
Sepanjang jalan menuju apartemen, kupayungi Aldy yang sesekali bersin. Apakah dia tak pernah mandi hujan? Oh, ayolah! Sepertinya aku salah orang diajak mandi hujan bareng.
Kuikuti dia berjalan ke tempat tinggalnya, dahiku mengerut kala melihat langkahnya menuju ke apartemenku juga.
Kututup payung dan meletakkannya ke tempat payung yang telah disediakan apartemen agar lantai tak basah, besok pagi baru bisa diambil dibawa ke kamar atau tempat lainnya.
"Kakak tinggal di sini juga?" tanyaku dan dia ikut naik lift. Di dalam tak hanya ada kami berdua. Juga ada 3 orang lainnya.
"Iya, di lantai 5," katanya mendekap tubuhnya sendiri.
Kesian. Itu yang terbesit di pikiranku kala melihat dirinya, "Nomor berapa?" tanyaku kembali berharap dia masih bisa menjawab pertanyaan. Agar dirinya tak terlalu menghayati kedinginan yang terjadi pada tubuhnya.
"4."
Pintu terbuka, tujuanku lebih dulu. Sesegera mungkin aku berlari ke kamar milikku, tak perlu heran kenapa aku tak separah Aldy kedinginannya.
Karena, aku memang menyukai hujan jika orang lain menggerutu karena hujan beda halnya denganku. Aku akan tersenyum dan menampung air hujan meskipun tak tahu apa gunanya.
Hanya saja, aku menyukainya. Itu yang kutahu, segera mandi dan cuci rambut agar tak pusing dan secepat mungkin membuat sup juga teh hangat.
Ada; wortel, kentang, daun bawang juga kul. Tak lupa kutambahkan daging ayam yang memang kuminta petugasnya untuk memotong kecil-kecil.
Karena rencananya aku ingin membuat kentucky, tapi yasudahlah. Selesai dengan sweater agar tubuh semakin hangat. Kuambil tumblr dan mengisinya dengan teh juga gula.
Setelah air berubah menjadi sedikit kecoklatan atau orange atau apa namanya, kumasukkan daun mint juga biji selasih.
Tinggal menunggu sup-nya saja, kuambil tempat makan. Mengisinya dengan nasi dan buah-buahan beberapa potong.
Sudah pantaskah menjadi seorang istri? Ah, lupakan halumu itu Caca! Ketika tengah menunggu sup mateng. Aku teringat dengan makanan juga handphone yang ada di balkon.
Aku langsung berlari menuju balkon, mengambil nasi dan memasukkan ke tempat cuci piring. Menutup kembali balkon dan merapikan gorden.
Beberapa panggilan masuk dari Riki juga nomor tak dikenal, kuaktifkan jaringan data. Mungkin, itu nomor orang lain yang penting hingga dia memanggilku dari nomor pribadi.
[Kenapa dihapus Caca? Apa itu apakah penting? Kenapa banyak sekali di hapus?]
__ADS_1
[Kamu okay? Kenapa tidak aktif? Ca?]
[Maafkan aku Caca, aku menuruti apa katamu. Aku menerima perjodohan dari Mama]
Tiga pesan darinya kutatap dan membuat senyuman terbit dari wajahku, kulihat ada cerita dari Riki.
Tak biasanya laki-laki itu memasukkan apa pun itu ke medsos. Terlihat dirinya dan Diva yang melangsungkan lamaran di rumah sakit.
Dengan senyum yang merekah juga dandan yang sepertinya seadanya, "Orang di masa lalu tentunya akan selalu menang!" Caption dari foto itu.
Apakah itu Riki yang membuat? Tapi, kalau Diva sangat lancang sekali wanita itu. Kenapa lancang? Bukankah Riki sekarang tunangannya?
Segera kumatikan kembali handphone, lama-lama melihat handphone sepertinya bisa membuatku jiwaku tak baik-baik saja.
Air sup sudah menunjukkan bahwa sup sudah masak. Segera kumasukkan ke tempat nasi dan menutupnya dengan rapat.
Kuambil kerudung santai dan keluar dari kamar menuju lift, naik dua lantai dan mencari nomor kamar Aldy.
Dua ketukan kuberikan dan menunggu cukup lama, apakah orangnya sakit setelah mandi hujan?
"Kak, ini ada sup dan juga teh mint plus selasih. Cepatan di makan selagi hangat," kataku menyerahkan bawaan.
Dia mengambil dan hanya bisa mengatupkan mulutnya saja, "Yaudah, istirahat kalau sudah selesai makan," sambungku dan berjalan pergi agar tak mengganggu dirinya yang sedang istirahat.
***
"Kenapa dengan lancang kau masukkan foto kita ke story WA-ku?!" bentak Riki di hadapan Diva. Diva yang dibentak hanya menunduk saja.
"Memangnya kenapa? Bukankah semua orang harus tau bahwa aku milik kau dan kau milikku?" tanya Diva dengan menatap ke arah Riki.
Sekarang, mereka tengah berada di halaman rumah sakit. Setelah selesai acara lamaran, Riki pamit ke toilet dan meninggalkan handphone-nya.
Diva langsung membuka handphone Riki tanpa izin dan kebetulan tak dikunci dengan sandi atau pola.
Dia memposting foto dan kata-kata tersebut, ketika Riki kembali ke ruangan dan men-cek handphone-nya. Ia langsung menatap ke arah Diva yang seolah tak merasa bersalah.
__ADS_1
Dirinya langsung pamit dengan keluarga yang ada di dalam ruangan dan menyeret Diva dengan kasar.
Riki mendekat ke arah Diva sedangkan wanita itu sama sekali tak merasa takut, "Aku ... tak sudi kau menjadi milikku!" desis Riki dan berjalan meninggalkan Diva begitu saja.
Diva menaikkan sebelah bibirnya, "Kau lihat saja nanti, kau yang akan mengakui aku tanpa kupinta!" caci Diva melihat punggung Riki yang berjalan ke arah parkiran.
Riki menaiki kuda besi yang dulu selalu dipakainya dengan Caca, Riki sempat melihat siapa saja yang sudah melihat isi ceritanya itu dan ada nama Caca paling atas.
Dia meremas rambutnya kuat, pasti wanita itu sudah tahu apa yang terjadi. Riki kembali menatap handphone dan memanggil ke nomor Caca.
"Halo?" tanya Caca yang mengangkat panggilan dari Riki.
"Ca ...." Mulut yang ingin berbicara berbagai hal tiba-tiba seolah kaku, entah mengapa rasanya sekarang menjadi sangat asing dan berbeda jika bercerita atau mendengar suara Caca. Seolah Riki merasa telah menyakiti wanita itu.
"Selamat, ya, Om. Semoga lancar sampai hari H dan tanpa ada halangan, oh, iya karena takutnya calon istri Om marah juga cemburu. Maaf banget, ya, mungkin nanti Caca akan blokir nomor Om atau Caca akan ganti nomor aja. Demi menjaga perasaan pasangan Om," kataku yang merasa bahwa ini memang jalan terbaik.
"Kau ingin menjauh dariku?"
"Bukan begitu, tapi keadaannya sekarang berbeda. Caca tak ingin menjadi biang permasalahan kalian, Caca ingin fokus sama kehidupan Caca dan kalian fokuslah dengan kehidupan kalian. Yaudah, Caca matikan handphone-nya. Assalamualaikum." Kumatikan panggilan begitu saja.
Ternyata aku belum benar-benar kuat, kututup wajah dengan menggunakan bantal berwarna putih tanpa ada sarungnya ini.
Biarlah, menangislah sekarang dan kejarlah bahagia juga tawa nantinya. Tak perlu takut, bahagia akan datang untuk orang-orang yang sabar menanti.
Hingga, aku tak sadar lagi kecuali setelah mendengar kumandang Azan dari handphone. Juga perut yang ternyata sudah ada yang demo ingin di isi.
Berjalan dengan lunglai ke arah kamar mandi, mengambil wudhu dan segera membentangkan sajadah.
Aku ingin bercerita pada Rabb-ku
Tentang apa yang tak mampu kuucapkan
Menangis, mengadu dan meminta pertolongan pada-Nya
Tanpa ada perbandingan, tanpa ada kata, "Kamu masih lumayan."
__ADS_1
Berbicara antara pencipta dan makhluk-Nya adalah suatu ketenangan sendiri.