
Serahkan masalah yang kau punya kepada Allah. Karena, hanya Dia yang bisa membantumu keluar dari masalah itu.
Keluar dari kamar dengan langkah lemah, Caca sebelumnya berniat ingin langsung ke rumah sakit. Tapi, ia lebih tertarik untuk membeli kopi di sebrang apartemen terlebih dahulu.
Dengan penuh hati-hati, ia melihat jalanan dengan kendaraan yang berlewatan. Sedikit berlari agar mempercepat sampai di mall yang ada.
Ia masuk dan segera memesan cofe yang diinginkan lalu berjalan kembali ke arah rumah sakit untuk segera melakukan perayaan kecil-kecilan.
Masalah kado? Ia sudah membelinya dari waktu yang diumumkan, mereka membeli satu kado dengan uang patungan tapi bukan dirinya yang memilih kado. Apa pun keinginan mereka itu yang ia sepekati juga.
Balon-balon terlihat menghiasi ruang tunggu, beruntungnya belum ada pasien yang nunggu. Kalau tidak? Bisa-bisa dokter dan perawat akan terkena denda oleh boss.
Caca hanya duduk di bangku tunggu pasien sambil menikmati kopinya tadi, "Dokter?!" panggil seseorang yang membuatnya kaget.
"Iya?" tanya Caca dan langsung menatap ke arah orang yang memanggilnya.
"Kenapa malah melamun?"
"Oh, tidak! Saya hanya sedang menikmati kopi saja," kata Caca dan tersenyum.
"Ayo ke situ, bentar lagi dokter akan datang ke sini. Biar dia bisa melihat kita semua."
"Baiklah."
Meskipun langkah kaki berat, Caca tetap harus memeriahkan hari ini. Ia masih saja kepikiran dengan keputusan apa yang harus dirinya ambil.
Ah ... biarlah nanti akan aku adukan kepada Tuhanku masalah ini. Karena, bagaimana pun Tuhan yang mengatur segala yang terbaik bagi hamba-Nya.
Selesai memberi kejutan dan berfoto bersama, kue yang disediakan dan beberapa makanan ringan pun diberikan untuk masing-masing orang.
Caca tak terlalu menunggu bagian, ia langsung masuk ke dalam ruangan dan meletakkan tas juga cofe yang belum habis diminum olehnya.
Ia mengeluarkan buku juga pena dan mulai menulis kembali, sesekali cofe diminum dengan handset yang ada di telinga.
"Permisi Dokter," ucap seseorang yang masih bisa di dengar Caca karena volume suara yang kecil.
"Iya, ada apa?" tanya Caca dengan badan yang duduk tegap dan pena masih di tangan.
"Ini punya dokter," kata perawat sambil masuk membawakan makanan yang memang hak Caca.
"Oh, kau tak perlu repot-tepot," jelas Caca yang sebenarnya tak enak.
__ADS_1
Perawat berjalan yang menaruhkan tempat di atas meja Caca, "Apakah dokter ada tugas tambahan? Sehingga dari tadi seperti banyak pikiran juga ini belajar kembali?" tanyanya menatap buku Caca.
Caca langsung menatap bukunya dan menampilkan cengiran, "Oh, ini bukan masalah besar. Tak apa."
"Jika ada masalah, dokter bisa cerita kepadaku. Aku akan dengan senang hati mendengarkan."
"Baik, terima kasih."
"Kalau begitu saya permisi," pamitnya dan pergi dengan menutup pintu kembali.
'Ya, memang. Sebaiknya aku istikharah 'kan tentang ini agar tak mengganggu pikranku, setidaknya itu adalah jawaban terbaik nantinya dari Allah,' batin Caca tersenyum dan merasa tak terlalu pusing lagi memikirkan tentang jawaban apa yang akan dirinya berikan.
Saat tengah memeriksa pasien, suara dering handphone membuat Caca menatap perawatnya, "Tolong lanjutkan, aku ingin mengangkat panggilan dulu," kata Caca menyerahkan pasien yang di duga asam lambungnya kambuh.
Ia segera mengangkat panggilan yang ada, "Iya Pak?" tanya Caca kala melihat nama bosnya yang tertera.
"Nanti jam 2 kumpul di ruang meeting, dokter barunya sudah tiba dan dirimu juga spesialis anak akan bekerja sama dan membahas tentang ini bersama-sama nantinya."
"Maaf, memangnya kenapa harus meeting bertiga? Apakah kami akan ditugaskan ke sebuah wilayah?"
"Tidak."
"Lalu, kenapa harus meeting Pak?"
Panggilan di akhiri, Caca menatap dengan wajah sebal ke handphone miliknya, 'Hufttt ... sabar Caca,' batinnya dan berjalan kembali untuk melanjutkan tugas.
Setelah empat pasien telah selesai, waktu makan siang pun tiba. Caca segera berjalan ke kantin khusus pekerja, saat dirinya ingin masuk ke kantin.
Ia tak sengaja menatap seseorang yang membuatnya sampai berhenti dan melihat punggung orang tersebut yang semakin menjauh.
Gelengan pun ia lakukan, 'Ah, tak mungkin dia di sini,' batin Caca dan melanjutkan untuk masuk ke dalam kantin.
Caca makan apa yang menurutnya suka saja, ketika tengah asyik makan. Notifikasi masuk ke dalam handphone miliknya.
[Aku sudah sampai]
Satu pesan membuat senyum Caca mengembang, setidaknya ia tahu bahwa tak terjadi apa-apa.
Ia menekan tombol telepon dengan mulut yang mengunyah, "Halo Om," ucap Caca memulai panggilan.
"Iya?"
__ADS_1
"Udah sampai?"
"Udah, kok."
"Alhamdulillah."
"Huum."
"Yaudah, Caca matiin lagi ya."
"Lah, cuma mau nanya itu doang?" tanya Riki yang kebingungan dengan tingkah Caca.
"Iya, cuma mau mastikan aja."
"Oh, takut saya kenapa-kenapa, ya?"
"Dah, ah! Ca mau sambung makan, Om hati-hati dan langsung istirahat, ya," pesan Caca dan akhirnya mematikan panggilan.
Ia sedikit merutuki kebodohannya, bisa-bisanya jarinya malah dengan lancang langsung memanggil nomor laki-laki itu.
Perut telah terisi dengan tak terlalu kenyang, karena memang tak boleh makan secara berlebih-lebihan. Karena, dalam ajaran Islam, umat muslim dianjurkan untuk tidak berlebihan ketika menyantap makanan. Orang yang terlalu banyak makan akan merasa kekenyangan sehingga disinyalir menjadi malas untuk menjalani ibadah.
Caca langsung keluar dari kantin dan menuju musala yang ada di rumah sakit untuk mengerjakan salat Zuhur.
20 menit berlalu, Caca kembali lagi ingin melanjutkan pekerjaan. Namun, matanya tertarik saat melihat seorang pasien yang sedang duduk di kursi roda menatap taman yang ada.
Ia berjalan ke arah orang tersebut, sedang apa dia? Mengapa tak ada keluarga yang menjaga, kenapa sendirian seperti itu?
Caca mendekat dan kebetulan di samping wanita itu ada bangku, "Kau sedang apa?" tanya Caca yang ternyata tak sama sekali membuat wanita itu kaget.
Bibir yang pucat dan kantung mata yang parah juga hitam, apakah dia adalah arwah? Mengapa seolah tak terurus oleh keluarga?
Caca langsung menatap orang tersebut, ia memakai gelang nama dan juga gelang berwarna putih yang khusus dibuat rumah sakit untuk pasien VIP.
"Apakah kau dokter baru?" tanyanya. Mendengar pertanyaan yang terucap dari mulut pasien membuat Caca menatap dengan heran. Mengapa dirinya pula yang bertanya.
"Ya, aku lumayan baru di sini," kata Caca ramah.
Setelahnya, wanita itu malah menatap lurus ke arah bunga-bunga yang ada, "Apakah kami yang sedang mengidap penyakit boleh bergantung kesembuhan kepada seorang dokter?" tanyanya dan menatap Caca sekilas.
"Tidak," kata Caca dan ikut menatap bunga yang ada.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyanya menatap Caca.
"Karena kami pun manusia biasa, kami bukan Tuhan yang bisa mencabut penyakit atau nyawa seseorang. Kami hanya perantara kesembuhan kalian. Namun, sangat disayangkan banyak keluarga pasien yang tak terima atau bahkan menyumpah serapah kami ketika salah satu keluarganya dipanggil Tuhan," jelas Caca yang sudah merasakan dimaki oleh salah satu keluarga pasien meskipun dirinya hanya dokter tambahan/pendamping.