
Banyak yang berkata, mengapa terlalu menutup diri kepada orang tua sedangkan kepada laki-laki lain terbuka tentang sesuatu?
Masalahnya terletak pada apakah orang tua itu pernah bertanya anaknya kenapa dan sedang apa atau tidak.
Pun banyak anak yang memilih bungkam bukan karena inginnya. Namun, karena tahu bahwa orang tua sudah menyimpan beban pikiran yang banyak.
Apakah pantas ditambahi dengan cerita sang anak yang mungkin hanya sepele? Entahlah, orang hanya menilai tanpa merasakan.
Caca dan Riki telah sampai di Mall. Mereka masuk ke dalam dan langsung mengambil troli.
"Kita mau ke mana dulu?" tanya Riki menatap Caca yang sedang melihat handphone-nya.
"Om mau di masakin apa?" tanya Caca mendongak.
"Apa aja, asal kamu yang masak pasti enak," bisik Riki tepat di samping telinga Caca yang membuat wajah dirinya langsung merona.
Caca menahan senyum yang ingin terbit dan sebisa mungkin mengkondisikan degub jantunya, "Paan, sih!" ketus Caca dan berlalu meninggalkan Riki menuju lorong sayur-sayuran.
Saat Caca memilih sayuran dengan sesekali berjongkok, Riki menatap handphone-nya dan melihat-lihat pekerjaan yang ada tak jauh dari Caca.
Setelah memilih sayur, Caca beralih menuju rak pendukung masakan seperti; saos, bumbu, penyedap, kecap dan sebagainya.
'Hadeuh, jauh lagi nih saos. Aku mana sampe!' batin Caca yang kesal melirik ke arah Riki yang sepertinya tak melihat dirinya kesusahan.
Ingin meminta tolong pun rasanya enggan, Caca membiarkan saja laki-laki itu sibuk dengan aktivitasnya.
Menaiki rak yang dasar dan berhati-hati agar barang tak jatuh juga rak tak patah, Caca masih berusaha menggapai saos yang diinginkan, "Kalau gak sampe bilang, jangan manjat gini. Ntar kalo semuanya jatuh, gimana?" tanya seseorang yang sudah mengambil saos.
Hanya cengiran yang mampu ditampilkan Caca, ia memilih turun dari rak tadi dan menatap laki-laki itu, "Mangkanya jangan sibuk sendiri sama handphone!" ketus Caca dan pergi meninggalkan Riki mencari peralatan yang lain.
"Mama nyuruh aku pulang," kata Riki yang berjalan di samping Caca. Caca yang mendengar penuturan itu langsung diam dan menatap ke arah Riki.
"Kenapa?" tanya Caca yang begitu saja keluar dari mulutnya.
"Mama lagi sakit juga perusahaan lagi ada sedikit masalah."
"Om ke sini lagi?"
"Belum tau. Jika memang semua malah memburuk maka sepertinya aku tak akan ke sini lagi mengingat jaraknya yang terlalu jauh."
Caca diam dan menit berikutnya tersenyum, "Yaudah, gak papa. Om pulang aja dan liat Tante. Jaga beliau biar sembuh total," ujar Caca sambil melangkah melanjutkan belanja.
__ADS_1
"Iya, sih. Kau tak apa?"
"Siapa?" tanya Caca menatap ke arah Riki.
"Ya, kau."
"Caca gak papa kali Om," jawab Caca diiringi dengan tawa.
"Ya, pastinya akan rindu sama saya 'kan?"
"Sotoy lu Om!" ketus Caca dan berjalan lebih cepat.
"Wanita itu. Sungguh sangat pemalu," ucap Riki menggelengkan kepalanya dan berjalan melangkah menuju ke arah Caca.
Langkah Riki terhenti ketika melihat Caca tengah jongkok di hadapan anak kecil yang mungkin berusia 2-3 tahun.
Riki tak berniat untuk bertanya kenapa dan di mana orang tua anak laki-laki itu. Dirinya tetaplah laki-laki yang tetap cuek dan dingin.
"Om!" panggil Caca menatap ke arah Riki yang berdiri di sampingnya.
"Kenapa?" tanya Riki yang melihat Caca.
"Sini, deh!" Caca memanggil Riki dengan tangannya, Riki pun ikut jongkok di samping Caca dengan menatap anak itu.
"Orang tuamu di mana?" tanya Riki yang melihat anak itu. Dirinya mengusap kepala anak laki-laki yang bahkan mereka tak tahu.
"Di luar," ucapnya sambil menunjuk ke arah pintu.
"Yaudah, kita ke tempat mereka, ya!" seru Riki menggendong anak laki-laki itu dan berdiri. Sedangkan tangan sebelah kirinya dibuat untuk mendorong troli.
"Sini, Om! Biar Caca aja yang bawa trolinya," kata Caca yang melihat sepertinya Riki ke susahan.
"Tak perlu khawatir, ini hal mudah!"
Sepanjang jalan menuju pintu mall, banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka bertiga. Mungkin, di benak mereka terbesit atau merasa iri dengan keadaan Riki dan Caca sekarang.
"Om, kok kita diliatin mulu, ya?"
"Mungkin mereka iri."
"Ha? Iri kenapa?"
__ADS_1
"Ya, lihat saja keadaannya sekarang. Siapa yang gak akan baper, suami yang siaga dengan menggendong anak juga membawa troli agar istrinya tidak kecapean."
"Dih, paan! Gadak, orang Ca bukan istri Om juga."
"Ini tuh wisata Ca."
"Ha? Wisata, maksudnya gimana Om?"
"Ini tuh wisata masa depan yang akan kita datangi dan arungi suatu saat nanti!"
Bukannya tertawa, Caca malah menampilkan wajah kesal dan membuat Riki tertawa, "Om kenapa ketawa, sih! Nih Caca lagi sebel, lho!"
"Kamu kalo marah malah makin imut tau, Cil!"
"Tapi, kalo sering marah bisa buat tua Om!"
"Yaudah, nanti aku juga ikut marah. Biar kita menua bersama karena sering marah," kata Riki tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Caca.
Bukannya akan terpesona, Caca malah menutup mulutnya berpura-pura seolah akan muntah di hadapan Riki yang membuat laki-laki itu semakin mengembangkan senyumannya.
Begitu sudah di luar mall dengan keranjang yang dititipkan sebentar ke satpam yang ada, Riki dan Caca langsung melihat-lihat ke arah wanita dan laki-laki yang mungkin tengah berbincang dan bisa jadi itu orang tua anak ini.
"Siapa namamu?" tanya Riki menatap dengan lembut ke arah anak yang masih ada di tangan kanannya.
"David."
"Oke, David. Tenanglah, aku akan mencarikan orang tuamu," ucap Riki sambil melihat-lihat ke arah parkiran mobil.
Caca juga ikut melihat-lihat ke arah mobil dan sebagainya, mereka turun dari depan pintu masuk-keluar mall karena takut akan menghalangi orang.
"Apakah itu orang tuamu David?" tanya Riki menunjuk ke arah laki-laki dan wanita yang tengah berdebat di depan mobil daerah parkiran.
Caca pun ikut melihat ke arah yang dimaksud oleh Caca, dua anggukan diberikan David dan membuat wajah Caca tersenyum.
"Yaudah, yuk ke sana!" seru Caca dan mereka berdua terus berjalan mendekat. Namun, mereka tak menghiraukan tetap dengan perdebatan yang tak diketahui oleh Caca dan Riki.
Ketika sudah berada di samping orang tua David, Ayahnya diam juga Ibunya. Mereka menatap ke arah Caca maupun Riki.
"Maaf, ini anaknya Buk. Tadi, kita nemu di lorong perbelanjaan," kata Caca dengan senyuman. Riki langsung menurunkan anak itu dari tangannya.
Bukannya mengucapkan terima kasih, mereka hanya diam dan wajah Ayah David seolah tak suka dengan keberadaan Caca juga Riki.
__ADS_1
"Maaf, kalau saya boleh kasih saran. Lebih baik jangan bertengkar di depan umum apalagi di depan anak," kata Caca yang penuh dengan hati-hati karena takut merasa bahwa dirinya seolah tengah ikut campur padahal tak tahu permasalahan yang ada.