
Di sini aku sekarang, dengan degub jantung yang mulai tak beraturan. Bunda sudah menemani aku di ruang make-up sambil menunggu kami di suruh keluar.
"Pengantin wanita, silahkan keluar," ucap salah satu WO yang ada.
Aku dan Bunda mengangguk, Bunda menggenggam tanganku dengan erat menyalurkan energi positif untuk tetap tenang.
"Semua akan baik-baik saja, Sayang. Kamu gak perlu khawatir," ujar Milda menenangkan.
Akad nikah telah terucap dan sekarang aku telah resmi menjadi seorang istri dari Om Tuir. Tak pernah terbayangkan bahwa semuanya akan jadi nyawa.
Aku berjalan dengan pelan, Bunda berada di samping memegang tanganku. Ternyata, bukan tanganku saja yang dingin Bunda pun sama.
Kini, semua mata menuju ke arahku juga Bunda. Sesekali aku menatap ke tamu yang mungkin terkejut mengapa yang keluar berbeda wanitanya.
Namun, sebelumnya pun sudah diumumkan bahwa ada kendala kenapa bisa pengantin wanitanya berbeda.
Aku duduk di bangku tepat di samping Riki, untuk menandatangani beberapa kertas yang disediakan penghulu.
"Kau tampak begitu cantik, Sayang," bisik Riki saat aku tengah fokus menatap kertas yang akan kutanda tangani.
Refleks aku langsung menginjak kakinya yang tertutup sepatu sedangkan aku menggunakan hells.
Selesai menandatangani, "Silahkan istri salim tangan suaminya dan suaminya kecup kening istrinya," titah penghulu dan kulihat tukang fotografer sudah menunggu moment itu.
Dengan senyum kikum, aku meraih tangan Om Tuir dan mencium punggung tersebut dengan takzim.
Cukup lama, menunggu fotografer nyuruh untuk berganti pose.
"Gantian Mbak," teriak fotografer.
Aku langsung mendongak, senyum jahil sudah hadir di wajah Om Tuir. Serius, ini kali pertama laki-laki asing mengecup kening yang masih suci ini.
"Om, jangan nempel bibirnya, ya!" tegasku dengan sedikit berbisik.
Bukannya menjawab, tapi dia hanya tersenyum saja. Mendekatan wajahnya ke wajahku, ada perasaan aneh yang sulit kuungkapkan saat bibirnya menyentuh keningku.
Setelah selesai, ia memegang pucuk kepalaku, "Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih." Aku menadahkan tangan dengan mata yang tertutup.
Artinya: ya Allah, sungguh aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau berikan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.
Setelah doa selesai ia lafadzkan, wajahnya kembali mendekat dengan secepat kilat mengecup pipiku sebelah kanan.
__ADS_1
Membuat aku membulatkan mata, kucubit dengan segera perutnya membuat dia sedikit meringis.
Orang yang menyadari atas perbuatanku hanya tertawa, kami akhirnya diberi perintah untuk duduk di pelaminan yang dipilih oleh Nenek Lampir.
"Dih, sesak banget nih di buat sama bajunya!" protesku di sela-sela perjalanan menuju singgasana sementara itu.
"Nih Nenek Lampir pake ukuran berapa, sih? Hells-nya juga kenapa tinggi banget, sih!" keluhku lagi.
Aku yang biasa pakai flat shoes dan sepatu tanpa hak, kini harus menggunakan hells yang katanya 8/10 cm.
Mungkin, bagi sebagian orang menganggap aku lebay. Cuma tingginya segitu, tapi masalahnya di sini aku tuh gak pernah pake hells setinggi ini, Bestie!
Duduk di bangku dan jadi perhatian semua orang, Mama dan Bunda mulai datang ke hadapan kami.
"Mama minta maaf Riki, jika selama ini Mama egois sama kamu dan hampir membuat kamu masuk dan terjebak dalam kehidupan yang tak kamu inginkan," ungkap Mama Riki dengan air mata yang sudah turun.
"Mama yang begitu jahat sama kamu, hingga tak membiarkan kamu untuk bahagia. Maafin, Mama," sambung Mama Riki lagi. Riki langsung memeluk wanita itu.
"Riki gak papa Ma, maafin Riki juga jika selama ini masih sering dan selalu membangkang ucapan Mama," ucap Riki mengusap bahu Mama.
Sedangkan aku? Hanya menatap kedua orang itu kini yang sedang berpelukan. Jangan suruh aku ikutan, nanti juga akan ada bagiannya.
Mama Riki melepaskan pelukan dan mengusap air mata, Mama Riki menatap ke arahku dan hanya kubalas anggukan.
"Ma, gak perlu begini," kataku sambil menahan bahu ini agar tak bersimpuh lagi.
"Mama banyak salah sama kamu, Mama udah jahat sama kamu dan Mama bahkan pernah ingin menampar kamu. Mama kalu mengingat perbuatan Mama itu ke kamu," lirih Mama menunduk.
"Ma, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan di masa lampau. Caca juga paham kenapa Mama melarang Om Riki untuk dekat kembali sama Caca. Karena, Mama takut kalau Om Riki akan merasakan sakit hati lagi," ungkapku yang paham dengan alasan Mama Riki.
Setelah selesai drama minta maaf, dari Riki ke Bunda juga Mama Riki ke Bunda yang tentunya menciptakan haru.
Akhirnya, kami bisa duduk tenang meski sebentar sepertinya. Aku mulai risih karena badan yang gatal-gatal karena keringat.
"Ca, langsung gas?" tanya Om Riki berbisik.
Aku yang tak paham menaikan satu alis dan menatap ke arahnya, "Berapa kg?" tanyaku yang sama sekali tak mengerti dengan arah pembicaraannya.
"Ck! Seharusnya kau jadi spesialis kandungan saja, agar kau mudah merawat anak-anakku nanti."
"Anak-anak? Wihh, mau berapa orang lu Om!"
__ADS_1
"Ya, cuma 12 aja sih."
Mataku membulat dan memukul punggung tangannya, "Cuma! Lu kira gue apaan? Investasi anak?" bentakku yang kesal dibuatnya.
"Ya, tak apa jika yang di investasikan itu semuanya anakku," jawabnya santai.
"Om, sekali lagi lo ngomong masalah gitu. Gue tinggalin lo sendirian di sini, mana gue bahkan belum sempat mandi gara-gara acara dadakan udah kek tahu bulat!" ketusku dengan kesal.
"Kok kamu sekarang jadi kejam, Cil? Siapa yang ngajarin?"
"Kalo sama lo emang harus kejam!" bentakku yang esmosi tingkat seribu.
Akhirnya, satu per satu undangan datang menghampiri untuk memberi ucapan juga berfoto bersama.
Aku harus tersenyum dengan ramah, sedangkan laki-laki di sampingku malah datar. Padahal sepertinya ini adalah teman kerjanya.
Setelah mereka turun, Om Riki menunduk dan berbisik di kupingku, "Jangan senyum ke siapapun kecuali aku! Aku cemburu Cil," tegas Riki yang membuat aku menahan emosi.
"Ca lapar, ih!" keluhku saat melihat-lihat dari tempat duduk meja prasmanan.
"Bentar!" Om Riki atau suamiku sekarang tengah turun dari bangku dan meninggalkan aku sendiri, kulihat punggungnya menjauh ke arah meja prasmanan.
Mengambil dan memilih makanan, aku tersenyum ke arah dia tanpa dia ketahui tentunya. Setelah merasa apa yang sekiranya aku mau telah dia ambil.
Dia kembali ke sini dan aku menampilkan wajah datar kembali, "Nih, makan yang banyak, ya," kata Riki menyerahkan piring dengan garpu juga sendok yang ada.
Aku menerima dengan penuh bahagia, setelahnya kumasukkan nasi dengan beberapa lauk-pauk.
"Nih!" ucapku menyodorkan sendok ke depan mulut Om Riki. Dia pun menerima suapan itu dengan antusias.
'Jangan pernah ingin masuk ke lubang masa lalu kembali dan jangan pernah berharap ending yang berbeda jika perannya saja masih tetap sama.'
'Aku, mengaku salah dan sangat bersalah ketika berpikir untuk beranjak darinya. Namun, ternyata keikhlasan dan sabarku kini membuahkan hasilnya. Aku, benar-benar mendapatkan dia. Wanitaku,'
"Cil, kita bulan madu ke mana?" tanya Riki sedangkan Caca masih fokus mengunyah makanan.
"Mendaki gunung!" seruku dengan semangat karena sangat ingin menjadi seorang pendaki dari dulu.
Kebahagian akan datang di waktu yang tepat ketika kita memang ingin berusaha. Kebahagian tak akan pernah datang ketika usaha untuk menggapai hal itu tak pernah kita lakukan.
S E L E S A I
__ADS_1
Oke-oke, sudah selesai dan sampai jumpa di 2023 dengan cerita anaknya Riki dan Caca. Xixixi, apakah benar 12? Penasaran? Apakah mereka tetap seperti sekarang atau malah menjadi orang tua yang begitu tegas ke anaknya? Xixixi.
Maaf kalau Author ada salah dan Pay-pay, Guys!❤❤❤