Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Bukan Pawang Buaya


__ADS_3

"Jangan berani sentuh dia, atau nyawamu akan melayang!" peringat Om Riki sebelum mobil mengantarkanku pergi ke apartemen.


Sedangkan yang diberi peringatan hanya mengangguk paham dan bergeleng-geleng melihat posesif Om Riki.


Di jalan, tak ada yang membuka suara. Om Riki memilih naik taksi karena akan ada meeting lagi di luar.


Aku diantarkan sopir juga Om Farhan, Om Riki takut jika aku pulang hanya ditemani sopir saja. Sungguh sangat suami idaman yang siaga.


"Mm ... Om Farhan!" Dia melirik ke arahku.


"Iya, ada apa Ca?"


"Apa benar Om Riki pernah datang ke Amerika pas Caca masih kuliah?" tanyaku memastikan.


Dia mengangguk, "Setiap bulan Pak Riki akan datang menjenguk Caca dari kejauhan."


"Kenapa gak langsung ketemu sama saya aja?"


"Karena, dia takut menggangu konsentrasi belajar kamu, lagian kamu juga pergi karena ingin menjauhi dia 'kan? Kalau dia datang dan bertemu dengan kamu, bukan menyelesaikan masalah."


"Gimana keadaan Om Riki pas Caca pergi Om? Katanya, dia punya apartemen? Kok, waktu dulu Caca gak tau?"


"Banyak yang berubah Ca. 4 tahun mampu mengubah kehidupan dirinya 180°, Tante berubah menjadi orang yang sangat tidak terkendali. Taman belakang, apa kau ingat?"


"Iya, taman yang selalu didatangi Om Riki kalau ada masalah."


"Itu sudah tidak ada dan karena itu, Pak Riki jadi keluar dari rumah karena merasa yang menahan dia untuk tetap tinggal udah gak ada."


"Oh ... pantasan Tante bilang kalo Caca pembawa dampak buruk. Karena, Om Riki jadi pembangkang ternyata."


"Ya, aku rasa itu bukan pembangkang. Bukankah seorang anak juga punya hak untuk kehidupannya? Sama seperti kamu, punya hak atas hidup kamu. Padahal sudah jelas Tante Milda tidak memberi izin kamu kuliah di luar negri kamu malah kekeh mau sekolah di luar negri juga."


Aku diam seolah yang dikatakan Om Farhan benar adanya, semua sangat-sangat benar.


"Jadi, dia udah lama tinggal di apartemen pribadinya Om?"


"Tiga bulan setelah kau pergi, dia pindah."


"Terus, Tante udah sembuh 'kan?"


"Sudah."


"Tunangannya di mana? Apa di rumah sakit saja?"


"Iya, mereka hanya tunangan di rumah sakit."


"Nikahnya?"


"Katanya, sih, Diva sudah menyiapkan gedung pilihannya."


"Wah ... sudah akan 3 bulan lagi, ya? Om Riki akan nikah, deh."


"Entahlah, saya rasa itu tak akan pernah terjadi."


"Ha? Kenapa Om?"


"Maaf, Pak Riki tak memberi izin alasannya dikasih tau ke siapapun. Nanti, akan ada saatnya kamu tau hal itu."


"Menurut Om Farhan, Om Riki beneran cinta sama Caca atau enggak, sih?"

__ADS_1


"Kau masih meragukan cinta dia? Bahkan, setelah kau meninggalkan dia sampai 4 tahun lamanya? Kau masih meragukannya?"


"Ya ... wajar, dong Om."


"Gak wajar Ca, apakah kau tak melihat ketulusan di mata, sikap juga perlakuan yang dia berikan?"


Kubuang nafas pelan, ini sungguh ribet sekali.


"Pengen nikah di umur berapa?"


"23 Om, tapi, udah lebih hehe."


"Sudah siap nikah?"


"Hmm ... Inn Syaa Allah."


Om Farhan hanya mengangguk mendengar jawabanku, hingga akhirnya kami sudah sampai di depan gedung apartemen.


"Terima kasih Pak, Om Farhan," ujarku sebelum keluar dari mobil.


Kututup kembali mobil dan menunggu mobil itu berjalan menjauh, kulangkahkan kaki menuju dalam apartemen.


Jam sudah menunjukkan pukul 12, aku sudah gerah karena berjalan seharian.


Masuk ke kamar mandi dan melakukan ritual membersihkan tubuh yang lengket ini.


Suara notifikasi di nakas membuat aku meraih handphone lebih dulu sebelum menggunakan skincare.


[Udah sampai apartemen?]


[Udah Om] balasku duduk di pinggir ranjang.


[Alhamdulillah]


[Baguslah]


[Om lagi di mana?]


[Nih, lagi di luar cafe] Dia mengirimkan satu foto.



[Ih, kok ganteng banget, sih? Om ganti baju, ya? Giliran sama Caca tadi gak gitu outfitnya, ih ... kok ganteng!]


[Ya, emang bawaan Ca. Ganteng itu dari orok sono]


[Giliran sama Caca aja tadi biasa aja, giliran sendirian malah ganteng-ganteng. Pantas aja tadi Om Farhan disuruh nganter Caca, ternyata dia mau pergi jalan sama cewek lain!]


[Astaga ... bukan Ca, saya risih. Lagian, masa ketemu klien pakainnya gak ganti. Udah keringetan, lho. Mau shalat juga nanti.]


[Heleh, cowok mah gitu kalo gak ada pawangnya aja pasti akan cakep-cakep. Giliran ada pawangnya malah dandan kek gembel!]


"Ciee ... pawang nih pawang, hahaha." Suara VN dari Om Riki membuat pipiku seolah panas.


Oh, no! Apa yang baru saja kutulis. Pawang? Apaan, astaga Ca. Sejak kapan lu jadi pawangnya tuh si Kulkas?


[Dih, salah ketik itu mah!😏]


[Iya, deh iya Bu Pawang. Kalau gitu, saya kembali bekerja, ya, biar bisa nikahi Bu Pawang saya ini.]

__ADS_1


[Dih, paan sih Om!]


[Haha, tidur siang Cil. Biar cepat gede lu]


[Nyenyenye.]


Kumatikan jaringan data, segera ke meja rias untuk memberikan beberapa skincare dari berbagai merk ke wajah yang gak glowing-glowing ini.


Selesai dengan segalanya, kulihat kalender yang ada. Sebentar lagi Bunda, aku akan memelukmu dengan kuat.


Akan kusalurkan kerinduan yang selalu menggebu untuk satu nama ini.


Tok ...!


Tok ...!


Ketukan dari pintu menyadarkan aku dan membuat air mata tak terlalu banyak menetes. Segera kuraih kerudung simple.


"Eh, ada apa Kak Aldy?" tanyaku melihat pria itu sudah ada di depan kamarku.


"Aku membawakan ini untukmu."


"Wah ... apa ini?" tanyaku mengambil kotak bekal yang diberi Kak Aldy.


"Brownies lumer."


"Mm ... kayaknya enak, kita makan yuk!" ajakku melihat-lihat ke arah yang sepertinya bagus jika kami duduki.


"Taman?" tanyanya memberi usul.


"Oke!" seruku menyetujui usulannya itu.


Kami pun berjalan bersama menuju taman, Kak Aldy juga sudah tak terlalu kesakitan. Wajar, dia pasti sangat teliti merawat lukanya itu agar cepat sembuh.


Di taman, hanya ada kami dan orang yang berlalu-lalang. Aku duduk di samping Kak Aldy tetap dengan kerudung yang tadi.


"Kak, gimana keadaan Tante Fina?" tanyaku sambil membuka kotak bekal.


"Kenapa tiba-tiba nanya dia?"


"Ya, wajarlah. Kan, udah lama gak ketemu dia. Gak pernah kabaran juga."


"Aku juga gak tau, cuma terakhir kabarnya yang aku tau. Dia sudah mulai bekerja di salah satu perusahaan."


"Dia udah nikah?"


"Ntahlah, aku pun tak tau."


"Mm ... Kak Aldy kapan nikah?" tanyaku dengan cengiran.


"Uhuk!" Dia malah terbatuk mendengar pertanyaan mendadak dariku itu, aku refleks menutup mulut agar makanan yang ada di mulut tak berserakan karena tertawa.


"Entahlah, saya pun belum tau kapan saya akan nikah. Entah jodoh atau bahkan maut yang duluan menghampiri saya pun tak tau."


"Ih, Kak Aldy gak boleh begitu!"


"Oh, iya btw. Kamu kenapa pengen jadi dokter? Saya kaget banget pas tau kalo kamu jadi asisten pendamping sementara saya, lho."


"Karena yang Caca liat, banyak orang yang terluka gara-gara melindungi Caca. Jadi, sebagai balas budinya Caca ingin Caca yang merawat luka akibat Caca tersebut," jelasku sambil menatap ke depan.

__ADS_1


__ADS_2