Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Maaf Buat Khawatir


__ADS_3

Panggilan masuk di layar handphone-ku, segera kuangkat dan berdiri meninggalkan meja tadi agar suaraku tak mengganggu Om Riki yang sedang bekerja.


Kubelangkan cafe dan menatap ke arah jalan raya, menjawab setiap pertanyaan yang dilayangkan dari orang sebrang.


"Iya, Bunda. Caca akan pulang tahun ini, kok. Doain aja Bunda, biar semuanya lancar," kataku kepada bidadari tak bersayap itu.


"Bener, ya, Ca. Kalo kamu gak pulang juga, Bunda akan ke sana dan nyuruh mereka pecat kamu!" ancam Milda yang terdengar serius.


"Haha, Bunda sok berani banget."


"Bunda lagi serius ini Ca, jangan ketawa-ketawa. Gak ada yang lucu, kamu pikir Bunda ngizinin kamu buat kerja di sama kemarin? Enggak! Bunda cuma izinin kamu buat kuliah," omel Milda yang sepertinya sudah rindu pada anaknya.


"Iya, Bun. Maafin Caca kalo gitu, alhamdulilah Caca juga gak sampe dua tahun kok kontrak di sininya, jadi, ntar Caca bisa kerja di sana aja."


"Kamu kenapa sekarang?"


"Ha? Maksud Bunda apa?" tanyaku yang sekarang tak mengerti alur pembicaraan.


"Bunda liat ada penembakan, kamu ada masalah sama siapa Ca? Bunda tau tentang kamu semuanya, kamu tau? Mamanya Riki marah-marah sama Bunda karena anaknya jadi korban akibat menyelamatkan kamu."


"Tolong dong Ca, jangan buat Bunda di sini khawatir juga jadi bahan amukan Mamanya Riki. Kamu tau sendiri 'kan gimana Mamanya kalo marah?" sambung Milda dengan intonasi yang sepertinya antara marah dan sedih.


Kutarik napas sebentar, rasanya sungguh campur aduk sekarang, "Maafin Caca Bunda, karena Caca Bunda jadi di amuk oleh orang lain. Caca kemarin kejadian hal yang gak terduga. Bukan kemauan Caca juga itu semua, Bunda tenang aja. Caca baik-baik aja, kok. Nanti Caca pulang, pasti Bun," ucapku meyakinkan.


"Yaudah, kamu baik-baik di sana dan hati-hati. Jangan sampe kejadian hal yang sama lagi, ya."


"Iya, Bun. Inn Syaa Allah."


"Yaudah kalau gitu, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Bunda."


Kubuang lagi-lagi napas pelan, entahlah rasanya sungguh muak dengan keadaan yang ada sekarang.


Saat ingin membalikkan badan, "Astaghfirullah!" kagetku memegang dada.


"Ih, Om ngapain sih di sini!" sambungku sambil memukul lengannya. Sudah ada Om Riki entah sejak kapan di belakangku.


Dia duduk di kursi yang ada di teras cafe, dengan wajah di tekuk akibat sinaran matahari pagi dan tak lupa senyumnya itu.


"Lagian kamu, ngapain telponan sampe sejauh ini? Telponan sama siapa sih emangnya?" tanyanya yang kepo.


"Gak ada, ih! Kepo banget, ayo ke dalam lagi!" ajakku dan berjalan lebih dulu. Tunggu dulu! Kenapa suara langkah kakinya tak terdengar?


Aku menoleh kembali ke belakang, dia masih duduk di kursi yang sama, "Huftt ... Om, ayo masuk! Biar cepat kelar meetingnya juga biar kliennya cepat pulang, emangnya Om kira mereka kerjaannya cuma sama Om?" omelku berkacak pinggang.

__ADS_1


Sudah seperti ibu-ibu saja aku ini, ibu-ibu yang memarahi anaknya karena tidak makan atau mengerjakan tugas sekolah.


"Iya-iya, ngomel mulu kamu mah," cicitnya dengan langkah gontai. Kembali lagi ke tempat duduk semula.


Sudah ada susu di atas meja tempat dudukku, "Untukmu," bisiknya sebelum kembali ke mejanya tadi.


Aku hanya mengangguk dan kembali duduk, sesekali pikiranku melayang hingga ke kampung halaman.


Bagaimana jika akan ada masalah baru nanti setelah aku sampai? Apakah aku bisa menyelesaikan masalah itu?


Ah ... rasanya aku tak siap untuk kembali ke tanah kelahiran. Bukan karena aku takut akan menghadapi masalah yang ada.


Hanya saja, aku terlalu lelah dengan keadaan saat ini juga sepertinya nanti. Namun, masalah tak akan pernah selesai kalo kitanya tidak hadapi dengan keyakinan bahwa masalah akan selesai.


"Ca ... Caca!" teriak seseorang di depanku dengan tangannya mendada-dadakan di depanku.


"Ih, Om!" kagetku sambil mengerjap-ngerjapkan mata.


"Kamu kenapa, sih? Malah bengong masih pagi juga."


"Mana ada bengong Ca mah."


"Jadi, apa?"


"Healing, tapi pikirannya doang."


"Udah sampe di rumah pun keknya kliennya, Ca. Kamu kelamaan melamun tuh!" tegur Riki menjerengkan matanya.


"Hehe, ya, maaf Om. Kita mau ke mana, nih?" tanyaku sambil melihat arloji yang baru menunjukan pukul 10 pagi.


"Kamu habiskan aja dulu susunya, Cil," perintah Riki dan menatapku.


"Oke, Om!" seruku dan langsung dengan cepat meneguk susu cokelat di depanku.


"Om Farhan mana Om?" tanyaku menatap Om Riki dengan gelas yang sudah kosong.


"Tuh," singkatnya sambil menunjuk arah luar cafe ke sebuah mobil. Kupicingkan mata untuk melihat mobil siapa itu.


"Oh, mobil Om udah sampe, ya?" tanyaku mengalihkan pandangan kembali ke arahnya.


"Iya." Tangannya terulur menghapus bekas susu yang ada di dekat bibirku, "Makasih, Om."


"Sama-sama, yaudah yuk!"


Kami berjalan beriringan ke arah mobil, aku duduk di samping Om Riki tentunya dan Om Farhan duduk di samping sopir.

__ADS_1


Di sepanjang jalanan, tak ada yang membuka suara. Kutatap wajah orang dewasa ini satu per satu, kerutan pun sudah ada di dekat mata mereka.


Mungkin, efek terlalu sok cool, sih, "Om, main tebak-tebakan, yuk!" ajakku menatap wajah Om Riki.


"Tebakan apa?"


"Nanti, Om Riki, Om Farhan sama Pak Sopir jawab, ya. Pokoknya semua yang ada di dalam mobil ini harus ikutan, gak boleh nolak! Titik gak pake koma!" tegasku dan membuat Om Farhan juga sopir menatap ke arahku melalui kaca spion dalam mobil.


"Kenapa Om Farhan, Caca cakep, ya?" tanyaku menaikkan alis-alisku sambil tersenyum.


"Ha? T-tidak Ca," gelagapnya dan mengalihkan mata. Sedangkan sopir menahan senyum akibat aku yang berhasil menggoda Om Farhan.


"Ehem!" dehem seseorang di sampingku yang sepertinya merasa terbakar.


"Kenapa Om? Seret, ya? Kan, gak makan apa-apa."


"Iya, seret karena makan gombalan seseorang."


"Ciee ... pagi-pagi buta udah dapat gombalan," godaku dan mendapatkan tatapan tajam. Aku hanya menampilkan cengengesan, "dasar orang tuir baperan!"


Karena merasa situasi tak mendukung untuk main tebak-tebakan, aku pun tak melanjutkannya. Kuhadapkan tubuh ke jalanan, "Widih, cantik banget gaunnya. Tapi, kebuka banget," kataku mengomentari gaun yang ada di toko sebrang.


"Widih, keren banget Mbak-mbak itu. Bisa salto di muka umum."


"Nah, itu malah kayang bwahahaha."


Cittt ...!


Bughh ...!


Mobil rem mendadak, membuat tubuhku otomatis terpelanting ke depan. Syukurnya tangan kekar Om Riki menahan tubuhku agar tak bertubrukan dengan bangku sopir.


"Pak, bisa hati-hati, gak?" tanya Om Riki dengan nada dingin, "kamu juga, kenapa gak pake sabuk pengaman?"


"Maaf, Pak Riki. Tadi tiba-tiba ada orang nyebrang padahal belum waktunya orang menyebrang," jawab sopir dengan nada rendah.


"Lain kali hati-hati!"


"Siap Pak Riki."


Aku mengembalikan posisi tubuhku dengan duduk yang lebih baik, "Om maafin Caca," kataku menatap wajahnya yang fokus tengah memasangkan sabuk pengaman.


Tak ada jawaban, "Ih, Om!" panggilku lebih keras lagi.


"Hm?" tanyanya menatapku.

__ADS_1


"Maaf," cicitku menatap lantai mobil.


"Iya, gak papa," jawabnya sembari tersenyum.


__ADS_2