
"Mama minta kamu jauhi Caca, atau dia akan menerima akibat karena tetap dekat sama kamu," ancam Mama dengan sorot mata tajam.
"Ck! Apakah ini yang mau Mama omongkan?" tanya Riki membuang pandangan dan menatap ke arah Mamanya kembali.
"Mama serius, Riki! Kamu bukan anak-anak lagi, bentar lagi kamu akan nikah dan seharusnya kamu bisa menjaga perasaan calon istri kamu!"
"Calon istri? Calon istri kata Mama? Sejak pertama kali yang mau ini semua Mama, bukan Riki! Mama selalu aja egois, aku bukan anak kecil lagi! Dan asal Mama tau aja, bulan depan pun aku tak akan mau menikah dengannya. Kalo Mama tetap memaksa kehendak Mama, maka jangan salahkan Riki kalo kalian semua akan malu di hari itu!" tekan Riki dan bangkit dari tempat duduknya.
"Jika kau berani kabur, Mama akan buat wanita itu dan ibunya menderita. Kamu lihat aja Riki!" murka Mama Riki dan membuat Riki terhenti. Dirinya membalikkan badan dan menyunggingkan senyuman.
"Buat saja kalo Mama berani!" kata Riki dan kembali berjalan ke luar.
"Arggg ... kamu liat aja Caca, aku akan bikin perhitungan ke kamu karena sudah berani membuat anak saya melawan ucapan-ucapan saya!" cerca Mama Riki menatap ke depan dengan tangan yang sudah terkepal.
"Ayo, kembali ke kantor!" perintah Riki dan langsung masuk ke bangku belakang.
"Baik, Pak!" Farhan yang melihat raut wajah Riki tak berani untuk sekadar bercanda atau bertanya. Dia langsung masuk ke bangku sopir dan menjalankan mobil ke tempat yang dituju.
Setelah kepergian Riki, Mamanya langsung bangkit dari tempat duduk dan berjalan keluar rumahnya.
Dengan wajah penuh kemarahan, dirinya mengetuk pintu rumah Caca yang hanya ada dirinya di dalam.
"Tunggu sebentar!" teriak Caca yang baru saja akan masuk ke mimpinya. Ia segera meraih kerudung dan membuka pintu.
"Siapa, sih? Kok keras banget ngetuk pintunya?" tanya Caca dan keluar dari kamar.
"Iya, ada apa?" tanya Caca membuka pintu, "t-tante?" Dirinya kaget saat melihat orang yang ada di depannya kini.
"Aww ... sakit Tante!" teriak Caca saat tanpa aba-aba Mama Riki langsung menarik rambut Caca yang tertutup kerudung.
"Farhan! Kembali ke rumah Caca!" teriak Riki di dalam mobil dengan kuat.
"B-baik Pak," jawab Farhan dengan nada ketakutan.
__ADS_1
"Cepat!" murkanya lagi saat Farhan belum juga membelokkan mobil.
"Iya, Pak. Ini lagi ramai mobil di depan, jadi susah buat belok," jelas Farhan yang masih setia menunggu jalanan sedikit renggang.
"Saya sudah pernah peringatkan ke kamu untuk gak balik lagi ke sini! Tapi, apa? Kenapa kamu malah balik ke sini lagi?" tanya Mama Riki dengan nada marah sambil tangannya tetap menggenggam rambut Caca.
Begitu sakit rambut yang ditarik membuat Caca hampir menitihkan air mata. Namun, segera ia tahan agar tak terlihat lemah.
Tangan wanita itu tetap di pegangnya dan dengan cepat ia buat tangan itu tak lagi memegang rambutnya, Caca tepis tangan itu dengan keras.
"Dengar, ya, Tante. Tante gak punya hak untuk ngelarang Caca kembali ke sini!" tegas Caca menatap wajah Mama Riki.
Merasa dirinya di lawan, Mama Riki kaget. Ia kira wanita itu bukanlah wanita yang bisa melawan dan lemah. Namun, ternyata dugaan dia salah.
"Berani kamu sama saya?"
"Saya gak pernah takut sama siapapun. Saya hanya menghormati! Namun, Tante sendiri pun tak menghormati saya apakah saya harus menghormati Tante?" tanya Caca yang sudah tersulut emosi.
"Wahh ... kurang ajar banget kamu, ya! Masih berani marah-marah di depan wajah saya!"
Mama Riki menunjuk ke arah wajah Caca, "Kamu dengar dan ingat ini baik-baik. Anak saya sebentar lagi akan menikah dan kamu dengan ganjennya malah datang ke sini! Kenapa? Kamu mau merebut dia kembali dan meninggalkan dia demi cita-cita bodohmu itu?"
"Jadi, kalau dia mau nikah emangnya apa urusannya sama saya? Cita-cita bodoh? Perilaku Tante yang sepertinya pantes dapat gelar bodoh tersebut!"
Mendengar ucapan tersebut, tangan. Mama Riki langsung terangkat untuk menampar wajahnya. Ia segera menutup saat tangan tersebut dengan cepat hampir menyentuh wajahnya.
Caca membuka mata saat tak merasakan sakit, dirinya dan Mama Riki langsung melihat ke arah samping. Tangan Mama di cekal oleh seseorang.
"Mama, apaan sih!" bentak Riki dan melepaskan tangan Caca.
Milda yang melihat anaknya hampir di tampar tanpa dipinta dengan cepat air mata turun dari matanya.
Ia berjalan dengan lemah ke samping Caca.
__ADS_1
"Mama mau ngasih pelajaran untuk anak yang gak tau diri ini! Dia itu gak pantas sama kamu, dia cuma buat kamu sakit hati aja! Kamu pantasnya sama Diva, gak sama yang lain!" teriak Mama Riki.
"Mama gak bisa paksakan kemauan Mama pada hidupku!"
"Kenapa? Kamu masih cinta sama wanita gak bener ini?" tanya Mama Riki menunjuk ke arah wajah Caca.
"Turunkan tanganmu dari wajah anakku!" tekan Milda dengan wajah yang merah, "asal kau tau, aku pun tak sudi punya menantu seperti anakmu! Sekarang, silahkan pergi dari rumahku!" Milda menunjuk ke arah luar dengan suara yang kuat.
Caca dan Riki yang tak pernah mendengar suara Milda dengan nada kuat langsung terdiam.
"Gak perlu di usir, aku juga ogah lama-lama di sini!" jelas Mama Riki dan pergi dari teras rumah Caca.
"Bun--"
"Pergi Riki!" bentak Milda memotong ucapan Riki, "satu lagi! Jangan pernah kamu dekati anak Tante lagi karena dia akan Tante jodohkan dengan laki-laki yang lebih baik dari kamu juga mertua yang menyanyanginya!" Milda menggandeng tangan Caca dan masuk ke dalam rumah.
Pakk ...!
Suara pintu yang dihempaskan begitu keras, Riki menatap lantai dengan air mata yang lolos dari pelupuk matanya.
Ia berjalan gontai menuju mobil, Farhan yang melihat kejadian tadi langsung masuk dan menjalankan mobil ke apartemen.
Riki tahu bahwa Mamanya ada di rumah Caca saat salah satu anak buahnya memberi kabar dan tanpa sengaja saat dirinya masuk ke dalam halaman rumah Caca.
Milda juga baru saja pulang untuk memberikan makan kepada Caca.
Di dalam mobil, Riki menjambak rambutnya dengan keras untuk melampiaskan kemarahannya.
"Saya juga gak sudi punya menantu seperti anakmu! Caca akan saya jodohkan dengan laki-laki baik."
Ucapan Milda seolah mengisi kepalanya, Riki menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Enggak-enggak, Caca hanya boleh untukku saja!" teriak Riki.
"Diva, baiklah. Kau sudah tak sabar ternyata untuk dipermalukan, aku akan membuka semua kebusukanmu dan akan kuambil kembali wanitaku bagaimana pun caranya," tekan Riki menatap lurus.
__ADS_1
***
kalian bosen gak, sih bacanya? 😂 Author mulai bosen, nih. Kita tamatkan dadakan, ya?😂🤣