Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Jadilah Dirimu Sendiri!


__ADS_3

Riki sudah dengan pakaian santainya, ia turun ke bawah untuk menjemput wanita yang sudah diberinya janji tadi siang saat di kantin.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, selesai melaksanakan shalat Riki langsung keluar dari apartemen.


Dirinya tak masuk ke dalam rumah sakit, melainkan berdiri di depan pintu masuk rumah sakit itu dengan memegang handphone.


[Aku sudah ada di depan pintu masuk] pesan dikirim Riki untuk mengabari Caca.


Nyatanya, ia tak benar-benar bisa untuk cuek kepada Caca. Padahal awalnya, dirinya ingin cuek terlebih dahulu kepada Caca.


Memberi wanita itu pelajaran karena telah berani meninggalkan dirinya sendirian dengan sejuta kenangan.


"Maaf lama, Om," ucap seseorang di belakang Riki. Riki langsung membalikkan badan dan menatap wanita yang tak berubah secara fisik itu.


Masih saja pendek, dirinya masih saja harus menunduk untuk menatap pemilik pipi chubby itu dan juga pemilik hatinya.


"Gak papa," jawab Riki singkat dan Caca hanya menunduk setelah manik mata mereka saling pandang tadinya.


"Yuk!" seru Riki jalan lebih dulu. Caca mengikuti dari belakang ke mana perginya pemilik langkah yang tegap itu.


"Om pesan taksi?" tanya Caca yang melihat mereka mengarah ke mobil berwarna hitam yang sudah menunggu.


"Mobil saya," kata Riki dan membukakan pintu terlebih dahulu untuk Caca.


"Makasih," ujar Caca dan masuk ke kursi belakang.


Riki menutup kembali pintu dan memutar mobil untuk duduk di kursi belakang juga tepat di samping Caca.


"Kita mau ke mana, Om?" tanya Caca menatap Riki.


"Makan," jawab Riki singkat sambil mencek handphone-Nya.


Caca yang mendapatkan jawaban singkat itu langsung membuang muka dengan kesal, "Jauh-jauh ke sini, malah di cuekin. Sangat unfaedah sekali, Bestie!" cibir Caca pelan yang masih bisa di dengar oleh Riki.


Riki hanya tersenyum mendengar cibiran Caca tersebut, wanita di sampingnya yang tengah menatap jalanan dari kaca mobil.


Akan sangat terlihat menggemaskan ketika melakukan hal itu, tak heran jika kadang Riki sengaja melakukan sikap jahil.


"Oh, iya Om!" seru Caca tiba-tiba yang membuat Riki kangen dan langsung mendatarkan wajahnya kembali.


Riki hanya menatap dan menaikkan satu alisnya, Caca melihat kedua tangan Riki yang sudah tak di perban itu.

__ADS_1


"Itu mana perbannya?" tanya Caca yang kaget melihat perban yang sudah tak ada di kedua tangan Riki.


"Saya buang."


"Kenapa?" tanya Caca yang sudah panik.


"Basah. Saya mandi jadi basah deh perbannya."


"Dan gak Om tutupi lagi?"


"Kan, kamu yang dokter. Bukan saya," kata Riki santai yang membuat Caca mengepal tangannya menunjukkan ke Riki.


"Kalau gemes, bilang aja. Gosah gitu banget," sambung Riki.


Caca cengengesan melihat Riki dan menurunkan tangannya, "Gemes dari mananya?" tanya Caca mendatarkan wajahnya.


"Ya, kenapa tangannya tadi seperti itu?"


"Gak papa!" ketus Caca memalingkan wajah kembali. Caca hanya menghela nafas pelan, baru berapa jam Riki sampai di Amerika sudah membuatnya ingin menghilangkan laki-laki itu dari bumi.


'Untung aja bawa perban tadi,' batin Caca yang sudah tahu kalau Riki akan membuka perbannya itu.


Caca turun duluan tanpa menunggu dibuka 'kan pintunya oleh Riki, sopir mencari tempat untuk parkir mobil.


"Mobil Om?" tanya Caca melihat mobil yang sudah pergi mencari parkiran.


Riki hanya mengangguk dan jalan lebih dulu, Caca mengikuti laki-laki tersebut dan berada di sebelah kiri.


Begitu pintu restoran di buka, orang yang masuk langsung dibuat takjub dengan kemewahan dari restoran ini.


"Dih, ngapain juga makan di sini? Caca gak suka makanannya," ucap Caca yang sudah pernah makan di sini dan merasa tak cocok makanan di lidahnya.


Riki menatap Caca lebih dulu, "Kamu gak suka?"


"Iya, Om. Caca gak suka ikan-ikan yang dimasak setengah mateng gitu," kata Caca yang mulai tak nyaman apalagi ramai orang yang ada di dalamnya.


"Tempatnya juga ramai banget orang, Ca risih," sambungnya lagi berkeluh dengan tempat yang dipilih Riki.


"Jadi, kita makan di mana?" tanya Riki yang tak tahu lagi harus makan di mana. Padahal, restoran yang sekarang tengah mereka datangi merupakan restoran terkenal yang paling banyak dikunjungi orang-orang asing karena makanannya yang super enak.


Namun ternyata, Caca tak menyukai ikan-ikan yang dimasak setengah mateng atau bahkan ikan yang tak di masak.

__ADS_1


Caca terdiam terlebih dahulu, mengingat-ingat makanan yang dia rasa enak dan sudah pasti Riki juga akan menyukainya.


Caca tersenyum saat sudah mengingat tempat itu, "Yuk! Om pasti suka sama makanannya," ajak Caca menarik ujung baju lengan Riki.


Beruntungnya, Riki tak marah dengan perlakuan Caca yang menarik dirinya seperti penjahat atau bahkan kekasih gelap.


Mereka telah sampai di depan pedagang pinggir jalan, Riki menatap tempat yang dibawa Caca. Caca hanya tersenyum menampilkan perasaan senangnya seolah tak ada masalah.


"Di sini?" tanya Riki menatap yakin Caca.


"Iya, kenapa emangnya Om?" tanya Caca dan melihat ke arah jualan yang ada.


Semacam streed food. Caca membawa Riki ke berbagai pedagang, namun kali ini Caca membawa Riki ke pedagang mie.


Caca mengambil kursi yang sudah tersedia tanpa meja untuk Riki dan juga dirinya, "Duduk Om," ucap Caca dengan semangat.


Riki hanya menuruti ucapan wanita itu tanpa menolak sedikit pun, dirinya masih tercengang melihat tempat yang dipilih Caca.


Keluar dari restoran terkenal demi pedagang jalanan, bukannya cafe tetapi pinggiran.


"Bentar, ya, Caca pesan dulu. Om pasti suka banget!" seru Caca yang sudah semangat menunjukkan tempat rekomendasinya.


Riki kira, setelah Caca berada di negara maju selama 4 tahun ini. Kehidupannya pun akan maju dan meningkat.


Ternyata penilaian Riki tentang itu salah besar. Gaji yang tinggi, kerja di tempat yang elit juga negara maju. Tak merubah dirinya ternyata.


Caca membawa dua mangkuk yang cukup besar dan diberikan ke Riki, asap yang masih mengepul di udara akibat panas yang ditimbulkan dari makanan.


Riki masih menatap Caca, "Kenapa, sih?" tanya Caca menaikkan sebelah alisnya.


"Aku pikir kamu sudah berubah."


"Berubah apanya Om?"


"Ya, kehidupan. Karena kamu sudah tinggal lama di negara ini, aku pikir kamu menjadi orang yang harus hidup mewah atau makan di tempat yang elit. Ternyata engga, kamu tetap sama," ungkap Riki yang menatap Caca dengan kagum.


Caca tersenyum dan menatap Riki dengan lembut, "Buat apa mengikuti gaya hidup seseorang Om? Kalau gaya hidup kita sendiri itu jauh lebih menyenangkan," jelas Caca.


"Hal ini yang membuat aku sampai harus terbang ke negara ini," kata Riki tanpa sadar dan mulai mengaduk mienya itu.


"Ha?" tanya Caca yang kaget karena tahu alasan Riki ke sini bukan karena kerjaan melainkan karena dirinya.

__ADS_1


__ADS_2