
Ketika tengah menikmati makanan, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri meja kami, "Maaf, Pak. Saya telat," katanya berdiri dengan kepala menunduk.
Aku yang tengah asyik memasukkan makanan ke mulut menatap dengan heran, "Biasa aja natapnya!" sindir orang yang duduk di depanku.
"Itu siapa Om?" tanyaku yang tak mengenali orang yang masih berdiri. Rupanya, orang yang berdiri tadi mengerti bahwa tengah dibicarakan.
Dia mendongak dan memberikan senyuman tipis juga sebentar setelah itu kembali menunduk. Ya, sangat sebentar banget beberapa detik paling.
"Farhan," jawab Om Riki sambil fokus kembali ke makanannya.
"Omo!" teriakku kaget dan menutup mulut.
"Uhuk ...!" Suara tersedak dari mulut Om Riki, segera kuberi minum dan Farhan ingin membantu. Tapi, kalah cepat dengan aku yang sudah memberikan minum.
"Kamu kenapa, sih, Cil?" tanya Riki yang kesal setelah merasa lega.
"Hehe, maaf Om. Kaget aja, Om Farhan ternyata sekarang udah banyak berubah, ya," kataku menatap kembali orang yang masih betah berdiri.
"Om, gak capek?" tanyaku dan dia pun menatap.
"Ehem!" kata Riki dan segera kualihkan pandangan, "biasa aja kali liat dianya."
"Kenapa emangnya Om? Gak boleh, ya?"
"Iya, gak boleh."
"Om Farhan, duduk sini!"
"Tidak usah Caca," jawabnya menatap Riki. Oh, aku paham sekarang.
"Om, suruh Om Farhan duduk atuh. Kasian dia berdiri," suruhku agar Riki mau menyuruh laki-laki yang lebih muda satu tahun darinya itu duduk.
"Biarin saja dia berdiri, kenapa kamu yang sewot?" tanya Riki dengan nada kesal, "makan itu makananmu!"
Aku berdiri dan mengambil piring berisi makanan, "Om Farhan, sini kita duduk di sini aja. Om Riki pelit!" ketusku dan menarik baju kemeja Farhan.
"Heh!" kesal Riki dengan mata melotot juga mulut yang penuh makanan, "sini, Cil!"
"Janji Om Farhan suruh duduk dan makan juga, ya," kataku yang sudah duduk di meja yang berbeda.
"Iya!" singkatnya.
Akhirnya, aku duduk kembali. Farhan duduk di bangku yang berbeda dan tersenyum sebentar sebelum memilih duduk.
__ADS_1
"Om Farhan kapan sampe ke sini?"
"Kemarin malam Ca."
"Oh ... udah nikah Om Farhan?"
Uhuk!
Kali ini, bukan Riki yang tersedak melainkan Om Farhan. Lah, kenapa dia? Apa pertanyaan aku salah?
Kutautkan alis, "Kenapa Om?"
"Ti-tidak papa Ca," jawab Farhan dengan meminum air putih.
"Cil ... diam sekarang juga atau mulutmu aku lakban!" tegas Riki dengan wajah garang.
"Oke Om," kataku lesu.
'Dih, dasar pada baperan! Emang, kalo udah tua begitu, ya? Mudah banget tersedak, lagian aku nanya gak macam-macam. Kenapa pada esmosi sama aku, sih? Aku 'kan baik cuma nanya gitu doang,' batinku mengerutu dengan makanan yang kumasukkan ke mulut dengan kasar.
Setelah selesai makan, kudengarkan kedua manusia di depan ini membahas bisnis yang tak kupahami.
Kupilih untuk memiringkan handphone dan mulai bermain game online, entah sejak kapan. Tapi, aku sekarang suka saja bermain game ini.
Namun, rasa malah lebih mendominasi jiwa dan raga ini. Jadi, biarlah sekarang aku sibuk dengan duniaku.
"Jadi, dia masih sering bertemu dengan laki-laki sia lan itu?!" geram Om Riki dengan tangan terkepal melihatkan urat-uratnya.
Aku yang mendengar kalimat kasar itu langsung melotot, kupukul punggung tangannya. Mereka langsung menatap ke arahku, "Kenapa Cil?" tanyanya yang keheranan.
Kukeluarkan game dari area pertempuran dan mengetik sesuatu, [Gak boleh ngomong kasar!] dan menunjukkan ke arahnya.
Dia pun komat-kamit membaca ketikan itu, "Kenapa kau tak berbicara Cil?" tanyanya dengan alis naik sebelah.
[Lah 'kan Om yang nyuruh Caca untuk gak ngomong] Kembali kuketik dan menunjukkan ketikanku padanya.
Dia mengusap wajah kasar, sedangkan Om Farhan tampak mendatarkan wajahnya. Sedetik kemudian, suara napas berat mereka keluarkan.
Kubekap mulut yang ingin tertawa keras, 'Gile, ngapa bisa jadi kompak begitu dah mereka,' batinku dengan tawa yang tetap ditahan.
Mereka saling pandang satu dan lain, "Udah, ngomong deh Cil, ngomong," kata Riki dengan nada yang amat pelan bahkan nyamuk sepertinya tak dapat mendengar kalimat dia.
"Bwahahaha," tawaku menggelegar, entah mengapa mereka sangat lucu seperti boneka san tet. Eh!
__ADS_1
"Cil, lu kenapa, sih?" tanya Riki yang sudah frustasi sedangkan Farhan membekap mulutnya menahan tawa.
Aku menunjuk ke arah wajah Farhan, "L-lah hahaha, kenapa malah mau ikutan bwahaha ketawa? Hahaha," tawaku kembali pecah saat melihat wajah merah padam Om Farhan yang menahan tawanya.
Om Riki membiarkan aku tertawa hingga akhirnya tangannya menyentuh bibirku, "Sutt ... diam Cil! Kami lagi mau bahas sesuatu yang penting!" tegasnya menatapku.
Seketika aku mematung, mengerjap menatap ke wajahnya yang tampan ini. Astaghfirullah Caca, "Bisa, diam?" tanyanya menatap ke dua mataku.
Kuanggukan dengan cepat pertanyaannya itu, ia pun menjauhkan tangannya kini, 'Ya, Allah. Baru kali ini Om Tuir pegang bibir gue. Astagfirullah, keknya aku harus shalat taubat dan mandi keramas deh. Gak boleh nih lama-lama deket sama Om Tuir,' batinku sambil memegang dada yang berdegub kencang.
Akhirnya, kujalankan perintah Om Riki tadi. Kembali memiringkan handphone dan masuk ke arena pertandingan.
"Ca, ayok!" ajak Om Riki. Aku langsung menatap ke arahnya dengan jempol yang masih stay di layar gadjet.
"Mau ke mana Om?"
"Meeting."
"Udah buka cafenya?"
"Udah, yuk!" Tangan Om Riki mengulur ke arahku dengan cepat kupakai tas selempang milikku ini.
"Ca bisa sendiri," tolakku menjabat tangannya, "Om Farhan mana?" Tak kulihat pria itu di samping Om Riki.
"Bayar makanan."
Aku hanya ber 'oh' ria, kami keluar dari restoran dan berjalan hanya melewati beberapa gedung hingga sampai ke cafe.
"Kau tunggu di sini, ya, Cil. Gak usah sama kami ngobrol di sana, nanti mereka malah salfok ke kamu bukan ke kerjaan," perintah Om Riki yang menyuruhku duduk di sebrang para kliennya.
Aku mengangguk dan duduk di tempat yang telah disuruhnya, sedangkan ia segera menghampiri klien yang entah datang dari mana aku pun tak tahu.
Tak lama Om Farhan pun kembali dan langsung duduk di tengah-tengah mereka, saat seperti ini yang membuatku menjadi kagum.
Om Riki yang terkadang; manja, ngambekan, cemburuan. Namun, seketika begitu sangat gagah dan dewasa.
Oh, ya, tanpa sengaja tadi aku mendengar pembicaraan mereka. Bahwa, mereka akan merancang baju ternama juga akan memakai jasa model yang akan mempromosikan baju milik mereka.
Bukan berati Om Riki adalah desainer, dia memiliki perusahaan textile. Ia sengaja membuka toko sendiri agar semakin banyak membuka luang pekerjaan.
Dirinya pun punya desainer sendiri yang dipekerjakan juga konveksi yang akan memasukkan bahan jahitan ke toko miliknya juga para suplaer lain.
Ya, begitulah kerjaannya. Sangat pusing bahkan pusing sekali jika aku yang menjadi CEO di perusahaan dia pastinya.
__ADS_1