Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Pencari Muka


__ADS_3

"Baby ...!" teriak seseorang dan langsung dilihat oleh sopir. Sedangkan Riki? Dia tak sama sekali melihat ke arah suara wanita yang dikenalnya.


"Baby, kok masih ada di sini?" tanyanya memegang lengan Riki.


"Lah, Mbak siapa?" tanya sopir yang bingung liat kedatangan Diva.


"Hama!" jawab Riki dengan menghempaskan tangan Diva.


"Baby, kamu kok jahat banget, sih?" tanya Diva menampilkan wajah memelas, "saya tunangan Riki, kenapa emang Pak?"


"Wong pacar nak Riki ada di luar negri, jangan halu Mbak. Masih siang lho ini."


Diva menatap tajam ke arah Riki sedangkan yang di tatap tetap fokus ke handphone, "Siapa pacar kamu yang ada di luar negri?"


Diam. Riki tak menjawab pertanyaan Diva, seharusnya wanita itu tahu siapa lagi kalau bukan Caca.


"Riki!" kata Diva dengan suara yang dinaikkan satu oktaf. Namun, bukannya menjawab dan menggubris Riki malah melongos pergi begitu saja.


Diva dan sopir hanya melihat punggung laki-laki itu yang mulai menjauh dan masuk ke rumah sakit, dengan cepat Diva berjalan ikut juga masuk ke dalam.


"Riki!" Diva menahan tangan Riki dan membuat laki-laki itu berhenti, dirinya tak berniat membalikkan badan membuat Diva yang bergerak ke depan.


"Kamu masih mengharapkan wanita murahan seperti Caca itu?"


"Bagaimana bisa lu bilang kalo dia murahan?"


"Ya, kamu pikir aja. Amerika terkenal dengan pakaian wanitanya yang seksi juga club yang banyak. Biaya di sana gak murah apalagi universitas yang dia masuki bukan main-main, kalo gak jual diri mana bisa bertahan hidup di sana," jelas Diva panjang lebar.


Bukannya membalas dengan amarah, Riki malah tersenyum. Bukan, bukan senyum manis tapi lebih ke senyum menakutkan.


"Oh, berarti ... lu sudah pernah jual diri waktu di sana dong? Berapa dolar dapatnya?" tanya Riki remeh. Dia mendekat ke arah telinga Diva.


"Ingat! Jangan sampai gue lupa kalo lu seorang wanita, jangan membuat gue lupa untuk menghargai lu meskipun sebenarnya lu mungkin udah gak berharga. Dan gue malah berpikir untuk menjadikan keperawanan sebagai syarat agar dapat nikah dengan gue. Gimana?" bisik Riki dan membuat tubuh Diva menegang.


Riki pergi meninggalkan Diva kembali dan berjalan ke arah ruangan mamanya, ia tak tahan menunggu dan berdiri begitu lama di parkiran.


Sedangkan Diva, masih berusaha menetralkan dirinya yang menegang tadi mendengar penuturan Riki.


'Lagian lu Diva! Bego beut dah! Ngapain juga ngehina si Caca itu 'kan balik ke lu lagi jadinya!' batin Diva menyesali ucapannya tadi.


Dengan wajah yang cemberut dan menghentak kaki, Diva tetap berjalan ke arah ruangan mama Riki. Bagaimana pun, dirinya tetap harus bisa menarik simpati dari Mamanya.


"Assalamualaikum Tante," salam Diva dan masuk ke ruangan yang sudah ada; Riki, Mama juga Papanya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, masuk Diva," jawab mama Riki tersenyum menatap ke hadiran Diva.


"Tante udah mau pulang?"


"Iya, tunggu suster ngambilkan obat dulu."


"Kenapa gak Om yang ngambil Tante?"


"Tadi gak ada yang jaga Tante. Jadi, Om nyuruh suster deh."


Diva yang tadinya berdiri di hadapan mama Riki. Kini, malah berpindah menjadi di samping wanita yang tengah duduk di brankar itu.


"Maafin Diva, ya, Tante. Datangnya telat tadi, kalo gak telat 'kan Diva bisa bantuin Tante," ujar Diva dengan memasang wajah seolah kesihan.


"Gak papa, kok," jawab Mama seraya tersenyum.


"Gak ada lagi yang mau dibawa barangnya 'kan?"


"Gak ada, kok. Semua udah dimasukkan ke mobil."


"Kalau gitu, Riki duluan pulang, ya."


"Kamu gak mau sama-sama?"


"Enggak, soalnya panas."


"Gak," jawab Riki singkat dan memegang knop pintu.


"Anterinlah Riki, masa dia harus naik taksi. Kesian, lho," bujuk Mama. Riki menatap wajah kesenangan dari Diva, bisa-bisanya wanita itu mencari pembelaan.


"Ya."


Riki berjalan lebih dulu, senyuman terhias di wajah Diva. Dia segera bersalaman dan pergi menyusul ke arah Riki yang sudah berada di koridor.


Ketika sampai di parkiran, Diva mengerutkan kening, "Ngapain kita ke parkiran motor Baby?" tanyanya.


Mendapati Riki tak menjawab pertanyaannya, Diva kembali mendengkus kesal, "Kita ngapain di parkiran motor Riki?"


"Gue naik motor."


"Ha?" tanya Diva yang kaget. Pasalnya, ia memang sangat tak ingin naik motor. Rambut yang baru beberapa hari dia bawa ke salon pasti akan rusak karena memakai helm.


"Boleh gak usah pakai helm?"

__ADS_1


"Gak."


"Tapi, Ki. Rusak ntar rambut aku."


"Bukan urusan gue."


"Ya, urusan kamu dong. Emangnya gak malu kalo bawa calon istri yang jelek penampilannya?"


Riki terhenti tepat di depan motornya, "Penampilan jelek bisa diubah, tapi kalo sifat dan sikap jelek susah buat diubah!" kata Riki naik ke atas motor.


Diva yang merasa bahwa Riki tengah menyindir dirinya hanya menatap laki-laki itu, "Helm buat aku mana?" tanya Diva yang menunggu uluran helm.


"Lu liat sendiri pake mata!"


Diva mengedarkan pandangan, ternyata helm sudah tergantung di besi jok belakang. Dia membuka helm dan memakainya hati-hati.


Setelah beres, dirinya sedikit kesusahan naik ke jok belakang Riki. Maklum, karena memang sangat tinggi.


"Dih, orang gak niat kasih tumpangan mah gini. Udah pijakannya gak diturunkan, helm gak dikasih atau dipasangkan, naik pun gak dibantuin," gerutu Diva yang masih dapat di dengar Riki tapi dia enggan untuk menjawab.


Merasa Diva sudah duduk, tanpa bertanya kebenarannya. Riki menjalankan motor dengan sangat cepat sehingga ketika pertama jalan motornya Diva hampir terjatuh.


Beruntung, dia langsung memegang bahu Riki. Namun, dengan cepat diturunkan kembali oleh pemilik bahu.


"Gue takut Ki, ini kalo gak pegangan jatuh dong gue!" teriak Diva yang merasa risih setiap pegangan selalu di lepas.


"Ki ... gue jatuh ntar!" teriaknya lagi karena lagi dan lagi tangannya di lepaskan Riki.


Riki tak menjawab setiap teriakan wanita itu, dia tetap menjalankan motor dengan kecepatan tinggi di tengah-tengah ramainya jalanan.


"Ki, jangan tangan satu bawa motornya. Jatuh, ntar! Ingat, 4 bulan lagi kita nikah!" kata Diva yang ketakutan.


Motor dihentikan Riki, padahal jaraknya masih lumayan jauh dari rumah Diva, "Lah, kok berhenti?"


"Turun!"


"Ha?"


"Gue bilang turun!"


"Kenapa?" tanya Diva dan beneran turun.


"Siniin helm-nya," ujar Riki menadah tangannya. Diva membuka helm meskipun sedikit kesulitan, setelah helm dia terima. Motor dijalankan dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


"Lah? Ki ...!" teriak Diva yang ditinggal Riki di tepi jalan. Orang-orang yang berlewatan melihat ke arah dia karena suara teriakannya itu.


Dengan cepat, Diva membuka handphone dan mencari nomor, "Cepetan ke jalan Anggrek, jemput gue! Gue udah kepanasan, nih!" perintah Diva dan mematikan panggilan.


__ADS_2