
Dengan cepat Mama membuka bungkus yang ada, setelah melihat isinya betapa terkejutnya mereka bahkan membuat Diva menutup mulutnya tak percaya.
'Pantasan aja dia bilang kalo cincin aku murahan. Ternyata, cincin yang dibelikan Riki permata.'
'Argh ... gak bisa ini gak bisa!'
"Kenapa Caca ngirim ini? Apa ini Riki yang nyuruh dia buat nyarikan cincin buat kamu?" tanya Mama dan menatap wajah Diva yang termenung.
"Ha? Enggak Tante."
"Maksud kamu?"
"Itu cincin lamaran dari Riki buat Caca."
"Apa?" tanya Mama kaget menutup mulutnya.
"Iya, Tante. Si Caca udah dilamar lebih dulu sama Riki."
"Kamu tau dari mana?"
"Caca sendiri yang bilang."
"Kamu dapat nomor dia dari mana?"
"Dari handphone-nya Riki."
Mama diam sebentar, "Kamu coba, mana tau ukuran jari kalian sama," ujar Mama memberikan cincin.
Diva mengambil dengan wajah sungguh bahagian. Namun, kebahagiaan dia hanya sebentar ketika mengetahui bahwa, "Gak muat Tante."
"Hmm ... yaudah, deh. Sini biar Tante masukkan ke box-nya balik, yuk, kita ke dalam lagi."
'Liat aja kamu Caca, aku akan membuatmu iri setengah mati dengan kebahagiaan yang akan kutunjukkan,' batin Diva sambil berjalan kembali ke dalam dengan wajah cemberut.
"Tante, bagaimana kalo tiba-tiba nanti Caca datang kembali ke Indonesia dan membuat gagal pernikahan Diva dan Riki?"
"Emangnya dia akan pulang?"
"Ya, Diva juga gak tau sih Tante. T-tapi, buat berjaga-jaga kalau tiba-tiba hal itu terjadi."
"Nanti, Tante akan bilang sama dia untuk gak lagi ngurusin kehidupan atau kalau perlu jauh-jauh dari hidup Riki."
"Kalo dia gak mau Tante?"
"Kamu tenang aja, Tante akan kasih dia pelajaran agar dia sadar diri dan bisa dengan segera pergi."
"Padahal kalo dipikir, dia itu udah sangat jahat juga sama Riki. Masa, gak malu lagi buat kembali."
"Ya ... bagaimana pun ini tetap tanah airnya, masa dia mau tinggal di sana sedangkan ada Bundanya juga di sini."
Diva hanya mengangguk paham dengan perkataan Mama Riki, "Eh, kamu mau bakso?" tanya Mama Riki saat mendengar suara dentingan sendok ke mangkuk yang emang biasanya selalu lewat di kompleks.
__ADS_1
"Enggak deh Tante. Lagi diet soalnya."
"Oh, iya. Perut kamu juga udah lumayan besar tuh, sering-sering ke gym. Biar banyak gaun yang pas ke kamu," saran Mama sebelum akhirnya pergi ke depan untuk membeli bakso.
'Gila, gue dikatain perutnya besar dong!' rutuk Diva melihat ke arah perutnya.
"Eh, Mama Riki tumben beli bakso."
"Iya, Ibu-ibu. Lagi malas ke luar kompleks buat belinya."
"Oh, pantesan aja."
"Eh, Ibu-ibu doain ya semoga acara nikahan anak saya nanti lancar," ucap Mama Riki saat melihat Milda berjalan menuju ke gerobak bakso juga.
"Wah ... Riki akan nikah? Sama siapa Mama Riki?"
"Iya, 4 bulan lagi. Sama wanita yang gak akan meninggalkan dia begitu aja, dong."
"Eh, emangnya Riki pernah ditinggalkan begitu aja sama cewek lain, ya, Mama Riki?"
"Ya, begitulah Buk. Mungkin, mata anak itu buta sampai bisa-bisanya meninggalkan anak saya yang sudah jelas kaya raya itu."
"Karena bagi sebagian orang lain, cita-cita jauh lebih harus dikejar daripada hanya cinta," timbrung Milda dengan menatap tukang bakso yang lagi menambahkan seledri dan daun bawang ke plastik bakso.
"Buat apa ngejar cita-cita? Toh, nanti juga tinggal duduk-duduk aja kalo udah nikah. Cita-citanya gak akan kepake."
"Siapa bilang Bu? Tak ada jaminan bahwa seorang suami akan hidup dalam jangka umur panjang dan tak ada yang bisa menjamin bahwa laki-laki bisa setia dengan satu istrinya."
"Oh, bukan Bu. Hanya, coba pahami kalimat saya. Jika saya tidak punya keahlian apa pun di bidangnya, mungkin kemarin saya gak bisa menyekolahkan anak saya akibat suami saya yang Allah sayangi dan harus pergi lebih dulu. Namun, karena saya punya keahlian yang diasah dari sekolah dulu membuat saya bisa bertahan dan merawat anak saya di dalam hal yang serba kecukupan."
"Memang, saya gak sekaya Ibu. Tapi, apa yang anak saya inginkan dan perlukan. Inn Syaa Allah saya mampu memenuhinya," sambung Milda dan tersenyum ramah disambut oleh kedua ibu-ibu yang ada. Sedangkan wajah Mama Riki hanya menampilkan amarah.
"Pak, saya gak jadi beli baksonya!" ketus Mama Riki dan masuk kembali ke rumahnya.
"Loh, Buk? Ini udah jadi, lho!"
"Udah, Pak. Buat saya aja," timpal Milda.
"Makasih, ya, Buk." Milda hanya menjawab dengan anggukan ke arah penjual bakso.
'Kenapa mama Riki sekarang berubah, ya? Dulu, perasaan gak seperti itu.'
'Apa ada yang mempengaruhinya dan menjelek-jelekkan Caca, ya?'
Berbagai praduga memenuhi pikiran Milda melihat sikap Mama Riki yang ternyata sudah jauh berbeda.
"Lah, Tante? Tadi katanya mau beli bakso, mana?" tanya Diva menghentikan aktivitasnya scroll Instagram.
"Gak jadi!" ketus Mama.
"Ada yang buat Tante emosi? Siapa?"
__ADS_1
"Udah, gak usah ikut campur!"
'Dih, dasar gak jelas!' batin Diva dan memutar bola mata malas.
"Oh, iya Tante. Udah sore, nih. Diva pulang dulu, ya," kata Diva melihat ke arlojinya.
"Iya, hati-hati kamu."
Diva memakai tas ke bahu dan melenggang pergi, cake yang telah dihidangkan pun tak dirinya makan sama sekali.
"Tapi, ada benernya yang dikatakan Bunda Caca tadi. Kalo seandainya Riki kenapa-kenapa, setidaknya Caca masih bisa bekerja dan menggantikan peran Riki. Oh, iya, Diva kerjanya apa, ya?"
"Haduh, aku lupa lagi nanya kerjaan dia. Mana udah pergi tuh orang," sambung Mama dengan melihat punggung yang sudah tak terlihat lagi.
"Awas aja lu Riki! Bisa-bisanya bohongi gue kalo bilang di rumah Tante."
"Apa, aku susul aja ke apartemen dia, ya?"
"Pak, ke apartemen jalan pepaya, ya," titah Diva yang berada di dalam taksi.
"Baik, Mbak."
Tak perlu waktu lama, ia sudah sampai di apartemen. Diva berjalan menuju kamar milik Riki dan mengetuknya.
"Ada apa?" tanya seseorang yang menjumbulkan kepalanya.
"Eh, kok lu? Rikinya mana?"
"Emangnya kenapa? Urusan buat lu apa?" tanya Farhan tak kalah sengit.
"Dih!"
"Apa?"
"Lu gak sopan banget, sih! Lu gak tau gue siapa?"
"Enggak, emangnya penting banget tau kalo lu itu siapa?"
"Gue ini calon istri Riki. Boss lu."
"Wahh ... terus? Emangnya gue peduli?"
"Liat aja nanti! Kalo gue udah jadi istri sahnya, gue akan pecat lu!"
"Semudah itu?"
"Iya, dong."
"Haha, serah lu!" Farhan menutup pintu begitu saja meninggalkan Diva yang masih kesal dengan perlakuannya.
"Lah, malah di tutup! Bukannya jawab pertanyaan aku di mana Riki! Hih ... karyawan Riki semuanya gak ada adabnya!" amuk Diva yang sudah kehilangan sabar.
__ADS_1