Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Izinkan Aku Memperjuangkanmu (Lagi)


__ADS_3

Riki telah sampai di rumah dan melihat mobil milik Mamanya belum juga sampai, dirinya berjalan menuju rumah Caca.


Rumah yang dulu begitu sering dia datangi, rumah yang menjadi tempat ternyaman baginya. Kini, rumah itu tampak suram. Tak ada lagi; tawa dan candaan.


Milda keluar dari rumah dan mendapati Riki yang berdiri di depan pagar rumahnya sambil melihat bunga-bunga yang ada.


Dulu, Riki pun punya tanaman di depan rumah. Namun, karena renovasi bunga-bunga itu harus di bu nuh termasuk taman yang ada di halaman belakang.


"Eh, Riki!" teriak Milda dan keluar menghampiri Riki.


Riki yang mendengar teriakan itu langsung melihat ke arah Milda dengan senyuman dan mendekat.


"Apa kabar kamu?" tanya Milda dengan tangannya yang sudah disalim oleh Riki.


"Alhamdulillah, sehat Bunda. Bunda sendiri, gimana?"


"Sehat, kok. Oh, iya, Bunda denger-denger katanya kamu pernah pergi ke Amerika, ya?"


"Iya, Bun. Ketemu sama Caca."


"Caca sehat?"


"Alhamdulillah, sehat Bun."


"Mamamu?"


"Sudah membaik Bun, ini juga udah bisa pulang."


"Syukurlah kalau begitu."


"Bunda mau ke mana?"


"Ada pengajian, Bunda mau liat pengajian itu."


"Oh, yaudah. Riki juga mau masuk ke rumah deh, Bun."


"Iya, kamu sehat-sehat, ya."


"Bunda juga."


Mereka berjalan dengan arah yang berbeda, Riki menunggu di atas motornya. Beberapa menit, mobil yang membawa Mama juga Papanya akhirnya sampai.


Ia hanya membantui membawa barang-barang saja, sedangkan yang membantu Mama masuk ke dalam adalah Papanya.


Setelah meletakkan barang ke kamar, Riki keluar karena Mamanya akan istirahat juga Papanya yang kelelahan juga.


"Den Riki, mau makan?" tanya bibik--pembantu di rumah Riki.


"Bibik emangnya masak apa? Sampe nawarin saya?"


"Saya masak ... tumis kangkung pake goreng tempe, ayam dan lalapan kerupuk."


"Bibik mau ngasih itu juga ke Mama?"


"Enggak atuh den, nanti Mama dikasih buburlah."

__ADS_1


"Masukkan aja ke kotak makan Bik."


"Oke, bentar, ya."


Riki menuju ke kamarnya, ia membuka pintu kamar yang sudah lama ia tinggalkan. Mencari barang yang masih ada di kamar, setelah dapat Riki langsung mengambil dan memasukkannya ke dalam tas miliknya.


"Ini den."


"Oke Bik." Riki memasukkan bekal tadi ke dalam tas ransel hitam miliknya, ia segera memakai dan langsung menutup pintu kamar kembali.


"Den kok gak pernah lagi tidur di sini? Perasaan Bibi selama kerja di sini den Riki cuma 1 kali tidur di sini," kata Bibik dengan wajah sedih sambil berjalan di samping Riki.


"Yang buat saya untuk bertahan dan tinggal di rumah ini udah gak ada, Bik."


"Hmm ... gara-gara taman belakang den?"


"Gak cuma itu aja sih, Bik. Udahlah, nanti kalo Mama dan Papa nanya. Bilang Riki udah kembali ke apartemen, ya," pesan Riki dan membuka pintu utama.


Dia keluar tanpa menunggu jawaban dari pembantunya itu terlebih dahulu. Dirinya kembali menunggangi kuda besi dan membelah jalan yang masih ramai-ramainya.


Riki memang keluar dari rumah setelah taman-taman miliknya di tebang oleh Mamanya, ia pun memutuskan untuk pindah dari rumah dan hidup sendiri di apartemen pribadinya.


Sebenarnya, apartemen itu sudah lama dibeli. Cuma, karena memang dulu masih ada taman dan tentunya Caca. Dirinya jadi betah tinggal di rumah.


Setelah sampai di apartemen, Riki membuka pintu dan meletakkan barang yang tadi ia bawa. Juga membuka bekal dan memakannya di meja makan.


"Iya, halo?" tanya seseorang menjawab panggilan dari Riki.


"Ca, kamu sibuk?" tanya Riki sambil menyuap makanan dari bibik tadi.


"Gak papa, cuma ... munafik kalo aku bilang aku gak rindu."


"Heleh, gaya lu Om."


"Lah, kenapa? Kamu juga 'kan?"


"Enggak."


"Gak usah bohong Ca."


"Aku gak bohong. Ngapain aku harus rindu dengan laki-laki yang sudah akan berstatus suami orang, sama aja dosa 'kan?"


"Ca ...," panggil Riki pelan.


"Iya Om?'


"Kamu sayang sama aku?"


"Maaf Om, Caca rasa udah gak pantas kita bahas seperti ini. Om harus ingat dengan posisi Om dan Caca pun akan selalu ingat posisi Caca. Caca gak mau jika kita terus komunikasi malah membuat Caca nyaman, padahal Caca sudah tau endingnya akan ditinggalkan juga."


"Ca ... aku akan berjuang kembali."


"Caranya? Melawan Tante? Om mau melawan Tante?"


"Kalau memang harus itu yang aku lakukan agar pernikahan ini batal. Kenapa, tidak?"

__ADS_1


"Oke, pernikahannya batal dan Om kembali sama Caca. Lalu, apakah kita tidak membutuhkan restu dari orang tua Om? Om ... hubungan yang tak mendapatkan restu dari orang tua tak akan pernah dapat restu dari Allah."


"Mereka akan menerima pada akhirnya Ca."


"Dengan pemaksaan? Om aja gak suka dipaksa, bagaimana mungkin bisa memaksa seseorang?"


"Ini hidupku Ca, mereka harus mau menerima apa pun yang menjadi keputusanku. Kau tenang aja, saranku jangan terlalu dekat dengan Aldy di sana meski kalian satu kerjaan juga satu tim. Ingat, aku pencemburu handal Ca."


Panggilan diakhiri Riki begitu saja dan membuat Caca berdecak sebal, laki-laki itu melanjutkan makannya dan melihat ke arah luar gedung.


"Halo?" tanya Riki saat dering handphone-nya dan menampilkan nama Farhan.


"Pak, aku lagi di depan apartemen. Tolong buka."


Tanpa menjawab, Riki mematikan panggilan dan berjalan ke arah pintu apartemen. Farhan masuk ke dalam dan berjalan di belakang Riki.


"Wah ... apakah aku boleh ikut makan? Aku rasa ... Bapak tak akan sanggup menghabiskan itu semua," ujar Farhan menatap makanan yang terhidang di meja dengan rapi.


"Ambillah piring," perintah Riki yang duduk kembali.


Farhan dengan cepat mengambil piring yang ada dan duduk di depan Riki, ia mengambil makanan tetap santai karena Riki tak menyukai barang-barang berserakan.


"Ada apa kau ke sini?" tanya Riki mengunyah makanan dengan pelan.


"Tentang Diva, aku sudah mendapatkan informasinya."


"Apakah sangat menarik motifnya?"


"Sangat, bahkan jika Bapak ingin balas dendam maka bisa dilakukan."


"Semenarik apa itu?"


"Sangat menarik meskipun tak ditarik."


Karena Farhan sudah sangat lama bekerja dengan Riki, dia memang sudah tak segan-segan jika berkata dengan candaan. Meskipun, kadang bukan senyuman atau tawaan yang di dapat melainkan tatapan tajam.


"Apakah kau sudah bosan bekerja denganku?"


"E-eh, bukan begitu Pak."


"Nanti, kau jelaskan tentang hal itu. Hari ini apa jadwalku?"


"Ada meeting di cafe dengan distribusi yang ingin bekerja sama Pak."


"Yasudah, kita akan ke sana setelah ini. Cepatlah makan." Riki bangkit dengan membawa piring yang suda kosong dan langsung mencucinya.


"Pak, enak sekali masakanmu," puji Farhan dengan mulut yang penuh.


"Bukan masakanku."


"Jadi, siapa?"


"Bibik."


"Oh ... aku kira istri Bapak, tapi aku lupa bahwa Bapak belum nikah."

__ADS_1


"Kalau aku sudah nikah, masakannya bahkan tak akan pernah kuberi padamu!"


__ADS_2