
Hari ini, hari yang di tunggu oleh semua orang. Gedung yang telah disewa juga dihiasi dengan sebaik mungkin juga baju-baju pengantin yang dipilih langsung oleh Diva.
Tepat pukul 6 pagi, dia telah berada di salah satu ruangan di gedung ini. Ya ... dia berada di ruang make-up dengan senyum yang tak luntur.
Dirinya masih menggunakan piyama yang full kancing, itu perintah dari pihak MUA agar nanti mudah mengganti pakaian.
"Kau cantik sekali, Sayang," puji Mama Diva menatap wajah anaknya dari pantulan cermin.
Meskipun belum 100% selesai make-up, tapi wajah wanita itu memang cantik awalnya.
"Terima kasih Ma," kata Diva dengan tersenyum mengembang.
"Hentikan riasan di wajahnya!" teriak seseorang yang baru masuk ke ruangan. Semua orang terkejut karena orang tersebut masuk dengan membuka pintu kasar.
"Ada apa Jeng? Kenapa dihentikan?" tanya Mama Diva yang kaget saat mendengar perintah dari mama Riki.
"Aku gak sudi jika anakku harus menikah dengan wanita yang hamil di luar nikah!" bentaknya dengan melemparkan kertas yang tertutup amplop putih.
Dengan cepat, Mama Diva langsung membuka amplop itu. Dia membaca apa isinya sedangkan Diva bangkit dari kursi dengan mata yang berkaca-kaca.
Mama Riki menunjuk ke arah Diva dengan mendekat, "Kurang ajar kamu, ya! Bisa-bisanya aku hampir memasukkan anakku yang tak bersalah ke dalam masalah hidupmu dengan laki-laki lain. Dan hampir saja aku harus mendapatkan menantu murahan seperti dirimu!" geram Mama Riki mendorong tubuh Diva.
Mama Diva yang sudah selesai membaca langsung meremukkan kertas dan menatap tajam ke arah Diva.
"Bilang sama Mama bahwa kertas ini palsu!" bentak Mama Diva.
"M-ma, Diva bisa jelasin. Ini pasti bohong!" kilah Diva yang mulai tak tahu harus mengatakan apa.
"Apanya yang bohong?" tanya seseorang yang baru masuk
Brak ...!
Orang tersebut mendorong seseorang yang dia bawa, orang tersebut belum mati hanya diberi beberapa tanda pengenal saja.
"Itu yang udah menidurimu 'kan? Kenapa berani sekali kau minta tanggung jawab denganku?" tanya Riki menunjuk ke orang yang masih terduduk di lantai.
__ADS_1
"Apa ini sebenarnya Diva! Kenapa kau bisa seperti ini?" teriak Mama Diva yang frustasi melihat dan menerima kenyataan.
"Ma-ma ... hiks ...," kata Diva terbata dengan tangan yang ingin meraih tangan Mamanya.
"Lepaskan aku! Jangan berani-beraninya kau sentuh aku!" bentak Mama Diva yang tak habis pikir dengan semua ini.
"Dia siapa?!" bentak Mamanya yang membuat mata Diva refleks tertutup. Karena untuk pertama kalinya, dirinya baru kali ini melihat Mamanya semarah ini.
"Apa kau tak ingin menjelaskan? Baiklah, biar aku saja," timpal Riki dengan menaikkan satu alisnya. Saat Riki ingin mulai menjelaskan Caca, Farhan dan juga Milda masuk ke ruang make up.
Mereka datang karena disuruh oleh Riki agar Farhan memaksa wanita itu dan juga bundanya untuk datang ke situ.
"Dia adalah Angga, laki-laki atau kekasih dari anak Tante itu. Anak Tante udah gak perawan bahkan saat berada di Amerika Serikat sana. Dia menjadikan saya kambing hitam karena laki-laki ini tak ingin menikahinya dan Diva pun tak mau menikah dengan laki-laki ini," jelas Riki dan menatap Angga yang masih terduduk.
"Bukan saya yang tak mau, tapi dia yang menolak. Bahkan, dia menghina saya karena saya hanya seorang karyawan kantor. Saya sudah mengajak dia menikah, tapi dia bilang dia hanya mau dengan orang kaya dan punya perusahaan sendiri. Saya gak mungkin paksa dia sedangkan kami melakukan hal itu saat sama-sama gak sadar," jelas Angga sambil memegang perutnya.
Plak ...!
Plak ...!
Semua orang terkejut, Caca membekap mulutnya melihat apa yang di lakukan oleh Mama Diva. Dia menampar kedua pipi anaknya itu.
Laki-laki itu hanya mengangguk, dirinya berusaha bangkit karena memang dari awal dia sudah berniat baik untuk menikahi Diva.
"Ma-ma ... hiks ... Diva gak mau sama dia, Ma ... Diva mau sama Riki aja Ma ... hiks," mohon Diva dengan bersimpuh memegang lutut Mamanya.
"Ck! Apa kau pikir aku sudi punya menantu sepertimu? Kehormatanmu saja tak dapat kau jaga apalagi perasaan dan harga diri suamimu nanti!" murka Mama Riki melihat Diva yang masih berharap menjadi bagian dari keluarga.
"Sudah, ayo kita pulang!" bentak Mama Diva dan memegang pergelangan anaknya dengan kasar. Wanita itu langsung berdiri dan di seret keluar oleh Mamanya sendiri.
Semua orang saling pandang, Papa Riki dan Diva belum datang. Karena memang jam 7 pun mereka datang tak ada masalah.
"Jadi, batal acaranya Buk?" tanya perias dengan hati-hati yang masih bingung dan tak percaya dengan apa yang terjadi.
"Enggak," sahut Riki. Semua orang pun menoleh ke arah Riki termasuk Caca juga Milda.
__ADS_1
Riki bersimpuh di depan Caca, mengeluarkan box berwarna hitam dan menampilkan isinya. Itu adalah cincin permata yang dulu sempat dirinya beli di Amerika.
"Caca, maukah kau menikah denganku?" tanya Riki dengan wajah memelas.
Caca hanya menatap ke arah Riki, ia menatap ke arah Milda seolah meminta restu. Anggukan diberikan Milda, Caca menatap ke arah Mama Riki dan anggukan juga diperolehnya.
Dengan senyuman, Caca mengangguk membuat Riki yang tadinya memasang wajah memelas menjadi tersenyum lebar.
"Apa? Katakan jangan hanya mengangguk," kata Riki seolah tak sabar mendengar ucapan diterima dari mulut Caca.
"Ck! Jan nyebelin lu Om!" ketus Caca bersedekap dada.
"Cil, serius bentar!" ujar Riki yang masih bersimpuh di hadapannya.
"Iya, Caca mau Om Tuir!" tekan Caca dan membuat Riki berdiri dengan mengepalkan tangannya dengan kata, "Yes!"
"Yaudah kalau gitu, Caca kamu sekarang cepatan make up. Udah hampir jam 7 ini, acara dimulai jam 10, lho!" peringat Mama Riki yang melihat jam.
"Eh, nikahnya hari ini?" tanya Caca yang belum paham.
"Iyalah, tanggung udah ada semua ini. Tinggal di duduki dan dipake aja segalanya," ucap Mama Riki yang antusias.
"Lah, Caca belum mandi tapi," kata Caca jujur. Karena di rumah tadi, mereka baru saja hendak sarapan pagi dengan Milda.
"Mandinya nanti aja, pas ganti baju sesi ke berapalah itu. Udah sana buruan!" perintah Mama Riki yang langsung menuntun calon menantunya duduk di kursi rias.
"Bapak dan Ibuk juga silahkan ke ruangan, sudah bisa mulai pakai pakaiannya, ya," kata perias.
Mereka semua mengangguk dan berjalan ke luar dari ruangan. Namun, Riki berbalik dan mendekat ke arah telinga Caca.
"Sebentar lagi, kau akan benar-benar menjadi wanitaku, Sayang," bisik Riki yang membuat rona merah keluar dari kedua pipi Caca.
"Udah, sana!" kesal Caca memukul sisir yang ada di meja rias.
"Iya-iya, galak amat lu Cil!" kata Riki, "tolong jangan terlalu tebal bedaknya. Calon istri saya sudah cantik dari lahir. Nanti, makin banyak yang tertarik sama dia!" Pesan Riki pada perias sebelum dirinya benar-benar pergi dari ruangan
__ADS_1
****
Yok, kondangan!!!😂🤣