
Riki tertidur di brankar efek bius tadi, agar tak terasa sakit saat peluru tersebut diangkat, "Tolong ke sini," ucapku menelpon seseorang.
"Ada apa dokter?" tanya perawat pribadiku.
"Jaga dia, kalau dia mencariku langsung kabari aku. Aku ingin menangani yang lainnya," kataku berdiri dari bangku.
Riki telah kuselimuti, bajunya juga sudah diganti. Bukan aku yang mengganti. Namun, dokter yang laki-laki.
"Dokter, bibirmu apa tidak kau obati terlebih dahulu?" Aku memegang bibirku, sedikit perih tapi tak apa.
"Ya, nanti akan kuobati."
Aku segera melangkah, tak peduli dengan baju yang lusuh juga tanda pengenal yang entah ke mana.
Masuk ke ruang IGD, membantu dokter yang lainnya yang sedang berjuang mengeluarkan peluru di bagian masing-masing.
Syukurnya, tak ada yang koma baik itu tentara, Aldy, anak buah Riki dan juga Riki. Kecuali, anak buah dari dalang semua ini.
Ada satu yang kritis. Mungkin, akibat terlalu lama dan dalam peluru itu.
"Dokter Caca, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya atasan yang kutemui masih ada di loby.
Aku duduk di samping atasan, "Sebaiknya kita ke ruangan saja," ucap boss--pemilik rumah sakit yang tiba-tiba datang.
Aku mengangguk, kami bertiga akhirnya masuk ke ruangan meeting, kuceritakan semuanya secara rinci tanpa ada satu pun yang terlewati.
"Terus, di mana wanita itu?" tanya atasan tentara.
"Di bawa oleh anak buah Om Riki."
"Riki? Apa dia baik-baik saja" tanya boss menatapku.
"Iya, boss. Dia baik-baik saja, dia ada di ruangan saya."
"Baiklah, besok saya ke sini lagi. Sekarang, biarkan mereka semua di sini dulu untuk menenangkan diri," kata atasan.
"Dokter, bibirmu juga obati itu."
"Baik, bos."
Aku keluar terlebih dulu untuk kembali ke ruangan, "Dokter, mandilah dulu. Itu ada pakaian milikku sudah kuambilkan."
"Terima kasih."
Masuk ke dalam toilet yang ada di ruangan dan membasuh tubuh ini, di bawah pancuran air aku menangis kala melihat wajah-wajah orang yang tertidur menahan sakit akibat ulahku.
"Dasar beban!" makiku pada diriku sendiri.
Setelah merutuki diri, aku keluar dan duduk di meja milikku lebih dulu untuk mengobati luka. Tanpa sadar, waktu sudah berubah menjadi malam.
Perawat pun keluar setelah melihat aku selesai mengobati bibir, ia men-cek pasien yang lain dan langsung memberikan makan jika memang sudah bangun.
Caca mengambil kursi yang memang ada di sisi brankar, ia duduki kursi itu. Menatap wajah orang yang ada di depannya kini.
"Om ... ini, kali kedua Om harus sakit gara-gara Caca."
__ADS_1
"Om tau? Gara-gara ini juga Caca ingin jauh dari Om, karena Caca emang beban. Kalo gak ada Om dan Kak Riki tadi 'kan Caca udah tenang di sana. Caca udah bisa ketemu sama Ayah, Caca bukan gak suka diselamatkan Om. Tapi ...."
Setelahnya, hanya suara isakan yang mampu ia berikan. Dibenamkan wajahnya di sedikit kasur milik Riki.
"Udah, jeleknya nambah nanti," ucap seseorang dengan lemah sambil mengusap kepala Caca yang tertutup kerudung.
Hidung yang merah juga wajah yang merah serta air mata yang bercucuran itu menatap ke arahnya, "Om, udah sadar?" tanya Caca dengan wajah panik.
Hanya senyuman dan sedikit anggukan yang diberikan oleh sang empu, mungkin karena masih sakit yang ia rasakan.
"Bibirmu sudah diobati?"
"Sudah Om, rasanya tak sesakit yang kau rasakan pasti," ujar Caca melihat ke arah kaki kanan Riki yang tertutup selimut.
"Tak apa, bukannya cinta memang harus ada yang dikorbankan?"
"Stop Om. Jika yang dipertaruhkan untuk cinta itu bahkan harus nyawa, lebih baik tak usah ada cinta."
"Tenanglah Ca."
"Hiks ... kalau Tante tau, bagaimana Caca Om? Caca bisa dimarahin sama Tante."
"Hey, Mama tak ada di sini."
"Huwaa ... insting seorang ibu itu kuat Om. K-kalau anaknya kesakitan, ibunya j-juga pasti akan kesakitan."
"Sudahlah Ca, kau tak perlu takut. Apa kau ada yang sakit?"
Caca menggeleng, "Siapa yang menyuruhmu untuk melakukan hal itu tadi?"
"Itu, kau yang ingin menusuk perut wanita itu menggunakan gunting tadi."
Caca menunduk, "Dia emang orang jahat Om, lebih baik dia hilang saja dari bumi ini."
"Tapi, gak harus tanganmu yang menghilangkan nyawanya."
"Kalau emang harus seperti itu, kenapa tidak?"
"Wah ... ternyata nyonya Chantika Azizah ini sudah berani sekali," kata Riki menaikkan dagu Caca agar melihat ke arahnya.
"Om yang membuat Caca berani, sering diajak ke tempat yang menyeramkan, sih!"
"Haha, baru sekali kau sudah bisa ingin membunuh orang. Apalagi jika seterusnya?"
"Ck, Ca gak mau liat."
"Jadi?"
"Ca mau yang latihan."
"Haha, baik nanti kita akan latihan."
'Dih, beneran pulak?!' batin Caca kaget sedangkan Riki tersenyum.
Tok ...! Tok ...!
__ADS_1
Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan mereka, Caca bangkit dan berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Maaf, dokter Caca. Apa Pak Riki sudah bangun?"
"Sudah," jawab Caca kepada perawatnya yang sedang mendorong tempat makan pasien.
"Ini, dokter." Dia memberikan nampan yang berisi bubur, buah-buahan, susu juga air putih.
"Terima kasih."
"Eh, untuk dokter nanti saya akan ambilkan."
"Tidak usah."
"Tidak merasa repot kok dokter, tidak usah menolak."
Caca tersenyum, "Baiklah, terima kasih."
Perawatnya mengangguk dan pergi ke ruangan lain yang sepertinya ke ruangan IGD, di ruang IGD bisa muat 10 orang.
Jadi, disitulah para tentara juga anak buah wanita itu berada sedangkan Aldy berada di ruangannya dengan dijaga oleh perawat pribadi miliknya itu.
Anak buah wanita itu sudah diborgol oleh polisi, rencana besok polisi akan datang kembali ke sini dan tadi sore mereka mengurus TKP dan membawa mobil-mobil yang ada kecuali mobil Riki karena telah dibawa oleh anak buahnya yang beberapa orang tak mendapatkan luka sedikit pun.
"Om bisa duduk?" tanya Caca yang duduk kembali setelah mengambil makanan juga menutup pintu.
"Ca, sudah mau masuk isya."
"Iya Om."
"Tapi, saya belum Magrib apa harus di Qodho?"
"Gak perlu."
"Kenapa?"
"Karena Om pingsan."
"Terus?"
"Ketahuilah bahwa tiga hal ini (gila, pingsan, tidur) terkadang sama dalam beberapa hukum, dan terkadang orang yang tidur memiliki hukum tersendiri yang berbeda dari orang yang gila dan pingsan. Orang yang pingsan terkadang di satu s
sisi sama dengan orang yang tidur dan di sisi yang lain sama dengan orang gila. Penjelasan hal tersebut terdapat dalam beberapa cabang-cabang fiqih. Pertama, hilangnya hadats kecil berlaku bagi tiga orang tersebut (tidur, pingsan, dan gila). Kedua, sunnahnya melaksanakan mandi bagi orang yang baru sadar dari sifat gila dan pingsan (tidak berlaku bagi orang yang baru bangun tidur). Ketiga, mengqadha shalat ketika waktu dihabiskan dengan tidur adalah hal yang wajib, berbeda halnya bagi orang yang menghabiskan waktu shalat (tidak menemui waktu shalat) karena gila, sedangkan orang yang pingsan dalam permasalahan ini sama dengan orang yang gila (dalam hal tidak wajib qadha). (Syekh Jalaluddin As-Suyuthi, al-Asybah wa an-Nadhair, hal. 213)"
"Jadi, kau berkata aku sama dengan orang gila?"
"Astagfirullah ... huftt ... udah sana mandi Om, habis itu ambil wudhu dan shalat baru makan. Ca mau ke kantin juga ngambil makan."
"Bantuin saya."
"Baik Tuan."
Caca mengambil kursi roda, "Buat apa?"
"Buat ke kamar mandi."
__ADS_1
"Di papah aja Caca," jawab Riki kesal.