Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Mandi Hujan Bareng


__ADS_3

Aku yang sedang makan di balkon memberhentikan aktivitas dan mencoba mendengar baik-baik apakah benar suara handphone berbunyi?


"Pasti Om Tuir!" seruku dan meninggalkan piring di lantai balkon. Segera kulihat handphone yang tadi ku-cas, "kan, benar!" Entah kenapa rasanya bahagia sekali melihat bahwa Riki yang menelpon.


Aku mengangkat panggilan karena tak ingin membuat laki-laki itu lama menunggu, segera kembali ke balkon karena makanan belum habis.


"Halo, Om! Kok gak aktif WA-nya?" tanyaku dengan sumbringah dan senyum yang tak luntur.


"Mmm ... iya, Cil. Oh, iya. Aku ingin cerita," jawab Riki dari sebrang dengan nada yang melemah.


Aku langsung menurunkan piring yang kupangku, tak biasanya suara Riki selemah ini, "Om kenapa? Sakit?" tanyaku khawatir.


"Bukan, aku ingin bertanya padamu dan meminta pendapat," katanya dengan serius. Aku mengerutkan dahi, takut jika curhatannya itu akan mengangetkan aku.


"Mama ingin aku nikah dengan Diva," ucap Riki padaku dan membuatku seketika terdiam. Air mata lolos begitu saja tanpa permisi.


Namun, sebisa mungkin kutahan agar tak parah pecahnya. Bisa-bisa Riki tahu jika aku menangis karena suaraku yang berubah.


"Ha? Kenapa tiba-tiba Tante nyuruh Om nikah dengan Diva?" tanyaku yang ingin tahu dan sebisa mungkin menanggapi curhatan Riki.


Telepon kulespeker, kuhidupkan data sebentar. Kuhapus pesan yang banyak tadi juga foto jariku yang telah menggunakan cincin pemberian Riki.


Ya, aku telah menjawabnya agar tak membuat Riki lama menunggu meskipun tetap saja empat tahun itu juga sudah lama.


Namun, ah ... entahlah. Kuhapus semuanya, tak ada pesan lagi kecuali tulisan 'Pesan ini telah dihapus'


"Karena, Mama takut kalau kamu ternyata tak menerima cintaku," jawaban Riku yang membuat hatiku ikut teriris.


Aku tak menyalahkan dia karena telah melukaiku dan aku tak menyalahkan Tante yang menjodohkan Riki. Ini semua salahku, memang akulah biang keroknya di sini.


"Hihi, iya, juga sih Om. Tante pasti takut kalo Om aku lukai buat kesekian kalinya," paparku dengan suara tawa kecil. Percayalah, ini bukan bahagia ini adalah kebohongan yang nyata.


"Om terima saja keinginan Tante, mungkin dengan melihat Om lamaran dengan Diva membuat Tante akan semakin cepat pulih," sambungku yang memang diberi tahu bahwa Tante sedang sakit.


"Apakah aku harus merelakan keinginanku?" tanya Riki di sebrang sana yang sepertinya benar-benar sedang stress.


"Om, sekarang istighfar dulu. Tenangin diri, ingat bahwa orang tua pasti inginkan yang terbaik untuk anaknya," ujarku dengan terus mengelap air mata yang turun ke pipi.

__ADS_1


"Ca ...?"


"Iya Om?" tanyaku dengan suara yang sebisa mungkin bernada bahagia dan semangat.


"Maafkan aku, ya."


Aku tak bisa menahan ini, kujauhkan handphone dari mulutku dan segera kubekap agar isakan tak terdengar, menarik napas agar tenang dan mencoba tersenyum.


"Maaf buat apa?" tanyaku sok tak tahu arah pembicaraan Riki.


"Karena aku pikir bahwa semuanya tak akan seperti ini."


"Udah Om, ini takdir Allah. Besok, cincinnya akan Caca kirim ke expedisi, ya. Oh, iya udah dulu, ya, Om soalnya Caca lagi ada shift malam tugas, nih," kataku berbohong. Tak kuat rasanya jika harus lama-lama menahan tangisan ini.


Kumatikan tanpa menunggu persetujuan, aku menangis dengan menenggelamkan wajah ke lutut yang ada. Tiba-tiba hujan pun turun tanpa di pinta.


Sepertinya, semesta mendukung aku untuk mengeluarkan tangisan yang ada. Aku ingin mandi hujan dan menangis di bawahnya meskipun jam sudah hampir menuju waktunya salat Magrib.


Kupasang rok warna hitamku juga pakai kaos kaki, piring dan handphone kubiarkan di balkon yang agak sedikit jauh agar tak terkena percikan air.


Berjalan ke arah luar apartemen dan berjalan di pinggiran aspal, bukan trotoar mencari bangku yang ada agar mudah duduk di situ nantinya.


Bagaimana pun aku akan malu jika dilihat oleh orang-orang yang berjalan menggunakan payungnya. Sesekali mereka menatap ke arahku.


Namun, inilah negara tempatku menimba ilmu. Mereka tak akan mau peduli antar sesama, kesibukan membuat mereka lupa untuk berempati.


Tak peduli, aku tak berharap empati dari mereka. Kupegang mataku, sepertinya sudah sembab. Kuhapus air mata juga hujan yang menyatu di pipi.


Tiba-tiba, air hujan berhenti membasahiku. Apakah hujan telah reda? Padahal, sepertinya di depanku masih hujan.


Kepalaku mendongak, ternyata ada payung yang menghalangi hujan membasahiku. Mataku menangkap seseorang yang berada di sampingku kini.


"Besok kau sudah mulai menjadi pendampingku dan jadwal sudah dibuat oleh perawat yang di tunjuk, kalau kau sakit siapa yang akan mendampingiku?" tanyanya dengan mata menatapku lekat.


"Aku kuat, sana pergi! Aku ingin sendiri," usirku dengan mengawaskan payung dari kepalaku.


"Kalau kau kuat, kau tak akan melakukan hal ini."

__ADS_1


Kutatap dia dan tak berniat menjawab ucapannya itu, dia berpindah ke samping bangku yang kosong.


"Kadang, apa yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah. Jadi, cobalah untuk ikhlas akan sesuatu yang terjadi di dunia ini," ucapnya menasehati.


Apakah dia tahu masalahnya? Atau ... hanya sekadar memberi nasehat tanpa tahu konteksnya?


"Kau masih mau berlama-lama di sini? Aku mulai lapar," keluhnya dan kutatap sekilas.


"Tak ada yang menyuruhmu untuk duduk di sampingku!" ketusku.


"Yasudah, tunggu di sini, ya. Aku mau beli makanan dulu."


Aku tak menjawab, "Nih, pegang!" perintahnya memberikan payung kepadaku.


Dia pergi begitu saja masuk ke salah satu perbelanjaan, aku hanya menatapnya saja tak berniat untuk pergi atau lainnya.


Rasanya, aku ingin melupakan hal-hal bodoh yang kulakukan. Menjadikan seseorang sebagai bahan pembicaraanku dengan Tuhan.


Ini, kali pertamanya aku mengucap nama laki-laki asing di dalam doaku. Wajar, jika aku merasa seterpukul ini.


Namun, tak semuanya hal ini kusalahkan ke Riki. Karena, aku pun pernah meninggalkan dirinya begitu saja.


Semacam, apa yang kau lakukan akan kau rasakan. Aku pernah membuatnya terluka dan semesta akan membuatku terluka juga.


Cepat atau lambat, kita akan merasakan hal tersebut seperti yang kita lakukan ke orang lain. Tak apa bukan jika aku mengutuk diri sendiri atas kesalahanku sendiri, juga?


Laki-laki itu keluar dengan membawa cup kopi, ya, biasanya cup kopi akan berbeda. Dengan di tangannya juga ada kresek berwarna putih yang ramah lingkungan.


Bajunya basah, rambut juga sepatu. Tak ada lagi penampilan gagah dan rapi di situ, aku hanya menatap dengan datar.


"Enak juga, ya, mandi hujan!" serunya dengan bibir yang sudah pucat kulihat.


Apakah dia tak biasa mandi hujan? Kenapa dari suaranya sedikit menggigil kudengar, aku bangkit tak ingin jika dirinya sakit karena ulahku.


"Yuk, pulang!" ajakku dengan dia yang baru duduk.


"Lah, ini kopinya?" tanyanya menggigil.

__ADS_1


"Lain kali tak perlu temani aku Kak, kau tak terbiasa dengan hujan sepertinya," kataku dan menunggu dia bangkit.


Dia bangkit, segera kubawakan kresek tadi dan satu cup kopi. Biarlah satu lagi dia pegang untuk menghangatkan tangannya yang sudah keriput di bagian jari.


__ADS_2