Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Jadi Pendamping


__ADS_3

Wanita itu diam, ia kembali menatap bunga yang ada di taman, "Keluargamu mana? Kenapa di sini sendirian?" tanya Caca yang kebingungan melihat kenapa tak ada satu pun orang yang menjaganya.


Saat Caca melihat-lihat sekitar, ada perawat yang berlambai dengan maksud jangan dekati pasien ini. Alis Caca langsung bertaut, kenapa jangan di dekati?


"Mereka terlalu sibuk dengan duanianya. Lagian, sebentar lagi aku juga akan mati," jawab orang tersebut dengan suara tegasnya.


Caca yang mendengar wanita itu bersuara langsung memalingkan wajahnya dari perawat yang ada di belakang mereka dan kembali fokus ke pasien yang di sampingnya.


"Iya, semua orang juga akan mati pada saatnya. Ada yang mati karena sakit dan ada juga yang tiba-tiba, kita hanya menunggu giliran saja," kata Caca menjelaskan.


Bukankah memang faktanya seperti itu? Bahwa setiap yang bernyawa memang akan mati baik; tau, muda, remaja, anak-anak juga balita sekalipun.


"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisa' : 78). “


"Hmm," jawab wanita itu yang sepertinya memang sudah tak ingin dan ada semangat hidupnya lagi.


"Siapa namamu?" tanya Caca karena tak bisa melihat gelang nama yang ada di sebelah tangannya lagi.


"Mary," kayanya singkat.


"Baiklah Mary, aku ingin melanjutkan pekerjaan," kata Caca bangkit, "kau jangan terlalu lama di luar apalagi sendirian." Caca melangkah pergi.


"Tunggu!" serunya dan membuat Caca berhenti melangkah.


"Ada apa?" tanya Caca kembali mendekat.


"Kau dokter pendamping 'kan?"


"Iya."


"Jadilah dokterku," rayunya dengan wajah sedikit tersenyum.


"Boleh, kau tinggal bilang nantinya ke dokter yang memang menjagamu. Nanti, seminggu dua kali aku akan datang ke kamarmu agar menjadi temanmu," perintah Caca dan tersenyum ke arah Mary.


"Yaudah kalau gitu, aku masuk dulu ke dalam, ya. Atau, kau ingin masuk juga?" tanya Dayana sambil menunjuk ke arah gedung rumah sakit.


"Tidak perlu dan tolong suruh perawat itu untuk tak awasi aku," katanya dengan menatap tanah juga rerumputan yang ada.

__ADS_1


Caca yang mendengar kalimat itu langsung menatap ke arah perawat yang memang masih berdiri di teras rumah sakit.


"Tak apa, dia sayang denganmu sehingga dia melakukan hal itu. Aku duluan, ya." Caca pergi dengan mengusap bahu wanita itu terlebih dahulu sebelum berjalan masuk ke gedung rumah sakit dengan tangan di masukkan ke jas warna putih miliknya itu.


"Apa dia tidak mengusir dokter?" tanya perawat kala melihat Caca yang semakin mendekat ke arahnya.


"Dia mengusir, cuma kalau kita turuti, ya, kapan bisa dekat sama dia?" tanya Caca tersenyum dan masuk ke dalam.


Ia juga punya jadwal untuk meeting sebentar lagi, sebelum ke ruang meeting. Dirinya men-cek ruangan terlebih dahulu apakah masih ada pasien atau tidak.


"Dokter?" tanya perawat yang sedang membungkuk memperiksa seorang remaja putri yang berbaring.


"Lanjutkan saja," kata Caca tersenyum. Perawat malah langsung berjalan ke arah Caca yang ingin minum tetapi duduk terlebih dahulu dengan wajah tegang.


"Ada apa?" tanya Caca membuka tempat botol air minumnya dan menatap heran.


"Apakah dia hamil?" tanya perawat yang membuat Caca mengurungkan niat minumnya.


Ia langsung bangkit dan meminta stetoskop pada perawat, mengarahkan ke perut wanita itu, "Berapa umurmu?" tanya Caca dengan wanita yang bermata biru dan rambut pirang itu.


"17 tahun," katanya yang polos.


"Sendiri."


"Keluhanmu apa?"


"Aku lemas dan tak nafsu makan juga beberapa kali muntah tapi hanya air pun kadang aku ingin sesuatu yang tak terduga."


Caca menatap ke arah perawat yang ada di sampingnya, "Di mana rumahmu?"


"Aku dulu tinggal di kota Escobares," ujarnya dan membuat perawat menutup mulut. Sedangkan Caca yang kaget akibat respons perawat menjadi menatap ke arah wanita itu.


"Jadi, bagaimana bisa kau sampai di sini?" tanya perawat dengan mata yang hampir ingin keluar.


"Aku ikut dan menyelundup dari mobil ke mobil."


"Orang tuamu?"

__ADS_1


"Mereka sudah tidak ada. Aku pun tak tau mereka ke mana."


Saat Caca masih ingin mendengarkan pembicaraan mereka, handphone-nya bunyi dengan nada cukup keras membuat dua orang yang saling bertanya tadi pun berhenti sebentar.


Ia langsung mengangkat dan sedikit menjauh agar tak menganggu, "Baiklah Pak saya akan segera ke sana," kata Caca mematikan handphone-nya.


"Saya ke ruang meeting dulu, kau uruslah anak itu," kata Caca dan mengembalikan stetoskop kepada perawatnya.


Keluar ruangan dengan pertanyaan di dalam kepala, kota apa itu? Ia belum sempat bertanya tapi ternyata meeting akan segera di mulai.


Saat Caca memegang knop pintu ruangan, ia sudah melihat punggung seseorang yang membelakangi pintu juga spesialis anak yang duduk berhadapan dengan bos.


Caca langsung melemparkan senyum dan duduk berjarak satu bangku dengan laki-laki itu, 'Apakah dia dokter baru itu? Bukankah katanya seorang wanita?' batin Caca dan segera menggeser bangku dan menatap fokus ke arah bos.


"Baik dokter Chantika Azizah, seperti yang saya bilang beberapa hari yang lalu bahwa akan ada dokter spesialis anak yang akan masuk. Ternyata dokter tersebut sedang mengandung dan sudah mengambil cuti lahiran, sehingga dokter yang lain ditugaskan," jelas bos yang duduk di depan.


Caca mengangguk dan tersenyum, ia memutarkan badan berniat untuk berkenalan dan bersapa meski hanya sebentar saja bagaimana pun mereka akan menjadi tim.


Aku memalingkan wajah berniat ingin menyapa rekan baruku, saat badan dan leher ini berputar. Tatapannya juga aku seolah tak percaya.


Apakah benar ini dia? Jika tidak, kenapa dia menatapku seperti layaknya aku yang juga kaget menatapnya.


Bisa jadi dia yang kaget terlebih dahulu karena bos sempat menyebut namaku? Segera kualihkan pandangan dan berharap rekan kerjaku bukan laki-laki itu.


Kucubit beberapa kali tangan ini dan rasanya sakit bahkan tertinggal jejak merah akibat tingkah bodohku ini.


"Kenapa dokter? Apa kalian saling kenal?" tanya bos yang ternyata melihat kami sama-sama terkejut tadi.


"Mm ... i-iya Pak," kataku dengan sedikit terbata-bata. Tak mungkin rasanya jika harus berbohong dengan tak mengenali seseorang.


Kulirik sekilas laki-laki yang ada di sampingku tetapi sedikit kubelakangi, dirinya tampak biasa saja. Tetap dengan duduk tegapnya juga tangan yang masuk ke jas masih berwarna hitam.


"Bagus kalau begitu, tentunya kalian akan semakin mudah untuk bekerja sama!" seru bos dengan wajah tersenyum.


Apa katanya? Mudah? Oh, bahkan ketika melihat wajahnya saja aku sudah ingin pergi dan menghilang dari ruangan saat ini juga.


Sesi perkenalan telah selesai dengan ketegangan dan sedikit kegelisahan yang mungkin hanya kurasakan.

__ADS_1


Aku berjalan keluar dari ruangan dengan langkah kaki yang cepat berjalan menuju ruanganku, masih terdengar jelas perkataan bos saat di ruangan tadi.


"Untuk sementara, dokter Caca yang akan membantu dokter Aldy bertugas karena perawat dokter Aldy belum ada sebagai pembantunya," perintahnya kepadaku dan mau tak mau harus kuikuti begitu saja.


__ADS_2