
Setelah acara di gedung, aku dan Om Riki yang sudah bergelar menjadi suamiku langsung ke apartemen miliknya.
Di acara tadi, aku ingat persis bagaimana bahagia Fina yang ternyata telah menikah bahkan tengah mengandung anak keduanya.
Sedangkan Kak Aldy? Dia membawa seorang wanita yang sangat anggun dan tertutup bergelar tunangannya.
Om Farhan? Laki-laki itu malah sempat mengambil alih panggung dengan melamar wania yang dipujanya.
Ingat, gak? Wanita yang dia minta nomor handphone-nya? Yap, ternyata hubungan mereka berlanjut begitu saja.
Om Riki tengah membersihkan tubuhnya, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Aku sudah berganti pakaian santai karena memang risih.
Ceklek ...!
Pintu kamar mandi terbuka, aku yang duduk di tepi ranjang langsung melihat ke arah itu. Mataku melotot kala melihat Om Riki keluar dengan handuk yang melilit di atas pinggangnya.
"Dih, Om! Lu gak malu, ya?!" teriakku dan langsung lari dari kamar.
Bagaimana pun, aku gak pernah liat tubuhnya bagian dalam. Tetap aja akan kaget dengan hal itu yang ditunjukkan padaku secara tiba-tiba.
"Cil!" teriaknya yang keluar dari kamar sedangkan aku memilih duduk di sofa ruang tamu atau keluarga.
Di apartemen ini, cuma hanya ada satu kamar. Om Riki datang menghampiri, kututup mata lebih dulu takut jika melihat auratnya lagi.
"Bwahaha, kenapa di tutupi?"
"Om udah pake baju?" tanyaku yang masih enggan membuka tangan.
"Sudah, kok."
Kubuka jari perlahan, benar dirinya sudah memakai baju kaos putih dan celana joger.
"Cil, kamu gak mandi?"
"Mandi deh, bentar mau ke kamar dulu."
Aku langsung bangkit dari tempat duduk dan berjalan ke arah kamar kembali, saat hendak melangkah.
Tiba-tiba tanganku tertahan oleh tangan Om Tuir, tubuh yang tidak seimbang membuatku jatuh di pangkuannya.
Pandangan kami saling bertemu, itu tak bertahan lama hingga akhirnya aku tersadar dengan situasi saat ini.
"Ihh, Om! Apaan!" teriakku yang memberontak ingin bangkit dari pangkuannya.
Bukannya melepaskan, dia malah melingkarkan tangannya ke tubuhku. Aku langsung melotot dan menatap tajam ke arahnya.
"Gas, malam ini?" tanyanya sok manja.
__ADS_1
"Huwek ... paan sih suara lu kek gitu Om! Gosah sok romantis, deh! Apalagi sok manja. Lepasin Caca!" Aku terus memberontak, karena takut jika dia sampe macam-macam.
"Masa dengan mudah aku lepasin, padahal buat mendapatkannya hampir 5 tahun lebih," ucapannya mengingatkan aku bahwa memang dia paling lama berjuang untuk mendapatkan diriku.
"Om, lu jan ngadi-ngadi. Gue risih, nih!"
Bukannya melepaskan, dia malah memeluk tubuh ini, "Om ...!" teriakku dengan kencang, "lu bisa kena kasus pelecehan ini! Memeluk seseorang tanpa izin!"
"Bahkan, gak ada pernah tercatat kasusnya seorang suami memperkosa istrinya."
Aku langsung memukul mulutnya, "Dih, malah ngomongnya macam-macam!" Tak tahu harus bagaimana menyelamatkan diri. Aku mencubit pinggangnya dan dirinya meringis refleks membuka pelukan.
Tak ingin membuang waktu, aku segera berlari bahkan tanpa sendal karena sendal sudah terjatuh akibat aku yang memberontak dari tadi.
Setelah sampai di kamar, aku langsung mengunci pintu dan mandi. Mau tak mau kami tetap satu kamar, karena tak mungkin aku atau bahkan Om Tuir yang tidur di sofa.
Satu bulan sudah pernikahan kami, ya, tetap aja kadang ada lari-larian dan omelan dari Om Riki. Menyebalkan!
Kami sudah mendaki gunung yang aku idam-idamkan, dari dulu aku memang sangat ingin mendaki.
Hanya saja, melihat diriku yang sepertinya akan kesusahan akhirnya aku memilih untuk mengubur impian itu dan menunggu memiliki suami saja.
Meskipun, awalnya aku sempat berpikir. Apakah suamiku nanti mengizinkan? Atau ... apakah dia nanti suka jalan-jalan apalagi mendaki?
Namun ternyata, Allah mempertemukan aku dengan seseorang yang rela ngelakuin apa saja demi membuat aku bahagia.
Om Farhan, Kak Aldy juga suamiku sedangkan cewek ada Jelita, Anggi juga aku. Setelah merasa puas di gunung.
Ternyata Om Riki tak merasa puas, dia mengajakku untuk kembali berliburan hanya berdua ke Yogyakarta tempat impianku juga.
Di Yogyakarta kami hanya sampai seminggu, tak terlalu lama akibat kerjaan Om Tuir yang masih banyak.
"Huwek ...." Aku berlari dari kamar menuju wastafel.
Malam ini, entah mengapa perutku rasanya sangat aneh. Badan juga terasa lemas, "Sayang, kenapa?" tanya Riki dengan panik dan memegang bahuku.
"Gak tau kenapa Om, ini perut rasanya sakit banget," lirihku yang sudah ngerasa tak kuat harus berlari dan memuntahkan isi perut.
Tanpa aba-aba, Riki langsung berlari mengambil kerudung Caca. Dia juga mengambil jaket dan memasang kaos kaki tak lupa rok plisket.
Ia menggendong Caca ke dalam mobil, "Kita mau ke mana?" tanya Caca yang masih bingung.
"Ke rumah sakit," jawabnya singkat dan fokus kembali ke jalanan.
15 menit, Caca dan Riki sudah sampai di rumah sakit. Caca memberontak karena Riki tak membiarkan dirinya untuk berjalan.
"Om, yang sakit itu perut Caca. Bukan kaki!"
__ADS_1
"Sekali lagi kau panggil aku dengan sebutan Om, maka tak akan ada jalan-jalan untukmu besok Sayang," ancam Riki menatap ke arah Caca.
"Iya-iya, Mas. Caca bisa sendiri jalan!"
"Gak papa, bentar lagi juga akan sampe."
Setelah sampai di depan ruangan, Caca dan Riki masuk. Riki membaringkan ke brankar dan menunggu Caca.
"Dia tak papa Pak," kata dokter wanita yang tersenyum.
"Apanya yang gak papa? Orang dia muntah-muntah sampai pucat seperti itu!"
"Itu hal wajar Pak di dalam kehamilan."
"Ha?" tanya Riki dan Caca langsung saling menatap tak percaya.
"Iya, istri Bapak sedang hamil. Saya sarankan langsung periksa ke spesialis kandungan saja," terang dokter tersebut lalu tersenyum.
Riki langsung memeluk Caca setelah dokter pergi dari ruangan meninggalkan mereka berdua. Caca kaget kala melihat air mata yang turun dari mata Riki.
"Mas, kamu nangis?" tanyanya sambil tertawa kecil.
"Bukan, ini bahagia," jawabnya kesal.
"Bwahahahah, bahagia mah senyum tanpa air mata."
"Diam, Cil! Kau ini, sudah akan menjadi seorang Ibu tetap saja menyebalkan!"
"Bwahahhaa, menyebalkan dan ngagenin 'kan?"
Sembilan bulan telah berlalu, di masa kehamilan Riki begitu posesif akan Caca begitu juga Milda dan Mamanya Riki.
Tiap bulan, pasangan itu disuruh untuk tinggal di rumah orang tua mereka. Kadang, Riki sampai menolak karena merasa bahwa dirinya bisa menjaga Caca juga calon anak mereka.
Di ruang operasi, Riki menemani istrinya meskipun sebenarnya tak diberi izin. Ia juga melarang dokter untuk tak memberi izin Caca menggunakan kerudung.
Namun, Riki berkata, "Berapa ratus juta yang kalian inginkan? Saya tak ingin ada dokter laki-laki dan hanya beberapa orang saja dokter wanitanya!"
Semua orang yang menunggu tengah cemas, Caca sebenarnya ingin normal tapi Riki melarang karena katanya banyak seorang istri yang meninggal setelah melahirkan secara normal.
Dirinya tak ingin hal tersebut menimpa dirinya.
Oek ... oek ... oek
Suara tangis bayi menggema, "Selamat, anak Ibu dan Bapak laki-laki. Dia tampan sekali dengan hidung yang mancung," kata dokter sambil menyerahkan bayi ke perawat untuk dibersihkan.
"Lihatlah, dia tampan dan hidungnya mancung. Pasti sepertiku, akan kuajari dia nantinya untuk mencuri hati wanita dengan cara yang berkelas," bisik Riki yang masih sempat-sempatnya berkata seperti itu.
__ADS_1
Beneran END