Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Hamil?


__ADS_3

Sesuai arahan kemarin, pagi ini aku sudah siap dengan baju rapi dan juga jas tentunya tak lupa identitas agar mereka percaya.


Tok ...! Tok ...!


Suara ketukan membuatku berhenti merapikan pekaian juga kerudung, kubuka agar orang yang ada di luar tak menunggu lama.


Saat pintu terbuka, kutatap orang yang ada di depan, "Eh, saya kayak kenal Bapak. Tapi, di mana, ya?" tanyaku mencoba mengingat.


"Saya sopir Pak Riki, Buk."


"Oh, iya. Eh, jangan panggil Ibuk, Pak. Panggil Caca aja."


"Maaf ... saya tidak diberi izin untuk memanggil Ibuk dengan nama."


"Siapa yang gak ngasih izin?" tanyaku berkerut.


"Pak Riki, Buk."


Kubuang napas kasar, "Hadeuh ... ya, udah panggil nak Caca aja. Lagian dia juga gak ada di sini, nanti kalo ada baru Bapak manggil dengan sebutan itu juga gak papa. Daripada ntar Bapak dipecat sama dia."


"T-tapi Buk," bantah sopir yang merasa tak enak.


"Kalo Bapak nolak, saya lapor nih nanti ke Riki," kataku sedikit mengancam dengan tawa. Padahal, memang tak ada niat buat melapor sama sekali.


'Pantasan aja jodoh, orang taunya sama-sama ngancem orang,' batin sopir menatap sekilas Caca dan menunduk kembali.


"Baik nak Caca."


"Nah, good Pak!" seruku gembira, "oh, iya, btw. Bapak ngapain ke sini? Kan, Riki udah gak ada lagi. Bapak lupa? Kita nganterin Riki ke bandara?"


"Gak lupa nak Caca. Saya di sini ingin mengantarkan nak Caca ke sekolah yang akan mengadakan suntik campak itu."


"Ha?" tanyaku kaget, "bapak dari mana tau?"


Belum sempat sopir menjawab, bunyi dering handphone membuatku langsung melangkah cepat mengambilnya di atas meja.


"Om, ihhh!" teriakku sebal ketika nomor dia yang memanggilku.


"Kenapa? Lagi rindu, ya?"


"Rindu-rindu! Makan noh rindu!"


"Ada apa sih, Ca?"


"Ngapain suruh sopir nganter aku?"


"Wah ... dia sudah datang?"


"Iya! Udah berdiri juga nih dari tadi."


"Lah, kenapa gak langsung berangkat? Nanti telat, lho."


"Om, lu tau dari mana gue akan ada kegiatan di luar gedung?"


"Jangankan kegiatan lu Cil, isi hati lu aja gue tau siapa."


"Siapa?"


"Gue."


"Huweekk ... mo muntah gue."

__ADS_1


"Eh, udah hamil kamu, ya? Baby Boy atau baby Girl kata dokter?"


"Om ... apasih?!"


"Apa, Sayang?"


"Ihhhh!" teriakku yang benar-benar frustasi.


"Hahaha, ingat satu hal Baby. Selama aku di sini maka ikutin kata sopir, negaramu bukan negara main-main. Kalau mereka tak suka padamu, tinggal dor! Maka, kau tak akan melihat wajah tampanku ini lagi."


"T-tapi, aku tak pernah buat salah juga sama orang Om!"


"Apa kau, yakin?"


"Iya, mungkin. Ya, mana aku tau soal sakit hati orang lain. Emangnya aku peramal?"


"Tak harus jadi peramal, kau cukup lebih peka dengan intonasi bicara juga mimik wajah seseorang. Maka, kau akan tau dia membencimu atau tidak."


"Ah ... ribet! Om, Ca gak usah sama sopir, ya."


"Jadi, kau mau berduaan dengan Aldy?"


"Ha, kok tau?"


"Sudah kukatakan, bahwa aku bisa mengetahui segala hal. Sekarang, cepatlah bersiap dan pergi. Ingat, pergi bersama sopirku," perintah Riki yang membuat Caca hanya menghembuskan napas pelan.


"Bye, Baby," sambungnya dan mematikan panggilan.


"Nak Caca, saya tunggu di depan, ya," pamit sopir dan pergi dari depan pintu.


Aku pun melihat ke belakang, sudah tak ada sopir tadi. Kusapu wajah dengan kasar, sungguh menyebalkan laki-laki itu. Namun, tak menutupi kalau ke-khawatirannya itu membuat aku baper.


Eh ... ayolah, Ca! Ingat dia itu calon suami orang! Segera kugelengkan kepala dan mengambil tas juga box yang berisi jarum suntikan juga cairannya.


Namun, mengingat harga beras yang tinggi pun di tempat kerja aku akan makan nasi. Ya, tak apalah jika roti sebagai pengganjal saja.


Keluar dari lift, kulihat sudah ada Aldy yang menunggu di ambang pintu utama, "Kak Aldy. Aku naik mobil itu aja," tunjukku dengan sopir yang berdiri di depan pintu belakang.


"Kenapa?"


"Gak papa Kak. Aku duluan, ya."


"Apakah Caca masih marah soal cake dia yang kuberikan pada perawat?" tanya Aldy menatap punggung Caca yang semakin menjauh.


Sedangkan di sebrang jalan, ada seseorang yang menatap lekat ke arah Caca, "Itu orangnya, jangan sampai salah!" peringatnya pada laki-laki yang bertubuh tinggi juga berbadan besar.


Aldy menuju mobil yang ada di parkiran rumah sakit, dirinya pun akhirnya pergi sendiri sedangkan Caca diantar oleh mobil yang entah punya siapa.


Saat di jalan, Caca menatap ke arah jalanan. Suara notifikasi pesan membuat dirinya mengalihkan pandangan.


[Ayang ... liat, nih! Tanganku terluka] pesannya sambil mengirim satu foto memperlihatkan jari yang tersayat pisau.


[Kenapa bisa? Cepat kasih plester Om]


[Sakit sekali ini ... apakah aku harus oprasi?]


[Astaghfirullah, sekalian aja di amputasi itu mah!]


[Apakah kau mendoakanku?]


[Om yang memulainya!!!]

__ADS_1


[Kau marah?]


[Enggak]


[Kenapa banyak sekali tanda serunya? Bukankah itu artinya marah?]


[Ya Allah, Om! Udah, ih, sono kasih plester tuh luka.]


[Aku mau kau yang memberikan plester]


[Bagaimana bisa? Caca jauh juga]


[Kita masih di langit yang sama]


[Serah lu dah Om Tuir!]


[Haha, dasar Bocil!]


[Dih, aku sudah tak bocil lagi Om]


[Iyakah? Tapi, kau masih pendek.]


[Aku tinggi Om!]


[Iya, tinggi. Lebih tinggi dari anak SD]


[Serah, ah! Cepat plester lukanya, Ca udah hampir mau sampai nih. Udah dulu, ya]


[Apa kau tak mau bertanya apa sebab lukaku?]


Dasar laki-laki ini, ada saja alasan dan hal-hal yang berlebihan membuatku kadang kesal akan sikapnya. Apakah orang-orang buta? Dia sangat lebay begini dikata malah dingin dan cuek.


[Apa sebabnya terluka memangnya Om?]


[Karena aku terlalu memikirkanmu. Jadi, ketika memotong apel malah jariku yang terpotong]


[Jadi, apelnya baik-baik saja?]


[Kenapa apelnya yang kau tanya?]


[Ya, dia 'kan juga kau potong]


[Sudahlah, aku kesel padamu]


[Hahaha]


Tak ada lagi balasan, hanya centang satu. Aku tertawa, pasti dia sekarang tengah kesal karena aku lebih peduli pada apel itu.


"Aku tadinya ingin memakanmu, tapi karena wanitaku malah mengkhawatirkanmu. Jadi ... tinggallah kau di tong sampah itu!" Riki membuang apel yang bahkan sudah ada di potongnya dan di letak di piring ke tong sampah.


Aku keluar dari mobil kala menyadari sudah sampai di sekolah yang di tuju, mobil Aldy juga telah sampai lebih dulu.


"Bapak pulang aja Pak. Nanti, saya sama dokter Aldy aja."


"Gak papa nak Caca, saya tunggu aja."


"Tapi, lama Pak. Kasian Bapak nanti."


"Tak apa dokter Caca."


Caca menghembuskan napas pelan, "Karena perintah Riki lagi?" Sopir hanya memberikan dua anggukan.

__ADS_1


"Yaudah, saya masuk dulu, ya, Pak."


"Baik nak Caca."


__ADS_2