
Setelah selesai makan Riki juga Caca pergi ke salah satu lorong, "Kita mau ngapain?" tanya Riki yang agak sedikit kesusahan berjalan.
"Om 'kan Caca lagi istimewa, jadi mau beli hal wajib yang harus ada."
Caca menyerahkan keranjang yang disediakan, "Lah-lah, maksudnya apa?"
"Om yang bawa, Caca 'kan papah badan Om yang dua kali lebih berat dan besar dari Caca."
"Mangkanya, tumbuh itu ke atas."
"Omnya aja yang ketinggian!" ketus Caca dan mulai memasukkan satu per satu barang yang dia butuhkan.
Ada; sabun cair, pewangi ruangan, parfum kain, soft*x, dan berbagai hal lainnya. Setelah merasa yang dia butuh sudah dapat.
"Sini Om," kata Caca meminta keranjang.
"Gak usah, saya aja yang bayar. Kamu tunggu di sana aja."
"Tapi, ntar kaki Om sakit, lho."
"Haha, aku bukan pria lemah Ca," kata Riki mengusap kepala Caca kemudian berjalan ikut antrea dengan yang lain.
Menatap punggu itu yang perlahan maju selangkah demi selangkah, Caca tersenyum melihat perlakuan Riki.
Sebentar, dia melupakan bahwa laki-laki itu telah tunangan. Dirinya melupakan lebih tepatnya memaksa untuk tak terlalu peduli akan hal itu.
"Nih," ujar Riki memberikan kantong kresek.
"Berapa totalnya Om?" tanya Caca mengambil dompet di saku.
"Udah banyak uang?" tanya Riki membuat Caca mendongak menautkan alisnya.
"Maksudnya Om?"
"Iya, kamu udah banyak duit Cil? Sampe segala mau bayar, mending uangnya beli tiket aja. Biar segera pulang, gak bosen liat negara ini?" tanya Riki berjalan pelan-pelan.
Caca hanya terdiam, dia memasukan dompet kembali ke saku dan berlari menuju Riki. Ia terdiam dengan ucapan Riki barusan.
"Bagaimana tadi? Apa aku sangat keren?" tanya Riki tersenyum menggoda Caca.
"Enggak, b aja!" ketus Caca membuang wajah.
"Masa? Tapi, tadi ada yang bahkan sampe teriak-teriak, lho."
"Mungkin, dia lagi khilaf karena kelaparan."
"Oh ... gitu, ternyata," ucap Riki mengangguk, "terserah, sih. Yang penting besok dia full sama saya seharian. Karena, dia udah kalah dalam bertanding sama saya."
Kubuang napas kasar, sungguh menyebalkan orang yang ada di sampingku ini. Ingin rasanya menginjak kakinya agar ada yang di dalam sepatu tersebut merasakan nyeri yang luar biasa.
Namun, aku tak sejahat itu. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Om Riki telah melaksanakan shalat di dalam mall yang kebetulan ada.
"Om," panggilku dan langsung mendapatkan tatapan dari Om Riki yang ada di samping.
__ADS_1
"Kenapa hm?"
"Kita beli makanan, ya."
"Kau masih lapar Cil?" tanya Riki menaikkan alisnya.
"Bukan."
"Jadi? Untuk siapa?"
"Kak Aldy, kesian Om. Dia 'kan biasanya masak sendiri. Kalo sakit gini siapa yang masakin?"
"Kau peduli?" tanya Riki dan berhenti.
"Bukankah sebagai manusia kita harus saling peduli dengan manusia yang lain?"
"Bukan itu maksudku," ungkap Riki menatap Caca sedangkan yang di tatap juga menatap.
"Terus?"
"Ah ... sudahlah! Ternyata, kau umurnya saja yang sudah gede. Ternyata otaknya tidak," gerutu Riki berjalan masuk ke dalam mobil.
"Lu ngehina gue barusan Om?" tanya Caca ngegas.
"Ngerasa?" tanya Riki menatap Caca saat wanita itu sudah duduk di jok belakang samping dirinya.
"Enggak."
"Yaudah!"
"Mana ada."
"Maksudnya?"
"Ada pencatat amal baik dan buruk yang selalu ada, kok. Bukan cuma kamu doang."
"Serah, dah!" ketus Caca menyilang tangannya di dadanya dengan bibir yang dimajukan sudah seperti bebek saja.
Riki terkekeh melihat kelakuan Caca, "Kita mau beli makan di mana?"
Aku menatap jalanan, mencari makanan yang sekiranya cocok. Kalau haru ke mall tadi, pasti tak akan dikasih Om Riki.
Soalnya, mall semakin ramai orang yang bermasukan. Bisa-bisa hilang yang ada nantinya aku.
"Di situ Om!" seruku menunjuk salah satu restoran di pinggir jalan. Riki langsung melihat ke arah yang kutunjuk.
"Pak, ke situ, ya!" perintah Riki kepada Sang sopir.
"Baik Pak."
Sesampainya di halaman restoran, Caca sudah berniat membuka pintu, "Om di sini aja, Caca aja yang beli, ya."
"Semangat amat yang mau beliin Ayangnya makanan," sindir Riki menatap depan.
__ADS_1
Aku yang sudah berniat keluar menatap sebentar wajah laki-laki di depanku kini, kekehan tak dapat kuelakkan karena emang pemilik humor receh ini sangat melekat.
"Yaudah, Om aja yang beli sana. Lagian, kaki Om masih sakit, ntar makin lama sembuhnya. Jadi, Caca cuma khawatir itu aja. Gak lama, kok," jelasku. Namun, Om Riki masih saja enggan menatap.
"Iya, pergilah!" usirnya dengan nada marah atau cemburu?
"Ciee ... cemburu, Om ingat! Kau sudah tak muda, ekspresi cemburunya tolong ubah. Makin jelek soalnya, hahahah." Aku berlari setelah berkata bohong tentunya.
Mana mungkin laki-laki itu akan berubah menjadi jelek, meskipun dirinya laki-laki tapi Om Riki terkadang juga perawatan.
Menggunakan skincare dan treatment bukan hanya untuk wanita saja. Bahkan, untuk seorang laki-laki sangat jauh lebih dianjurkan karena wajah merekalah yang sebenarnya sering terkena matahari.
Namun, kebanyakan orang akan menghina jika kaum laki-laki menggunakan itu. Bahkan, jika menggunakan masker untuk mengencangkan wajah saja contohnya. Mereka akan menertawakan.
Padahal, wajah mereka tentu harus juga dirawat bukan hanya wanita saja. Itulah manusia, suka sekali mengurusi hidup orang lain.
Kutenteng satu kresek di tangan kanan dengan cepat berlari masuk kembali ke dalam mobil, "Udah, Pak!" kataku takut jika sopir tak menyadari aku masuk.
"Berapa?" tanya Riki yang tengah fokus pada handphone akhirnya menatap ke sampingnya.
"Apanya Om?" tanyaku tak mengerti.
"Berapa harga makanannya?"
"70rb Om."
Riki membuka dompet, "Nah," katanya memberikan uang dua ratus ribu, "uang cash-ku tak ada lagi. Cuma ada segitu."
"Buat apa?" tanyaku memegang duit itu.
"Aku tak mau kau menerima uang darinya."
"Oh ... jadi, kalo dia kasih uangnya, gimana?"
"Tolak," jawab Riki dingin.
"Sayang dong, Om. Gak boleh bolak rezeki."
Riki menatapku dengan tajam, aku hanya mampu menampilkan cengiran, "Piss ... Om," ucapku sambil memberikan jari huruf 'v'
"Nanti, aku akan menemani dirimu ngasih makanannya."
"Siap Om!"
"Bapak boleh pulang, nanti kalau saya butuh akan saya hubungi." Riki keluar dari mobil dan menyusul ke arah Caca.
Sopir mengangguk dan melajukan mobil. Sopir tinggal di mana? Sebenarnya Riki memiliki rumah di kota ini.
Dan sekarang, yang menempati adalah sopirnya itu. Sebenarnya sopirnya pernah menolak. Namun, Riki tetap kekeuh nyuruh sopirnya untuk tinggal di situ.
"Pak, rumahnya terlalu besar untuk saya. Saya bisa nge-kost atau tidak di mana aja kok."
"Gak papa Pak, saya tidak menerima penolakan!"
__ADS_1
Sopir itu diangkat Riki dari jalanan untuk bekerja padanya. Keadaan yang sangat menyedihkan membuat Riki mengangkat orang tersebut bekerja padanya.