
"Tanpa Tante kasih tau soal Caca hama tersebut, Caca udah sadar diri Tante. Mangkanya Caca kuliah begitu sangat jauh, padahal universitas juga banyak di Indonesia. Karena apa? Karena Caca emang mau menjauh dari semua orang termasuk dari Om Riki, anak Tante."
"Masalah Caca pelet, nauzubillah. Tante telah fitnah Caca, Caca ... sama sekali tidak pernah melakukan apa pun kepada Om Riki hingga membuat dia seperti saat ini," sambung Caca yang sudah mulai tenang.
"Halah, kamu tuh emang gak bisa dipercayai! Saya minta sama kamu untuk jauhi Riki dan jangan berani mengganggu pernikahan mereka, sebentar lagi Riki sama Diva akan nikah saya minta kamu jangan datang atau bahkan pulang ke Indonesia!"
"Baik Tante, ada lagi? Biar Caca kabulkan semuanya."
"Sudah, ingat satu hal! Jangan datang ke acara nikahan Riki apalagi kembali ke Indonesia."
"Emangnya Mama punya hak apa untuk melarang seseorang kembali ke tanah air?" tanya Riki.
Entah bagaimana bisa, Riki sudah berdiri di samping Caca tanpa wanita itu ketahui dan mengambil handphone miliknya.
"R-riki? Kamu kenapa Nak? Apa yang sakit?"
"Ma ... denger baik-baik, buku yang sudah dibaca hingga akhir dan dibaca berulang-ulang kali tak akan merubah endingnya. Jika pembacaan pertama sad ending maka akan sad endinglah seterusnya!"
"Riki ...."
"Udah malam Ma, tidur! Caca juga mau tidur." Panggilan dimatikan Riki sedangkan Caca membuang muka.
Ia tak ingin memperlihatkan wajahnya yang sudah sembab akibat ulah Mama Riki, "Mama bilang apa?" tanya Riki menatap ke arah Caca.
"Gak ada," jawab Caca tanpa melihat ke arah Riki.
"Liat aku Ca, Mama ngomong apa?" tanya Riki sekarang jongkok di samping Caca.
"Gak ada!" Dirinya berdiri. Namun, dengan cepat di tahan Riki membuat wanita itu kembali terduduk lagi.
Pandangan mereka bertemu, Riki melihat setiap inci wajah Caca membuat wanita itu segera memalingkan wajah.
"Semenyakitkan itu ternyata yang Mama ucapkan, ya? Kenapa gak kau putuskan aja sekalian panggilannya kalau kamu gak tahan?"
Caca tak menjawab, bulir itu pun kembali turun akibat Riki yang mengingatkan kembali. Dengan cepat ia hapus dan mencoba menguatkan diri kembali.
"Mama bilang apa aja selain gak ngasih kamu kembali ke Indonesia?"
"Gak ada Om, lebih baik kita kembali ke ruangan, aja. Ini sudah malam dan Om juga belum boleh terlalu banyak gerak," jawab Caca dengan mencoba tersenyum.
Riki menggeleng, "Cerita Ca," kata Riki pelan.
"Om, Caca capek. Kita tidur, ya."
"Yaudah, besok kamu harus kasih tau apa yang Mama katakan."
"Tak perlu tau."
"Harus."
"Supaya apa?"
"Karena dia Mamaku."
Caca diam sebentar, ia bangkit, "Yuk, masuk kembali ke ruangan."
Riki berdiri dan berjalan dengan pelan, handphone Caca masih berada di genggamannya.
"Handphone Om di mana? Tadi, Om Farhan mencari katanya ada suatu hal yang penting."
__ADS_1
"Apa dia yang memberi tahu kalau aku di sini?"
"Ca juga gak tau Om."
"Terus, dari mana dia dapat nomormu?"
"Mungkin, paket sudah sampai di rumah Om. Nomor Caca ada di situ."
"Kau mengirim ke alamat rumah Mama?"
"Jadi, ke mana?"
"Ah ... aku lupa bahwa kau tak tau kalo aku sudah punya apartemen sendiri."
Riki kembali ke brankar dengan mengangkat kaki hati-hati, sedangkan Caca duduk di bangku yang ada.
"Katanya mau tidur, kenapa gak pulang?" tanya Riki dan melihat jam yang ada.
"Iya, ini juga mau tidur."
"Tidur di mana?"
"Di sini."
"Di sini aja, di atas muat kok berdua."
"Dih, apaan tidur berdua!"
"Haha, sudah aku ngantuk kembali. Aku tidur duluan, ya."
"Iya Om."
"Ca ... apa yang Mama katakan sebenarnya? Apa sangat sakit sampai membuatmu lagi-lagi melukai bibirmu itu?"
Karena Caca menggigit bibirnya kembali tadi, membuat cairan merah kembali keluar dari bibirnya yang belum sembuh itu.
"Ca ... maafin Mama kalo emang sesakit itu, ya? Mama belum tau aja tentang kelakuan jahat wanita itu, akan ada saatnya Ca. Kau tenang saja."
Riki bukan tak ingin mengusap wajah tenang wanita di depannya itu. Namun, dia takut Caca akan terusik.
Dirinya pun ikut kembali ke dalam mimpi bersamaan dengan Caca.
"Mama, kenapa sih teriak-teriak malam-malam gini?" tanya Papa yang menghampiri istrinya di lantai atas.
"Papa tau? Riki berani melawan Mama karena wanita itu."
"Mama pasti berkata yang buruk sama Caca mangkanya Riki gak terima."
"Papa kenapa jadi belain dia? Papa suka sama Ibunya mangkanya Papa bela, ya?"
"Mama apaan, sih! Orang gak pernah ketemu jadi nuduh-nuduh begini, jangan salahkan anakmu kalau nanti dia mengambil keputusan semaunya dan tak mendengarkan omonganmu! Dah, Papa mau tidur dulu," ujar Papa dan melangkah ke arah kasur.
Suara ponsel Caca membangunkan Riki dari tidurnya, ia tersenyum menatap mata Caca yang masih enggan terbuka.
"Kalau tiap pagi liat wajah yang adem gini, bisa tenang jiwa ini," kata Riki sambil tersenyum.
"Cocok banget dah jadi calon istri," sambung Riki lagi dengan senyum yang tak luntur.
Mata Caca perlahan terbuka, mungkin karena terusik juga akibat alarm yang tak dimatikan Riki, "Om, udah bangun?"
__ADS_1
"Udah."
"Ngapain senyum-senyum?"
"Enggak, mau biasain diri aja biar gak kaget kalo nanti tiba-tiba liat wajah bidadari di samping aku."
"Ck, masih pagi! Gosah gombal-gombal, dah. Sono wudhu!"
"Kamu gak shalat?"
"Enggak."
"Kenapa?"
"Lagi istimewa."
"Ohh ... Perempuan Mode Singa ternyata."
"Ha?"
"PMS. Perempuan Mode Singa."
"Apa Om bilang?" tanya Caca menaruh tangannya ke pinggang sambil mengangkat kepalanya menatap tajam ke arah Riki.
"Nah 'kan," kata Riki sambil tertawa.
"Dahlah, gak mau aku bantuin ke kamar mandi."
"Yah ... jangan gitu dong, Ca. Mana bisa aku sendirian ke sana, cepetan dong udah mau pagi nih. Aku mau mandi juga."
"Males! Sendirian aja sono!" ketus Caca membuang muka.
Riki menghela napas pelan, dirinya mau tak mau harus berjalan sendirian. Caca yang mendengar helaan itu juga sesekali rintihan menatap ke arah Riki.
'Lah, beneran mau jalan sendirian?' batin Caca yang cemas.
Saat Riki sudah ingin berjalan, tiba-tiba keseimbangannya terganggu, "Om!" teriak Caca dan berlari agar bisa menahan tubuh Riki tak jatuh.
"Makasih Ca."
"Gak usah sok sendirian mangkanya, kalo jatuh tadi keluar lagi nanti darah dari kakinya."
"Lah, kamu lagian gak mau nolongin saya. Yaudah, masa harus saya paksa?"
"Iya-iya, maafin Caca. Udah, buru, yuk!"
Setelah selesai shalat juga mandi, Riki duduk di brankar. Caca ingin mengganti perban yang ada, "Nanti, kita keluar, yuk!" ajak Caca.
"Keluar ke mana?"
"Polisi, tentara dan beberapa saksi akan datang ke sini. Kamu juga akan diajak buat cerita kronologi kejadian."
"Iya, Om."
"Apanya yang iya?"
"Iya, ikut ntar keluar."
"Kamu takut, ya?"
__ADS_1
"Enggak, kok. Kemarin juga udah di interogasi sendirian."