Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Gak Kepo!


__ADS_3

Aldy yang mulai risih dengan wanita di depannya melihat arloji yang ada di tangan sebelah kiri miliknya, "Dokter tidak ada pasien? Bukankah ini waktunya pasien berdatangan?" tanya Aldy dengan wajah serius.


"Oh, iya. Saya lupa mau ngambil beberapa alat tadi," ujar Jessica sambil menepuk keningnya pelan.


Aldy hanya menampilkan cengengesan saja, 'Syukurlah,' batin Aldy yang memang sudah tak nyaman dengan adanya Jessica.


"Yasudah kalau begitu, next time kita ketemu lagi dan bicara lagi, ya, dokter?!" Aldy tak menjawab apa-apa, lagi-lagi hanya cengengesan yang bisa dirinya lakukan.


Jessica pergi meninggalkan Aldy, Aldy yang tahu pasti Jessica akan lewat dari sini memilih untuk pergi dan mencari tempat yang lain.


Saat dirinya ingin pergi ke halaman depan rumah sakit, ia tak sengaja melihat Caca yang tengah berkutat dengan berbagai macam alat dan fokus pada pasiennya.


Pintu terbuka membuat Aldy menatap ke arah itu tanpa sepengetahuan Caca atau perawatnya yang berdiri tak jauh dari Caca.


Perawat Caca memalingkan tubuhnya menatap ke belakang, sontak Aldy yang merasa ketahuan langsung pergi begitu saja meninggalkan ruangan.


"Hihihi," ujar perawat yang tertawa dengan menutup mulutnya.


Aku yang tengah fokus memeriksa langsung melihat ke sebelah kiri, "Kenapa?" tanyaku menatapnya yang sudah mendatarkan kembali wajahnya.


Tak mendapat jawaban dengan segera kulihat ke arah pintu yang mungkin penyebab perawatku tertawa. Kosong, tak ada apa-apa di situ.


"Apa kau dan dokter Aldy pacaran? Atau pernah dekat semasa di Indonesia?" tanya perawat yang membuatku membuang muka malas.


Lebih baik fokus pada pekerjaan daripada harus berbicara tentang laki-laki itu, sangat tidak penting sekali.


Tak kujawab pertanyaan itu sampai akhirnya azan Asar berkumandang dari gadget-ku, sengaja kudownload aplikasi yang memiliki suara adzan, Al-Quran juga arah kiblat.


Agar aku mudah mengetahui hal itu di mana pun dan kapan pun, pasien tinggal satu lagi dan ini yang terakhir.


"Ibuk, saya mau shalat dulu, ya. Ibuk ditangani sama perawat saya, ya. Sudah saya kasih tau apa-apa saja yang bermasalah nanti dia akan yang ngasih obat ke ibuk," ucapku sebelum pergi meninggalkan pasien terakhir.


Dia hanya menjawab dengan anggukan dan tersenyum, memang mungkin aku yang salah kenapa orang sakit diajak berbicara?


Namun, agar dia tidak berpikir bahwa aku semena-mena menjalankan tugas itu sebabnya diberi tahu sebelumnya.


Kususun memang barang-barang yang ada, agar ketika selesai salat bisa langsung kembali ke apartemen.

__ADS_1


Kulangkahkan kaki menuju musala yang ada, "Dokter kok gak makan?" tanya penjaga kantin ketika melihatku.


Aku berhenti karena sapaannya itu dan memukul keningku sebentar, "Oh, iya, saya belum makan Buk. Lupa soalnya," jawabku dengan cengengesan.


"Hih, ntar sakit karena gak makan saya yang dimarahi sama Pak Bos, lho!"


"Iya maaf Buk, nanti selesai salat saya ke kantin deh."


"Awas aja lupa, ya!"


"Oke Buk." Kulanjutkan langkah yang sempat terhenti, entah kenapa aku bisa-bisanya tak lapar sama sekali.


'Ya Allah, aku masih mencintainya. Dia datang dengan segala kepastian, semoga kau memang mentakdirkan kami berdua.' Segala doa kupanjatkan untuk diriku juga Riki.


'Jika memang bukan aku jodohnya, maka berikan dia jodoh yang terbaik. Namun, jika benar-benar aku jodohnya maka jangan buat dia tersiksa karena aku ini.'


Memang cara terbaik dalam mencintai adalah mendoakan seseorang, karena bibir bisa berbohong tapi doa? Tak akan pernah bisa berbohong.


Tanpa sadar, air mataku menetes begitu saja. Ya, aku memang sangat jarang bercerita dengan Allah melalui doa tentang seperti ini.


Kembali kulipat mukena yang kupakai tadi, di dalam musala ada empat mukena yang tersedia. Karena, pihak rumah sakit tahu. Bahwa, lebih banyak non-muslim pekerjanya dibanding yang muslim.


Itu sebabnya, tak terlalu banyak mukena yang disediakan di dalam musala. Aku keluar dengan handphone yang kugenggam.


"Kayak ada gebetan aja, bawa handphone ke mana-mana," sindir seseorang dan langsung kulihat siapa yang berkata seperti itu.


"Biarin!" ketusku kala mengetahui siapa orang tersebut.


"Gimana kabar Bunda?" tanyanya kali ini dengan suara yang serius.


"Alhamdulillah baik," jawabku dengan tetap fokus pada langkahku yang sekarang menuju ke kantin.


Beberapa menit kami saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing, "Kapan acara nikahnya?" tanyaku yang begitu langsung saja.


Kulirik ke arah tangannya agar dia peka dengan apa yang kumaksud, "Oh, ini?" tanyanya dan menatap ke arah tangannya.


"Iya."

__ADS_1


"Doain aja," papar Aldy dan membuat aku tersenyum juga sesekali mengangguk.


"Semoga lancar sampai hari H-ya," tuturku mendoakan kelancaran buat mereka.


"Kau sendiri?" tanya Aldy dan kulirik dirinya melihat ke arah jari-jariku yang masih kosong.


"Belum tau, masih jadi pembicaraan antara aku dan Allah Kak."


"Semoga dia yang terbaik."


"Aamiin."


Sekarang terlihat sangat seperti dua orang asing, rindu sangat rindu 4 tahun yang lalu selayaknya dua orang yang tanpa sekat. Namun, sekarang semua sudah tak bisa sama lagi.


"Kakak mau ikut ke kantin?" tanyaku berhenti karena sudah sampai di kantin.


"Boleh deh, aku mau bertanya beberapa hal tentang obat di sini atau penyakit apa yang paling banyak menimpa anak-anak," ungkap Aldy dan mengeluarkan buku dari sakunya. Apa dia memang sengaja bawa buku itu tadi? Sepertinya memang seperti itu.


Kami akhirnya berjalan kembali ke dalam kantin, di dalam sudah ada beberapa perawat yang juga sedang makan sore sepertinya atau makan siang yang kesorean?


Mereka langsung menatap intens ke arah kami, bahkan ada juga yang langsung berbisik. Aldy yang melihat itu langsung berjalan duluan yang tadinya beriringan meskipun tak terlalu berdekatan.


Dirinya masih paham dan tahu bahwa aku memang tak suka ditatap oleh orang-orang, setiap kali tatapan itu menujuku maka aku akan menjauhi hal yang membuat aku ditatap.


Sebelum duduk di bangku yang sudah dipilih Aldy, aku memesan menu makanan untuk sore ini. Kuambilkan juga salad buah untuk Aldy karena aku tahu bahwa dia sudah makan tadi siang.


"Aku tak minta," kritiknya kala kuturunkan satu piring salad dari nampan.


"Gak mungkin aku makan Kakak gak makan," kataku dan duduk di bangku depan dia dengan nampan kuletakkan ke kursi yang kosong.


"Eh, yang baru lagi nih dokter Caca!" tegur perawat yang duduk di sebelah meja kami.


Aku yang geram mendengar ucapan itu dan kaget langsung melihat ke arahnya, dia bukan perawatku dan aku pun tak kenal padanya.


Bagaimana mungkin dia bisa kenal namaku? Aku pun tak pakai pengenal nama, "Iya dong, orang cakep, baik, imut mah bebas. Yang paling penting gak tukang nyinyir dan kepoan sama hidup orang, pasti banyak deh cowok-cowok yang akan berdatangan," jawabku dengan tersenyum sok ramah.


Kulihat wajahnya berubah menjadi datar sedangkan Aldy menutup mulutnya agar tak terlihat tersenyum karena tanggapanku dengan ocehan perawat satu ini.

__ADS_1


__ADS_2