Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Kejutan


__ADS_3

Selepas acara di rumah sakit, di sini aku sekarang. Di dalam taksi menuju bandara. Bukan sendirian melainkan bersama Kak Aldy.


Di mana Om Riki? Apakah kalian bertanya di mana orang tersebut? Dia bilang, dia tak bisa pulang bersama.


Sebenarnya aku sedikit sedih, iya, sedikit saja. Buat apa juga banyak sedih untuk manusia nyebelin yang sampai jam 1 siang ini tak ada kabar.


Apakah harus aku duluan yang menghubungi? Kalian tahu 'kan, Bestie? Bahwa ... gengsi seorang cewek itu sangat besar.


Tak mungkin rasanya jika aku harus duluan menghubunginya, eh, ternyata aku sudah sampai saja di bandara. Sangat cepat! Ini, gak bisa diperlambat, ya?


Sopir taksi menurunkan semua koper kami, aku membawa banyak banget kado. Alhamdulillah. Dari para mereka yang menyayangiku.


Kami duduk terlebih dahulu setelah mengantarkan koper ke tempat yang sudah ditentukan.


Menunggu jadwal keberangkatan yang sebentar lagi, kami pun mencek segala data paspor. Tak ada kendala dan masalah.


Detik berikutnya, nama mulai dipanggil untuk masuk karena jadwal penerbangan sudah akan di mulai.


"Kok aku gak sebangku sama Kak Aldy, ya?" tanyaku yang duluan masuk ke dalam pesawat.


Aku berjalan mencari nomor kursiku, di situ sudah ada seorang laki-laki menunggukan baju kaos hitam dan juga celana jeans yang robek-robek di lututnya juga menggunakan topi.


Wajahnya tertutup, aku pun tak bisa menebak itu siapa. Kuletakkan tas di atas dan duduk di samping bangkunya.


Mengambil handset dan memasangnya di handphone milikku, sambil menunggu Kak Aldy. Lagian, aku pun tak tahu harus ngobrol dengan siapa.


Sesekali melihat galeri, "Ih, pada imut banget ya ampun," gumamku dan men-zoom satu per satu wajah orang yang ada di dalam foto itu.


Tiba-tiba, tangan seseorang membuka handsetku sebelah dan membuat aku refleks menatap ke samping, "Yang mana sih yang imut?" tanya orang di sampingku menatap layar gadjet melikku ini.


"Om?" tanyaku menatap rambut orang yang masih menatap handphone.


"Maaf, siapa ya?" tanyanya dengan senyum manis itu.


"Ih! Nyebelin!" ketusku memukul tangannya.


"Haha, kamu kenapa sih Cil?" tanyanya yang bukannya marah karena habis kupukul.


"Katanya gak mau pulang bareng!"


"Ya, aku pikir-pikir. Ngapain juga aku tetap ada di sini 'kan alasan aku menetap di sini udah gak ada," ucapnya sambil menoel hidungku.


"Gak usah pegang-pegang!" ketusku menghapus bekas sentuhan jarinya di hidung ini.


"Dih, kenapa?" tanyanya tersenyum lagi. Haduh, Bestie! Bisa diabetes nih aku lama-lama akibat senyum manisnya ini.


"Bukan mahram!" jawabku singkat dan kembali memasang handset.

__ADS_1


Dia mengambil handsetnya kembali dan memasang ke telinganya, "Ih, Om ngapain sih?"


"Jangan pelit, Cil. Gue 'kan belum tau selera lagu lu gimana. Pen denger aja," katanya dan mulai memejamkan mata.


Aku menatap wajah yang bersender pada kursi tersebut, Kak Aldy baru saja masuk di belakangnya ada Om Farhan.


Aku tersenyum ke arah mereka dan melihat di mana mereka akan duduk, ternyata mereka duduk tepat di belakang bangku kami.


"Awas, patah tuh leher ntar," peringat seseorang. Aku langsung menatap ke sumber suara, mata yang tadinya terpejam kini mulai terbuka.


"Dih, mana ada begitu!"


"Kamu udah makan?" tanyanya dan duduk tegap. Aku menggeleng, karena memang belum makan sama sekali. Hanya air putih karena aku memang terbiasa sejak dulu minum air putih di saat bangun tidur.


"Nih!"


"Buat Om mana?" tanyaku menatap roti yang tengah dia berikan.


"Udah, kamu makan aja."


"Makasih Om." Aku memakannya, peringatan bahwa pesawat akan jalan telah menggema. Kami disuruh untuk memasang sabuk.


"Udah, biar aku aja," kata Om Riki yang melihat aku berniat untuk memasang sabuk pengaman.


"Om labil banget, ya?"


"Tadi, manggil gue lu. Sekarang aku kamu. Gak jelas banget panggilannya," protesku mengunyah roti.


"Oh, jadi kamu mau aku punya panggilan tetap gitu? Hmm ...," katanya menjeda dan mengetuk dagunya, "mau dipanggil apa? Ayang, Beb, Cinta, Sayang, Baby, Khumairah atau apa?"


Aku membulatkan mata mendengar ucapannya barusan, meskipun satu kuping kami sama-sama tertutupi oleh handset. Namun, satu lagi tetap mendengar dengan jelas.


"Dahlah Om, balik labil aja kalo gitu."


"Haha, kau yang sekarang labil Cil."


"Wajar dong."


"Kenapa?"


"Karena masih kecil, wajar kalo labil mah."


Dia menyentil keningku, "Ingat, kau bukan anak SMA lagi. Jadi, bukan anak kecil namanya."


Aku menatap dia dengan tatapan marah, sangat menyebalkan! Kukantongi bungkus roti, kalo bukan karena dia kasih aku roti sudah pasti dia yang kujadikan pengganjal lapar seperti nasib roti tadi.


Kebiasaan buruk setiap orang adalah, ketika perut kenyang pasti mata akan mengantuk. Aku menguap beberapa kali sambil menutup mulut.

__ADS_1


Takut, kalau semakin banyak setan yang masuk ke jiwa dan tubuh ini. Kusandarkan tubuhku dan memasuki mimpi yang indah.


Melihat Caca yang tertidur, Riki mengambil kepala wanita itu dan meletakkannya di pundak laki-laki tersebut.


Ia tersenyum melihat wajah teduh wanita itu, memilih menatapnya sebentar dan ikut tertidur. Mereka terjaga saat pramugari datang untuk memberikan makanan.


"Sutt ...," perintah Riki agar pramugari itu tak membangunkan Caca yang masih tenang.


"Maaf Tuan, ini makanan dan minumannya."


"Baik, letakkan saja. Terima kasih."


"Sama-sama Tuan."


Setelah pramugari berlalu, Riki menepuk punggung tangan Caca pelan. Membuat wanita itu mengerjap dan masih terdiam di bahu Riki.


"Enak banget, ya, Cil bahu saya?" tanya Riki tersenyum manis menatap Caca.


Aku terdiam sebentar mencoba mencerna ucapan orang ini, kulihat di mana aku bersandar membuatku membulatkan mata dan segera duduk tegap.


"Ih, Om pasti yang buat kepala Caca di pundak Om, ya?"


"Dih, kepala kamu sendiri yang langsung bersandar di bahu saya."


"Masa, sih?"


"Udah, tenang aja. Saya gak akan meminta bayaran, kok karena kamu udah bersandar di pundak saya. Jadi, jangan ngegas gitu. Tuh, ada makanan," tunjuk Riki menggunakan dagunya.


Kutatap makanan yang ada di depanku, segera menadahkan tangan dan melepas handset terlebih dulu, sedikit risih ternyata.


Riki juga melepaskan handset dan melihat Caca yang tengah menikmati makanan, "Enak?"


"Enak Om."


"Lebih enakan mana? Masakan saya apa masakan di sini?"


"Masakan Om, sih, tapi gak mungkin Om di suruh masak di sini."


"Iya, juga sih."


Riki memberikan sebagian makanannya ke piring Caca, "Lah, kenapa dikasih ke Caca Om? Caca gak laper banget, kok," kataku menatap ke wajah laki-laki ini.


"Gak papa, biar kamu cepat gemuk."


"Makasih Om," kataku tersenyum.


Om Tuir, eh, Om Riki pun akhirnya memakan makanannya yang tinggal separuh itu, "Masih lama lagi sampe Om?" tanyaku yang mulai bosen.

__ADS_1


__ADS_2