Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Tomat Busuk


__ADS_3

"T-tidak dokter Aldy," jawab perawat dengan gelagap.


"Baiklah, antarkan saya tapi sampai depan kamar saja."


"Baik dokter."


Sesampainya di kamar Riki, ia dibantu pengawal sedangkan Caca masuk ke apartemennya. Merebahkan tubuh dan tanpa sadar tertidur.


Dirinya bangun saat jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, dia duduk sambil mengusap perut yang ternyata tengah dilanda nyeri dan lapar.


"Biasanya nyerinya datang di hari pertama, mungkin efek kemarin khawatir jadi gak ngerasain, deh."


Dengan langkah yang berat, Caca bangkit untuk mandi agar ketika keluar kamar apartemen dirinya sudah segar.


Sebenarnya, tidur setelah shalat Ashar tidak dianjurkan, ygy. Namun, karena Caca kecapean hingga dirinya tak dapat menahan kantuknya itu.


"Ca, kamu di mana?" tanya Riki melalui panggilan.


"Ha? Caca di rumah Om, ini baru mau pake kerudung."


"Mau ke mana?" tanya Riki menaikkan alisnya sebelah.


"Mau ke supermarket dan nyari makan."


"Kamu, gak ada niatan ngajak saya, gitu?" tanya Riki dengan nada menyindir dari sebrang.


"Om belum makan?"


"Belum."


"Yaudah, yuk!"


Caca mengambil dompet dan meletakkannya di saku gamis sedangkan handphone di genggam saja.


Ketika membuka pintu, dirinya sudah kaget dengan Riki yang sudah berdiri di ambang pintu dengan tubuh yang bersandar.


"Astaghfirullah!" kaget Caca mengelus dadanya melihat dengan tajam ke arah Riki.


"Kenapa?"


"Jangan biasa nangkring di situ Om, udah kayak dedemit aja. Baju serba hitam mulu, pulak!"


"Ada dedemit sekeren saya?"


"Dih, pede bener. Siapa juga yang bilang Om itu keren? Gak ada keren-kerennya di mana-mana seorang Om-om itu mah!"

__ADS_1


"Ohh ... jadi saya gak keren, nih?"


"Enggak."


"Yaudah, kita liat aja nanti." Riki pergi melenggang meninggalkan senyuman sambil bersedekap dada.


Caca yang keheranan langsung berjalan setengah berlari mengikuti langkah besar laki-laki itu.


Dirinya menatap wajah Riki yang masih tersenyum, "Dih, ngapain senyum mulu? Kering tuh bibir lama-lama," kata Caca.


"Gak papa, ini juga salah satu cara supaya kamu percaya bahwa saya keren. Karena dengan senyuman ini, saya bisa buat beberapa cewek nanti akan langsung jatuh cinta," jelas Riki yang mengedipkan matanya ke arah Caca. Beruntungnya di dalam lift hanya ada mereka bedua. Kalau tidak? Bisa-bisa wanita lainnya baper dibuat Riki.


'Buset nih orang! Beneran diakui lagi, ya, pastinya banyak yang kecantollah. Gak harus senyum aja banyak banget yang kecantol, mau ngajak perang nih orang kayaknya!' batin Caca menggerutu dan menatap Riki dengan tajam.


Bukannya takut, laki-laki di depannya malah mengulum senyum, 'Nah 'kan, pasti cemburu. Giliran tadi aja katanya aku gak keren,' batin Riki.


Pintu lift terbuka, Riki berjalan tanpa memperdulikan Caca. Mereka berdua berjalan ke luar, mobil sudah menungggu.


"Kita mau ke mana?" tanya Riki menatap Caca.


"Kita mau ke mana Ca?"


"Cil! Kita mau ke mana woy!" teriak Riki yang merasa tak digubris. Sedangkan yang ditanya akhirnya melihat ke arahnya.


"Ke mall aja, deh. Caca mau makan di sana, ya."


"Eh, Om kok gak pake kursi roda?" tanya Caca yang baru ingat bahwa laki-laki ini sudah berjalan dengan mencoba normal meskipun agak pincang sesekali.


"Bagaimana mungkin mau menarik hati wanita jika aku menggunakan kursi roda?"


"Ck, sok banget! Gak akan ada juga yang mau sama lu Om!" ketus Caca yakin.


"Iyakah? Bagaimana kalau kita buat kesepakatan?"


Caca menaikkan alisnya, "Kesepakatan apa?"


"Kalau ternyata ada yang tergoda sama saya, kamu besok harus mau menemani saya seharian ke mana saja dan mengikuti apa saja yang saya katakan," ungkap Riki menaik turunkan alisnya.


"Oke! Gue yakin Om tuir! Gak akan ada yang mau sama lu juga, lagian cowok di sini juga jauh lebih tampan," ujar Caca membuang muka melihat jalanan.


"Oke, nanti kamu jalan jangan terlalu dekat dengan saya. Biar mereka bisa datang ke saya, kalo kamu dekat yang ada mereka nanti ngira kalo kamu itu adik saya."


"Dih, mau aku deket atau jauh juga gak akan ada yang mau sama lu Om."


"Haha, oke kita liat nanti. Jangan cemburu, ya."

__ADS_1


"Hmm."


Entah Caca menyadari atau tidak. Namun, sepertinya efek tengah PMS membuat dirinya sampai melupakan sesuatu.


Bagaimana pun Riki adalah laki-laki yang cukup banyak wanita menggemari, bagamana bisa dirinya menyanggupi tantangan itu.


'Budu lu Ca! Ngapain mau setuju, pulak? Udah tau pasti banyak dah yang demen, namanya juga modelan sugar Daddy,' batin Caca merutuki kebodohannya.


Sesampainya di mall, senyum Riki tak kunjung hilang. Caca yang melihat hal tersebut berdecak sebal, dirinya jalan di belakang Riki sesuai kesepakatan tadi.


Tujuan pertama mereka adalah cafe, mereka akan pergi makan sore atau malah malam? Entahlah, Riki hanya mengikuti kemauan Caca saja.


Saat naik ke lantai dua menggunakan eskalator, benar saja. Ada satu wanita berpakaian minim naik ke tangga lebih dekat ke arah Riki.


"Hay," sapa wanita itu.


"Oh, hay," jawab Riki tersenyum. Caca yang berada di bawah mereka melihat jelas wajah Riki dan wanita itu yang saling tersenyum.


"Kau di sini sendirian?"


"Dih, dasar cewek ganjen! Pinter banget milih sasaran, hebat-hebat!" gerutu Caca membuang muka agar tak melihat ke arah mereka.


"Sayang," panggil suara bariton itu membuat Caca yang mengenalinya menatap ke depan.


Caca menunjuk ke arah dirinya dengan membulatkan mata, "Aku?" tanya Caca meskipun tidak dengan mengeluarkan suara.


Riki mengangguk dan mengulurkan tangannya, "Aku berdua, dengan wanitaku," tutur Riki tersenyum dan membuat wanita tadi melangkah ke tangga lebih tinggi agar segera sampai.


Caca yang mendapatkan perlakuan tersebut tentu saja langsung merasakan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada pipinya.


Benda pipih yang ia genggam dari tadi, akhirnya diangkat untuk melihat pipinya, "Kenapa?" tanya Riki keheranan.


"Om ada liat tomat busuk gak di wajah Caca?" tanya Caca menatap ke arah Riki.


"Ha? Tomat busuk?" tanya Riki yang tak mengerti.


"Iya, kata perawat Caca kalo misalnya kita ngerasa pipi kita panas akibat kalimat seseorang yang buat kita senyum akan ada tomat busuk di pipi. Kok, Caca gak ada, ya?" tanya Caca sambil bolak-balik melihat pipi kanan juga kirinya melalui kaca.


"Emangnya kamu ngerasa panas?"


"Iya," jawab Caca polos.


"Panas kenapa?" tanya Riki paham dengan apa yang dimaksud Caca 'tomat busuk' tersebut.


Mereka sudah sampai di lantai dua, Caca yang sadar akan kesalahan Riki tadi langsung melepaskan tangan Riki yang ada di pergelangannya dan memilih pergi duluan mencari makan.

__ADS_1


"Lah, ngapa tuh bocil?" tanya Riki menggeleng dan mengikuti jejak Caca di kerumunan orang.


"Nih bocil, udah tau pendek malah jalan sendirian. Udah tau orang di sini pada tinggi!" gerutu Riki yang kesulitan mencari Caca akibat padatnya pengunjung.


__ADS_2