelah membaca surat yang ada, ia beralih melihat isi kotak merah itu dan membukanya.
Apakah ini? Kak Riki apakah kau seyakin ini untuk menjadikanku istrimu? Apakah kau yakin dengan keputusanmu ini?
Ia segera menutupnya kembali dan memasukkan semua yang dikeluarkan tadi, meraih handphone dan menghidupkan jaringan datanya.
Satu notifikasi hadir, nomor Riki masuk lebih dulu ke nomor Caca. Ia segera menatap dan membaca pesan itu dengan sedikit komat-kamit.
Tak lama, nomor tersebut masuk memanggil dirinya. Apakah dari tadi pemilik nomor menunggu dirinya untuk aktif? Sehingga begitu aktif panggilan langsung masuk.
"Bagaimana?" tanya Riki yang ada di sebrang.
Caca menarik nafas pelan, "Apanya Om?" tanya Caca memijit pelipisnya yang dirasa pusing.
"Kau tak perlu pusing, jika mau maka pakai. Aku tak akan memaksa jika kau tak ingin maka tak perlu pakai. Jangan merasa terpaksa, aku bahagia ketika kau bahagia," jelas Riki yang sekarang seolah menjadi pria yang benar-benar dewasa.
"Intinya, kalau kau tak suka maka tidak perlu berpura-pura demi membuat aku bahagia. Krena sejatinya, aku akan sangat tak bahagia ketika diterima hanya karena ke pura-puraan. Yaudah, aku matikan dulu. Pesawat akan terbang, akan kukabari jika sudah sampai di Indonesia. Bye cantiknya aku," sambung Riki mematikan panggilan begitu saja tanpa membiarkan Caca berbicara atau menjawab ucapannya.
Caca langsung menurunkan handphone dari telinganya dan menatap paper bag, ia kembali memijit kepalanya.
__ADS_1
Jika ditanya tentang perasaan, tentu dirinya masih menyukai Riki. Namun, apakah yakin jika Riki mampu bertahan menunggunya selama ini?
Entahlah, lihat nanti saja. Apakah tidak pantas keraguan menyinggahi hatinya, melihat Riki yang memang banyak di dekati wanita-wanita bahkan mereka tak segan-segan mendekati Riki kala ada dirinya di samping laki-laki itu.
Ia segera bangkit dan menyimpan papar bag di tempat yang aman, bagaimana pun itu barang orang lain dan harganya bukan main-main. Maka, di jagalah dengan sebaik-baiknya.
Caca memilih beres-beres apartemen yang sudah lama tak dilakukannya, ia memulai dengan menyapu dan dilanjutkan dengan mengepel.
"Mbak, saya mau menempati kamar yang sudah diberi oleh perusahaan. Ini Mbak," ucap seseorang menunjukkan kartu identitas dan juga surat.
"Baik, Bapak ada di lantai 5. Ini kartu apartemennya."
"Terima kasih," ujarnya dan membawa koper ke lantai yang disebutkan tadi.
Setelah selesai merapikan segala isi apartemen, Caca memilih merebahkan tubuh yang sudah penat, "Huh, rasanya kek remuk nih badan," keluh Caca menatap asbes yang ada di atas.
Baru saja akan memejamkan mata, suara dering membuat Caca membukakan mata dengan besar, "Halo, ada apa?" tanya Caca yang masih terbaring.
"Dokter, ke sini ya. Akan ada acara pelepasan dan penyambutan dokter barunya."
"Kenapa dokter barunya cepat sekali datang?"
"Dia perlu banyak belajar lagi Dokter."
"Jadi, dokter yang ada di sini memang tak perlu banyak belajar?" tanya Caca mengomentari.
"Hmm ... saya tidak tahu dokter."
"Huftt ... kalau aku terlambat. Maka, buat saja duluan. Aku juga harus belajar soalnya," kata Caca yang merasa kesal.
"Baik dokter."
Panggilan diputus, Caca duduk dan mengumpulkan niat untuk memulai hari. Kerudung ia ganti karena tadi saat beberes ia tetap menggunakan kerudung dan pasti sekarang sudah bau.
__ADS_1