Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Apakah Cintaku Salah?


__ADS_3

POV Aldy


Aku ingin berdiri dan menghadang kepergiannya. Namun, kurasa ini bukan saat yang tepat. Biarlah dia sendirian untuk sekarang atau dia akan tambah marah padaku.


Andai, dia tahu tentang hatiku yang sangat luka saat melihat dia yang ternyata masih menyukai Riki.


Laki-laki yang pernah menyakitinya dan juga membuatku harus terluka karena bertengkar dengan pria itu.


Mood untuk makan ice cream pun hilang, padahal niatku tadi ingin mengajaknya mencari bahan-bahan makanan dan peralatan masak.


Namun, sepertinya itu tak akan pernah terjadi lagi. Kuremas kuat-kuat rambutku, 'Bodoh lu Aldy! Bodoh!' batinku merutuki diri.


Bangkit dari kursi dan pergi ke arah penjual cake, aku ingin minta maaf karena kelancanganku yang sok ikut campur.


'Ca, gue ingin lu itu jauh dari Riki. Biar lu itu gak ngerasa sakit lagi.'


'Lu apa gak ngeliat keberadaan gue di sini, ya? Seenggak ingin itu lu sama gue?'


Berbagai macam pertanyaan menyerang pikiranku, hingga sampai ke penjual cake. Kucari yang sekiranya Caca suka.


Setelah membayar, kuputuskan kembali ke apartemen sedangkan cake akan kuberikan nanti malam saja setelah Caca sudah lumayan tenang.


'Emang, gue gak pantas jatuh cinta lagi, ya?'


'Seburuk inikah gue sampe menyukai seseorang yang masih berharap untuk orang lain?'


'Haha, lu bego Aldy! Sudahi dan carilah wanita lain! Lu gak akan pernah bisa bersama dengan Caca.'


Sampai di apartemen, kumasukkan cake ke dalam kulkas mini yang tersedia di apartemen. Membuka balkon dan duduk di sana.


Annisa, ya, hanya seorang ibu yang bisa mengerti anaknya. Kuraih handphone dan mencari nomor wanita yang menyayangiku.


"Assalamualaikum Nak?" salam bidadari tak bersayap dari sebrang sana. Tanpa sadar, air mataku menetes begitu saja.


"Nak?" panggilnya karena tak mendapat jawaban dariku.


"Waalaikumsalam Umi," jawabku dengan suara agak serak.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Kok nangis, di sana gak enak tempatnya? Kamu gak punya temen atau kamu ditipu? Astagfirullah, kalau bener ditipu. Biar Umi kirim uang untuk ongkos kamu pulang, Sayang."


'Ca ... salahkah gue berharap lu suatu saat bisa se-khawatir Umi pada gue? Saat air mata gue turun lu dengan sigap menghapusnya? Saat senyum tak ada, lu semangat membuatnya terbit dengan tingkah lucu dari lu?' batinku dan termenung.


"Aldy?" panggil Annisa dan membuatku kembali tersadar.


"Iya Umi?"


"Kamu kenapa Nak? Cerita sama Umi."


"Umi ... salah gak sih kalo Aldy berharap suatu saat ada seseorang yang seperti Umi? Khawatir banget sama Aldy, posesif banget sama Aldy dan lainnya?"


"Hahaha." Suara tawa dari sebrang terdengar membuatku mengerutkan dahi. Apa yang salah? Padahal, pertanyaanku tak sama sekali ada unsur comedynya.


"Umi kenapa ketawa?"


"Kalau ada yang seperti Umi, artinya yang melahirkan kamu dua orang dong."


"Ha? Maksud Umi gimana?" tanyaku yang tak paham.


"Gini Aldy. Seorang ibu menjadi sangat khawatir atau posesif banget sama anaknya, sebab dia yang mengandung, melahirkan dan membesarkan anaknya itu."


"Gak akan ada seorang pun yang kasih sayangnya melebihi seorang Ibu, kalau pun kamu bilang kekasih memiliki kasih sayang yang sama maka kamu salah. Dia tak akan pernah sama dan kalau kamu bilang apakah ada wanita yang bisa sama seperti Umi, ya, itu tidak akan ada," jelas Annisa dengan panjang kali lebar.


Aku terdiam dan mencerna kalimat lembut dari wanita di sebrang sana, benar! Itu sangat benar, tak akan pernah ada wanita lain seperti Annisa.


"Kamu kenapa?" tanya Annisa lagi.


"Aldy hanya berharap bahwa wanita seperti Umi ada selain Umi."


"Sayang, wanita yang melebihi Umi banyak di luaran sana. Tapi, yang seperti Umi, ya, cuma Umi."


"Umi ... salah tidak kalo kita itu mencintai seseorang yang tak mencintai kita?"


"Sekedar mencintai atau berharap lebih?"


"Emangnya ada bedanya Umi?"

__ADS_1


"Ya, ada. Kalo kamu mencintai dia kamu akan bahagia ketika dia bahagia dengan siapapun meskipun bukan dengan kamu dan kamu tidak akan merasa tersakiti atau berkata bahwa wanita itu menyakiti kamu. Kalo kamu berharap lebih, ya, itu namanya kamu egois dan tentu saja salah. Rasa cinta tidak dapat tumbuh begitu saja, akan ada suatu hal yang hadir dan membuat kita menyukai seseorang."


"Jadi, lebih baik Aldy pendam rasa cinta ini atau Aldy ungkapkan Umi?"


"Tergantung."


"Umi dari tadi banyak banget tergantungnya," gerutuku mendengar jawaban Annisa.


"Ya, iya dong! Kalau dia udah bersuami lebih baik kamu pendam dan jika masih single kamu boleh ungkapkan."


"Umi ini! Umi kira Aldy akan suka dengan istri orang, apa?"


"Ya, mana tau. Rasa cinta bisa jadi tumbuh dari mana aja."


"Itu bukan cinta Umi."


"Tapi?"


"Hawa nafsu."


"Gimana sih cara mengendalikan hawa nafsu itu?" tanya Annisa yang sengaja memancing putranya.


"Pertama: Quwwatul Iman, sesungguhnya iman kepada Allah adalah benteng utama agar bisa terkendalinya hawa nafsu. Tingkatkan iman kita kepada Allah. Kedua: Puasa. Ketiga: Menjauhi dosa kecil. Keempat: Menjaga pandangan."


"Maa Syaa Allah anak Umi. Jadi, untuk masalah apakah lebih baik memendam atau mengungkapkan itu tergantung padamu. Jika, kamu berani mengungkapkan maka harus bisa menerima kenyataan dia yang tak mencintaimu atau ternyata dia yang mencintaimu. Dan, ketika kamu mengungkapkan dan mendapatkan penolakan malah ditakutkan membuat jarak di antara kalian akan sangat-sangat jauh."


"Namun, kalau kamu memendam perasaan. Kamu tetap bisa mengawasi dia, berteman dengan dia dan bisa menerima lapang dada jika suatu saat ternyata surat undangan yang kamu dapat darinya."


"Umi pernah ada di posisi ini?"


"Dulu pernah. Hingga akhirnya Umi rasa mencintai makhluk yang belum halal untuk kita hanya akan menyebabkan sakit aja, sehingga sejak itu Umi berhenti mencintai makhluk Allah kecuali keluarga dan hanya Allah semata. Ingat, ketika Allah sudah ada di hati kita maka mau tidak ada satu nama wanita asing yang terpatri di hatimu maka hati itu akan tetap merasa penuh."


"Karena ... di isi oleh Allah semata. Rabb yang memang seharusnya berada di hati setiap ciptaan-Nya," jelas Annisa kepada putranya.


'Ya, sepertinya aku memang menjadi orang yang sudah mulai terlena akan cinta dan perasaan. Membuat jiwaku tak terkendali bahkan tak bisa untuk fokus beribadah pada-Nya.'


"Gak ada yang mau dibicarakan lagi 'kan? Umi mau salat Magrib. Sudah adzan soalnya di sini," kata Annisa membuat Aldy tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Iya, sudah Umi. Terima kasih sudah mau mendengarkan dan menjawab serta menasehati Aldy."


"Sudah menjadi kewajiban orang tua dalam mendengar, menjelaskan juga sandaran anak-anaknya."


__ADS_2