Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Pergantian Dokter


__ADS_3

Siap dengan outfit simple namun tetap cantik, Caca keluar dari apartemen dengan menggunakan tas ransel berwarna cream.


"Astagfirullah!" kaget Caca melihat Riki yang sudah berdiri di ambang pintu apartemen miliknya.


"Kenapa?" tanya Riki menaikkan alisnya yang bingung mengapa Caca kaget.


"Om ngapain di situ?" tanya Caca mengunci pintu apartemennya


"Lah, emangnya kenapa? Ini 'kan kamar saya, suka saya dong mau ngapain aja," kata Riki tanpa beban.


"Iya, sih. Yaudah kalau gitu, Ca mau ke rumah sakit dulu, ya, Om Tuir!" pamit Caca berdiri di depan Riki.


Riki maju ke arah Caca, Caca yang melihat Riki semakin mendekat membuat dirinya pun spontan mundur ke belakang.


"Eh, Om! Lu ngapain?" tanya Caca yang sudah merasa mentok tak dapat mundur lagi.


Riki mendekatkan wajahnya ke arah Caca, "Semangat Buk Dokter!" bisik Riki tepat di telinga Caca. Setelah mengucapkan kalimat itu, Riki menjauhkan kembali wajahnya.


Sedangkan Caca yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya terpatung dan mengerjapkan matanya agar menormalkan degub jantungnya.


Setelah sadar Caca menatap Riki sebentar yang memberikan senyuman manisnya, selanjutnya ia pergi meninggalkan tempat itu.


"Gak-gak, kalo lama-lama di situ bisa-bisa gila gue," kata Caca yang berjalan dengan cepat ke arah lift.


Sedangkan Riki yang melihat ekspresi Caca hanya tersenyum melihat tingkah wanita itu dengan menatap punggungnya yang menjauh.


"Apaan lagi tuh orang tadi, mendekat sambil sok ngebisikin segala!" kesal Caca sambil melangkah dengan cepat karena waktu yang sudah mepet.


Caca berjalan ke luar apartemen menuju rumah sakit, begitu sampai banyak pasien dan perawat yang tersenyum dan menyapa dirinya.


"Dokter Caca, langsung ke ruang meeting, ya," ucap perawat kepadanya.


"Baik, terima kasih." Tak sempat singgah ke ruang pribadinya terlebih dahulu dan memakai jas, Caca langsung masuk ke ruang meeting.


Di dalam sudah berkumpul beberapa perawat, Caca duduk di bangku yang masih kosong, "Maaf jika saya telat," kata Caca sebelum duduk.


"Ini belum telat, kok," kata salah satu dokter yang ada di dalam ruangan.


Pintu meeting terbuka, kepala rumah sakit datang dan langsung ke depan ruangan, "Maaf, saya terlambat," ucap laki-laki yang sudah berumur.


"Baik langsung ke intinya saja, 3 atau 4 hari lagi akan ada pergantian dokter. Kebetulan tahun ini dokter yang akan datang ke rumah sakit kita adalah dokter yang berasal dari Indonesia. Negara asal dokter Caca," sambungnya sambil menunjuk ke arah Caca.


Caca hanya tersenyum dengan wajah yang berkerung, 'Siapa yang akan datang, ya?' batin Caca bertanya-tanya.


"Dokter spesialis anak akan datang dan dokter spesialis sakit dalam akan dipindahkan ke Indonesia," jelasnya.


Semua yang ada di dalam hanya diam dan merasa paham, besok akan digelar pelepasan dokter sakit dalam ke Indonesia.

__ADS_1


Memang akan lebih dulu dokter dari sini dipindahkan, setelah selesai meeting semua kembali ke ruangan masing-masing.


Caca meletakkan tas ranselnya di atas meja dan melihat list jadwal pasiennya, "Huftt ... lumayan banyak banget hari ini," kata Caca mengusap wajahnya pelan.


"Permisi, Dokter. Ada kurir yang datang," ucap perawat pribadi Caca.


"Kurir?" tanya Caca memastikan dan di jawab dengan anggukan.


Dengan kebingungan, Caca berdiri dan berjalan menuju loby untuk melihat apakah benar ada kurir lalu dari siapa?


"Dokter Caca?" tanya kurir setelah mendapatkan Caca di depannya.


"Iya, saya sendiri. Ada apa, ya?"


"Ini ada makanan dan minuman," ujarnya menyerahkan pesanan.


"Dari siapa?"


"Dari Pak Riki."


"Oh, terima kasih." Caca langsung mengambil bungkusan yang dibawakan oleh kurir tadi dan menanda tanganinya.


"Cie ... Dokter Caca sekarang jadi punya banyak penggemar, nih," ejak perawat yang melihat Caca.


"Haha, apaan? Ini bukan penggemar," kata Caca sambil sedikit tertawa.


Sedangkan Caca yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Yaudah, saya duluan, ya," kata Caca dan berlalu pergi ke ruangan.


"Aaa ... pengen juga kayak Dokter Caca deh. Dibawakan makanan begitu," kata perawat yang sepertinya sudah kelamaan jomlo hingga tak bisa melihat hal romantis seperti itu.


Caca duduk kembali ke bangkunya dan membuka plastik, beberapa makanan yang di tempatkan pada sebuah bekal juga ada jus apple karena tercium dari wanginya.


Perut yang memang sudah mulai lapar membawanya untuk membuka bekal dan mencobain masakan yang ada di dalamnya, "Ini Om Tuir sendiri yang masak?" tanya Caca setelah menyuap satu makanan ke mulutnya.


"Enak banget, ya, ampun!" serunya sambil menutup mata menikmati makanan.


Dering handphone mengalihkan fokusnya, Caca mengangkat panggilan dengan mulut penuh makanan, "Iya, halo?" tanya Caca tanpa melihat nomor siapa yang masuk.


"Wah, sepertinya masakan saya sangat lezat sampai mulutmu harus terisi penuh seperti itu," sindir orang yang ada di sebrang.


"Uhuk ...." Caca tersedak dan melihat nama penelpon yang ada, ternyata Rikilah yang menelpon dirinya saat ini.


Dengan cepat ia mengambil minum agar melegakan kembali tenggorokannya itu dan, "Pelan-pelan," peringat orang tersebut lagi.


"Om ngapain nelpon?" tanya Caca ketika tenggorokan sudah dirasa lega.


"Memastikan saja."

__ADS_1


"Memastikan apa?" tanya Caca yang ngegas.


"Makanannya udah sampai apa belum, eh, ternyata udah sampai bukan hanya di tangan kamu tapi di mulut kamu sepertinya."


"Dih!"


"Kenapa?"


"Gak papa. Udah, ah! Ca mau makan dulu Om!"


"Udah cocok apa belum?"


"Jadi apa? Chef?"


"Iya."


"Udah dong."


"Kalau suami kamu?" tanya Riki yang mencoba lagi dan lagi menggodanya.


Caca mematikan sambungan begitu saja, "Dasar tua bangka!" kesal Caca dan meletakkan ponselnya.


Dirinya melanjutkan aktivitasnya tadi yang sempat terheti akibat Riki, setelah selesai dengan makan. Caca membereskan meja makannya, "Oh, iya. Kira-kira spesialis anaknya siapa, ya, yang akan datang? Atau ... Om Aldy?"


"Hah ... apa urusannya denganku? Mau siapa pun yang masuk ya terserahlah!"


***


"Siapa yang akan pergi ke Amerika, Pak?" tanya seseorang menatap pemilik rumah sakit.


"Kemungkinan kamu, karena orang yang seharusnya ke sana itu melahirkan. Jadi, mau gak mau ya kamu."


"Hmm ... baiklah."


Caca berjalan ke luar ruangan, dirinya ingin melihat-lihat sekitar rumah sakit, "Eh denger-denger yang akan datang ke sini itu perempuan, lho!"


"Oh, bukan laki-laki?"


"Bukanlah!"


Caca yang sedang lewat dan mendengar pembicara perawat hanya membuang nafas lega. Setidaknya pasti bukan Aldy yang akan datang ke sini.


Toh juga, rumah sakit di Indonesia bukan hanya satu. Mengapa dirinya berpikir bahwa Aldylah yang akan datang?


Dirinya memijit pelipisnya, entah mengapa pikirannya jadi aneh seperti ini. Bukan plin-plan masalah hati atau lainnya.


Hanya, tak ada salahnya bukan rindu dengan seseorang yang pernah berbuat baik untuk kita? Jika yang berbuat jahat saja sering diingat apakah yang berbuat baik langsung harus dilupakan?

__ADS_1


__ADS_2