Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Jangan Jadi Pemb*nuh


__ADS_3

"Mending kita kembali ke kantor, kalian sudah ditunggu oleh atasan untuk makan siang. Tenanglah, pulang nanti akan kami kawal."


Kami berdua hanya mengangguk, aku mulai tak tenang, 'Ada apa ini sebenarnya, ya, Tuhan?' batinku yang gelisah.


Sepanjang jalan, aku tak diberi izin melihat ke samping atau belakang. Karena, mereka bilang akulah target mereka.


Jadi, mau tak mau ke-3 laki-laki ini harus ekstra melindungi aku termasuk Aldy. Sesampainya ke kantor, gerbang yang tadinya terbuka kini ditutup dan ditambah pengawasan.


"Tenanglah dokter Caca, semua akan baik-baik saja," kata atasan mencoba menenangkan Caca.


"Lebih baik, kita makan dulu. Juga panggil yang sudah di suntik agar makan bersama."


Aku diam dan duduk di meja panjang yang sepertinya muat untuk sepuluh orang, kucoba menetralkan diri. Jika, aku terus begini sama saja akan berbahaya untukku nantinya.


Jam 4 pas, setelah kembali dari Masjid. Kami berpamitan pulang dengan tak lupa mengadakan dokumentasi kembali, sebisa mungkin ku hilangkan raut wajah gelisah dengan senyuman.


Kulihat handphone, tak ada pesan dari Riki. Apa mungkin dia terlalu sibuk? Sesuai dengan ucapan tentara tadi, mereka mengikuti kami di belakang.


Hanya dua orang saja, di dalam mobil Aldy juga tampak begitu fokus. Jalanan lumayan sunyi, memang jarang sekali ada orang yang mau lewat di sekitar sini.


Dor ...!


Suara tembakan memenuhi telinga ke arah ban dan membuatnya pecah. Aldy sedikit kesusahan mengendalikan mobil hingga kami harus menabrak sisi jalan.


Untungnya aku menggunakan sabuk pengaman. Jadi, tak terlalu cedera begitu juga dengan Aldy, "Ca, jangan keluar dan tetaplah di sini." Dia membuka tas dan mengeluarkan benda berwarna hitam itu.


Kedua tentara tadi juga keluar dan mencari siapa yang menembak ke arah mobil Aldy tadi. Tak perlu waktu lama, mobil yang menembak ban Aldy juga Caca didapati oleh tantera tadi.


Enam orang berbadan besar juga bersenjata lengkap keluar dari satu mobil yang ban dan body mobil tersebut susah rusak akibat tembakan.


Dengan cepat Aldy juga kedua tentara tadi bersembunyi di balik mobil tentara dan menembak ke arah kaki laki-laki itu.


Merasa bahwa keadaan tak seimbang, dengan cepat Caca menelpon nomor Riki yang ternyata tak aktif.


"Om Riki ... hiks-hiks. Datanglah, aku mohon. Caca takut Om," ucap Caca terisak menahan ketakutan melihat apa yang terjadi di depannya kini.


[Om, Caca ada di jalan Truman. Ada 6 orang yang menghadang kita, Caca mohon datanglah. Caca takut Om, sangat takut]


"Ca ... keluar, jangan tetap di situ mereka berjalan ke arahmu!" teriak Aldy dari luar. Caca langsung memasukkan handphone ke saku dan mengambil benda tajam--gunting yang digunakan untuk menempelkan plester tadi ke lengan tentara.


Dirinya menatap dengan satu per satu keadaan, saat dirinya mulai keluar. Mobil ditembakkan ke arah dirinya. Beberapa kali ia berhasil menghindar.


"Gimana caranya? Hiks ...," tanya Caca yang bingung bagaimana berpindah ke arah Aldy juga dua tentara lainnya.

__ADS_1


Sedangkan, dari mobil yang tadi ke mobil tentara jaraknya cukup jauh. Aldy berjalan dengan menembakkan tetap ke arah mereka.


3 diantara 6 tadi sudah luka-luka, jalanan yang sebenarnya agak berlalu-lalang pengendara kini sunyi.


"Aww ...," rintih Aldy saat lengannya terkena tembakan. Darah kental pun keluar begitu saja dari lengannya itu.


Mereka telah sampai di balik mobil tentara, "Ca-caca ... gak bawa kotak obat!"


"Ca, apa pun yang terjadi tolong jangan menangis," pinta Aldy memegang tangan Caca sebelah.


Wanita itu mengangguk dan menatap wajah Aldy, dirinya berlindung di balik ke-3 laki-laki itu dan langsung membuka Google.


"Nomor darurat Amerika Serikat." Itulah diketik Caca di layar pencarian.


Setelah dapat, ia langsung mengetik angka 911 itu dan menelpon sedikit berbisik dan menggigit bibir bawah agar tak menangis.


"Halo, tolong Pak Polisi. Di sini ada penembakan di jalan Truman. Aku harap kau cepat ke sini]


"Ca!" pekik Aldy kala teryata ke-3 orang yang masih bertahan sudah berada di hadapan mereka.


Tentara mendapatkan tembakan di bagian perut, sedangkan Aldy di bagian kakinya. Caca yang baru tengah menelpon langsung kaget ketika melihat tubuh Aldy jatuh tepat di pangkuannya.


Dengan tangan yang besar, satu orang menarik tangan Caca dan membuat wanita itu langsung berdiri hingga jatuh handphone ke tanah.


"Masuk!" titahnya sambil menyodorkan pistol ke kening sebelah kanan Caca.


Dor ...! Dor ...!


Dua tembakan tepat mengenai perut kedua temannya yang ada di sampingnya. Riki dan anak buahnya dengan setelan berwarna hitam datang meskipun bisa dibilang telat.


"Lepaskan dia!" titah Riki dingin dengan tatapan mematikannya.


Caca yang melihat kedatangan Riki langsung memejamkan mata sebentar, membiarkan air mata yang sudah terbendung mengalir.


"Jangan pernah mendekat atau wanita ini mati!"


Riki melihat tangan laki-laki itu yang melingkar di leher Caca yang tertutup kerudung, rahangnya mengeras tangannya mengepal dengan sempurna memperlihatkan urat-urat itu.


"Berani sekali kau menyentuk dia!" murka Riki. Dirinya tak boleh gegabah, bagaimana pun ia harus tenang atau nyawa Caca yang akan melayang.


Tanpa sepengetahuan laki-laki tadi, ada satu anak buah Riki yang berada di belakangnya. Riki mengangguk dengan pelan sebagai isyarat.


Riki menarik Caca dengan cepat dan mengalihkan tembakan laki-laki itu ke atas udara. Namun, sayang. Malah mengenai kaki Riki.

__ADS_1


Laki-laki itu di tembak oleh anak buahnya yang berada di belakang tadi hingga membuatnya tumbang.


Suara sirine polisi menggema, Caca menangkap ada seorang wanita yang keluar dari samping mobil.


Dengan cepat, ia berlari ke arah wanita itu dengan mengambil pistol yang di pegang anak buahnya. Ketika memegang, tangannya tampak gemetar sehingga setengah jalan dibuang kembali.


Caca mencekal rambut wanita itu dan membuat dia merintih, "Aw ... kau sudah gila?"


"Ya, kau mau ke mana? Kau harus mempertanggungjawabkan semua ini!" bentak Caca dengan wajah yang berbeda.


"Aku tidak ada urusan dengan kau!"


"Tapi, kau yang membuat kekacauan ini. Maka, nikamatilah ini!" terang Caca dan sudah ingin menancapkan gunting ke perut wanita itu.


"Jangan!" teriak Riki dan memegang tangan Caca yang sudah terselubung emosi.


"Jangan jadi pembunuh!" bisik Riki dan membuat Caca menurunkan air matanya dengan deras juga gunting tersebut langsung terjatuh.


"Bawa dia!" titah Riki kepada anak buahnya yang tampak tak terlalu terluka.


Mobil polisi berdatangan sekitar 5 buah, semua dibawa juga dipanggil ambulance. Caca juga Riki masuk ke mobil polisi yang satunya.


Mereka menuju ke rumah sakit, "Kenapa bibirmu berdarah?" tanya Riki yang menahan sakit.


"Aku tidak diberi Kak Aldy untuk menangis. Jadi, kugigit bibirku ternyata cukup keras membuat dia terluka."


Melihat tubuh Caca yang bergetar hebat, Riki paham jika wanita di sampingnya itu kini tengah syok ringan.


Degh ...!


Caca masuk ke dalam pelukan Riki, dia menangis sejadi-jadinya, "Caca cuma buat orang dalam terluka aja!"


"Itu sebabnya Caca mau menjauh dari kalian semua termasuk dirimudalam


"Caca cuma benalu! Biang masalah, gak pantas hidup!"


"Sut ... kau bukan seperti itu," kata Riki mengusap wajah Caca.


Setelah sampai, brankar dorong berkeluaran, Riki juga diletakkan di atasnya, "Biar aku saja yang menanganinya," kata Caca menunjuk ke arah Riki.


"Tapi, dokter. Kau pun tak stabil dan perlu menenangkan diri."


"Ada banyak pasien lainnya nanti termasuk dokter Aldy, tolong dia."

__ADS_1


Brankar di dorong ke ruangan Caca, 3 orang dokter menemani Caca untuk segera mengeluarkan peluru dari dalam kaki Riki.


Peluru telah diangkat, ke 3 dokter tadi keluar dan segera menangani pasien yang lain. Di loby sudah ada atasan tentara juga membuat para perawat jalan menatap heran.


__ADS_2