
"Iya," jawabnya singkat dengan jari yang sekarang tengah menari di papan keyboard laptop.
"Badannya besar, tubuhnya tinggi, kalau cemburu, semuanya di amuk. Riki-riki, itu namanya," ujarku sambil memainkan handphone dan bersandar.
"Heh, Bocil! Lu gak sopan banget dah!"
"Dih, ngapa Om Tuir? Bagus 'kan lagunya?"
"Gak ada kayak gitu liriknya, kamu bisa kena pidana karena ganti lirik lagu orang."
"Budu amat!" ketusku menatap handphone kembali.
Lebay banget 'kan Bestie! Masa, gitu aja dianggap serius. Emangnya bisa gitu tiba-tiba aku ketemu sama penulis lagunya? Lagian, tadi suaraku juga sangat lembut dan pelan.
Bahkan, nyamuk pun tak akan bisa dengar. Kenapa Om Tuir bisa dengar? Karena dia buaya, bukan nyamuk bwahahaha.
Setelah perjalanan yang begitu membosankan, akhirnya aku sampai di tanah air. Rasanya pen teriak sangking bahagianya.
"Farhan, sopirnya sudah datang?" tanya Om Riki dengan Farhan yang ada di belakangnya.
"Sudah Pak," jawab Om Farhan sambil membawa koper miliknya juga Om Riki. Sedangkan aku hanya menyimak percakapan dua orang tadi.
Koperku dibawa oleh, "Om, siniin koper Caca, ih! Gak berat juga," keluhku merasa gak enak. Dia minta bawakan kopernya, masa koperku dibawakan olehnya.
"Udah gak papa Cil."
"Kak Aldy pulang sama siapa?" tanyaku melihat dengan sedikit susah payah karena Om Tuir berada di tengah.
"Udah dijemput Umi, Ca."
"Ha? Umi Annisa ada di sini?" tanyaku kaget.
"Iya, saya udah ngabari Umi sebelumnya kalau akan pulang hari ini. Jadi, Umi yang jemput."
"Wah ... rindu banget sama Umi."
"Haha, kenapa bisa?"
"Ya, orang baik pasti akan selalu dirindukan Kak Aldy. Karena, di zaman sekarang mencari orang baik itu udah seperti mencari Dinausorus."
"Kenapa mencari? Mengapa tak menjadi saja?" timpal Om Riki yang tetap menatap lurus. Aku mendongak, melihat ke arah dirinya.
'Benar juga, jangan pernah mencari orang baik. Namun, jadilah orang baik itu,' batinku dengan kepala yang otomatis mengangguk.
__ADS_1
"Umi?" tanyaku pelan saat kami sudah keluar dari bandara.
"Caca?" tanya Annisa seraya berjalan menghampiri kami.
Aku langsung berlari dengan merentangkan tangan, "Umi!" teriakku dan disambut dengan dekap Annisa.
"Sayang, kamu apa kabar ya Allah. Udah besar banget, tambah cantik, tambah sholehah," kata Annisa mengusap bahuku.
"Eh-eh, kok nangis?" tanya Annisa. Aku tak tahu, entah mengapa rasanya sangat rindu dengan beliau.
Segera kuhapus jejak air mata dan lepaskan pelukan, "Gak papa Umi, Caca cuma rindu sama Umi. Udah lama habisnya gak ketemu sama Umi," ucapku jujur dengan tersenyum.
"Maa Syaa Allah, lagian kamu tuh. Pergi gak pamit sama Umi, anak apaan gitu. Gak pamit dulu sama Uminya," kesal Annisa mengerucutkan bibir.
"Haha, maafin Caca Umi. Caca gak maksud mau menghindar, kok."
"Iya, Sayang. Umi paham, kok," jawab Annisa tersenyum manis sambil mengusap kepalaku yang tertutup kerudung.
"Eh, kamu sama siapa nih pulangnya?" tanya Annisa melihat ke arah belakang Caca yang sudah ada Riki juga Aldy.
Aku melihat ke arah belakang juga, "Eh, Om. Om Farhan mana?" tanyaku saat melihat tak ada lagi kehadiran laki-laki itu.
"Masukkan koper," jawabnya singkat. Nah 'kan kebiasaan, kambuh lagi dinginnya kalo banyak orang.
"Caca sama Om Riki aja Umi, lagian searah juga sama dia," jelasku dan mendapatkan anggukan.
"Siap, Umi!" seruku sambil hormat, "kalau begitu Caca pulang dulu, ya, Umi. Assalamualaikum." Kucium punggung wanita itu dengan takzim.
"Waalaikumsalam, Sayang."
"Kak Aldy, Caca pulang duluan, ya."
Aldy mengganggukkan kepalanya, "Iya, Ca. Hati-hati, ya."
"Oke Kak. Daa ...." Kulambaikan tanganku dan segera berjalan dengan Om Riki yang kulihat mengangguk ke arah Umi dengan sedikit tersenyum.
Hanya sedikit, ya, kalau banyak-banyak aku juga akan cemburu nanti! Enak aja, aku dilarang senyum ke orang lain masa dia boleh. Eh!
"Kamu udah kasih tau Bunda, Ca?" tanya Riki melihat wajah Caca yang tak luntur senyuman.
"Belum Om," jawabku melihat ke arah laki-laki itu.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Mau ngasih surprise."
"Oh."
"I'm come back Indonesia!" teriakku saat sudah melihat langit Indonesia dan berada di depan mobil yang akan mengantarkanku kembali pulang.
"Cil, lu gak punya baju lain?" tanya Om Riki menatap bajuku. Aku yang tersenyum langsung menampilkan wajah datar dan melihat ke arah baju.
"Emangnya kenapa? Baju Caca bagus, kok. Ini mahal belinya, Om tau harganya berapa? 200rb, di pasar paling 35rb juga," kataku memegang baju ini saat dibeli di Amerika.
"Ha? Baju kek koran gitu 200rb?" tanyanya kaget.
"Ha? Baju siapa yang Om bilang kek koran?!" amukku yang tak terima dikatain baju desain kek koran.
"Ya, baju lu Cil! Desainnya kek koran gitu."
"Om, ih! Om ngehina baju Caca?" tanyaku yang sudah kesal level 1000 dengan tangan yang sudah berkacak pinggang.
"Bukan ngehina Cil, cuma coba deh liat emang iya 'kan?"
Dengan napas yang seketika memburu, dada kembang-kempis. Kuinjak kakinya yang tertutup sepatu, "Sakit, Cil!" keluhnya dan tak kuhiraukan.
Aku langsung masuk ke dalam bangku belakang mobil lebih dulu, setelah 10 menit dia tak masuk aku baru sadar, 'Astaghfirullah, kaki Om Tuir 'kan luka karena tembakan. Udah sembuh apa belum, ya? Jangan sampai berdarah lagi gara-gara aku injek tadi!' batinku yang sudah was-was.
Akhirnya, orang yang ditunggu masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingku, 'Ih, mau gak ngomong tapi ngerasa bersalah. Lagian, dia sih nyebelin! Masa ngatain baju aku kek model koran,' batinku sambil melihat ke arah baju yang kukenakan.
Kulirik sekilas, dia tetap dengan wajah songongnya itu. Gak ada niat minta maaf, gitu? Udah ngehina baju seseorang?
"Iya, saya minta maaf Cil!" ungkap Om Riki yang berhasil membuatku melotot.
"Ha?" tanyaku dengan kaget, dia pun akhirnya mengubah pandangannya menjadi ke arahku.
"Maafin saya, udah ngehina baju kamu, ya."
"Hm. Maafin Caca juga karena udah injek kaki Om, btw ... itu kaki yang kena tembakan atau bukan Om."
"Emangnya kenapa?"
"Takut aja kalo nanti berdarah kembali, coba buka Om," perintahku dan dia hanya menuruti.
Syukurnya, bukan itu yang kena, "Ah ... salah injek berarti Caca. Seharusnya yang sebelah lagi tadi yang di injek," gumamku melihat jalanan melalui kaca di sampingku.
__ADS_1
"Oh, kamu mau ngajak perang, ya, Cil?" tanya Om Riki yang sudah memasang sepatunya kembali.
"Lah, Caca gak ada ngomong gitu kok Om," jawabku seadanya dengan senyum yang kutahan. Demi apa pun, wajah Om Riki buat ngakak. Eh, maksudnya buat jatuh cin tah.