Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Tak Perlu Menghargai


__ADS_3

Kurebahkan tubuh ketika selesai mengangkat telepon dari Riki, masih ada beberapa jam lagi untuk berleha-leha di kamar.


Bagaimana pun mulai hari ini, aku sudah tak menjadi asisten Aldy lagi, " 28 hari lagi, aku akan pulang ke Indonesia. Kenapa rasanya begitu lama, ya? Aku rindu Bunda dan semuanya yang ada di sana," kataku sambil menatap atas kamar.


"Oh, iya, Kak Aldy apa marah samaku karena aku tinggalkan kemarin, ya?"


"Lagian, salah dia sih! Ngapain ikut campur urusan orang lain!"


"Arg ... pokoknya aku harus minta maaf, deh bagaimana pun caranya."


Aku bangkit dan menuju dapur, ingin membuat cake sebagai permintaan maaf dan dibawa ke rumah sakit saja nanti.


Tanpa sadar, setelah cake telah selesai dan dimasukkan ke box. Jam sudah menunjukkan waktunya shalat Zuhur.


Aku segera berlari masuk ke kamar mandi, 15 menit selesai kewajiban. Cepat, bukan? Tapi, memang akan sangat berat bagi mereka yang cinta dengan dunia.


Meninggalkan kewajiban sebagai seorang muslim hanya karena pekerjaan. Padahal, uang dan pekerjaan tak akan dibawa nantinya.


Ingatlah wahai manusia, kehidupan dunia hanya tipuan belaka dan mimpi semata. Kau akan terbangun ketika sudah berada di alam barza.


Jadi, jangan menjadi manusia yang diperbudak dunia. Namun, jadilah orang yang membudak dunia dengan tetap mementingkan akhirat.


Selesai dengan wajah juga merasa rapi, aku keluar kamar dan menuju tempat kerja. Oh, iya, hari ini aku makan di minimarket saja.


Entah mengapa, akibat kemarin aku merasa bersalah dan malas untuk beraktivitas termasuk masak.


"Dokter Aldy ada?" tanyaku pada perawat yang ada di ruang informasi dan administrasi.


"Ada, Dokter. Di ruangannya sepertinya."


"Baik, terima kasih," jawabku tersenyum dan pergi ke ruangan Aldy terlebih dahulu karena jadwalku belum ada.


Tok ...! Tok ...!


Dua ketukan kuberikan sebagai pertanda bahwa ada orang yang ingin masuk ke dalam ruangan, "Eh, iya, ada apa dokter?" tanya seseorang yang muncul dari dalam.


Kutatap sebentar, 'Sepertinya perawat baru,' batinku dan tersenyum ke arahnya.


"Dokter Aldy, ada?"


"Ada, dokter. Silahkan masuk," katanya ramah dan membuka pintu dengan lebar.


Aldy tengah duduk sambil memegang beberapa berkas di dalam map, mungkin dirinya tengah memberi tahu beberapa hal kepada perawatanya ini.

__ADS_1


Aldy melirik sekilas ke arahku dan kembali menatap mapnya lagi, "Kalau begitu, saya permisi, ya, dokter-dokter," kata perawat yang belum tahu namaku.


Karena, emang aku belum menggunakan tanda pengenal. Tanda pengenal masih kukantongkan di dalam jas berwarna putih ini.


"Gak usah, kamu di sini aja," larangku dengan memegang tangannya agar tak pergi.


Aku yang masih mematung akhirnya duduk meski tak disuruh, sedangkan perawat tadi duduk di sofa sambil membaca yang sebenarnya aku pun tak nyaman.


Tetap saja dia pasti akan masih bisa mendengar apa yang kami bicarakan nanti. Namun, aku pun tak ingin jika berdua. Sangat serba salah, bukan?


"Ini, sebagai permintaan maaf Caca, Kak Aldy," kataku sambil meletakkan kresek berisi bolu buatanku sendiri tadi.


"Maaf, karena kemarin berkata kasar dan pergi begitu aja ninggalin Kak Aldy di mall," sambungku berharap dia menggubris ucapanku.


"Iya, terima kasih dan maaf juga karena kelancanganku." Dia melihat ke arahku yang tertunduk.


"Yaudah kalau gitu, Caca keluar dulu. Maaf mengganggu."


Tak ada balasan, Aldy diam saja. Aku segera keluar dengan perasaan bersalah, apakah dia marah padaku karena kemarin?


Tapi, memang dia yang salah. Arg ... sungguh menyebalkan, aku tak menyukai jika diriku saling bertengkar seperti ini.


"Dokter Caca, dari mana?" tanya perawat pribadiku.


"Eh, mau ngapain?"


"Mau nangkep udara."


"Haha, dokter Caca kebiasaan. Kalo lagi kesel pasti jawabannya ngawur," kekehnya sambil memegangi perut.


"Wah ... apakah kau selalu mengamati diriku? Hingga tau sampe ke hal seperti itu?"


"Ya, karena saya akan bekerja sama dengan seseorang dalam jangka waktu yang lama. Jadi, saya harus bisa memahami sifat dan sikap orang tersebut."


Dia memegang knop ruanganku, "Kata siapa aku akan lama di sini?" tanyaku dengan tersenyum.


"Bukannya perawat dan dokter itu sama? Harus kontrak dua tahun? Kalo mau terus boleh, kalau mau berhenti juga boleh," ujarnya menatap ke arahku dan tak jadi membuka pintu.


Aku tersenyum dan membuka pintu ruangan, membiarkan pintu ruangan terbuka sedangkan aku masuk lebih dulu.


"Oh, ayolah dokter Caca. Kasih tau aku, apa kau akan berhenti lebih dulu?"


"Yap!" seruku tersenyum dan meletakkan tas juga memakai tanda pengenal yang digantungkan ke leher.

__ADS_1


"Ha? Kenapa bisa?"


"Karena aku baik. Jadi, sering-seringlah kau berbuat baik," ucapku menepuk pundaknya pelan lalu pergi lagi.


Sebelum mulai bertempur dengan alat-alat, aku ingin minum kopi terlebih dahulu. Rasanya, sudah sangat lama aku tak minum kopi.


Dulu, aku sangat mencintai kopi layaknya aku mencintai dia. Eh, dia siapa? Namun, lambungku tak kuat menahan kafein.


Jadi, membuat aku harus berhenti mencintai hal yang membuat aku sakit itu. Sekarang, kalo aku minum. Tak apa, bukan?


Saat akan menuju ke kantin, aku melewati lobby dan tempat informasi dan administrasi tadi. Kulihat, ada box yang tak asing.


Mereka memakan isinya dengan senyuman, isi yang berwarna hitam dilahap oleh mereka. Aku mendekat, "Wah ... kalian dapat cake dari mana?" tanyaku meskipun rasanya sedikit sakit.


"Eh, ada dokter Caca. Ini kami dikasih oleh dokter Aldy, perawat pribadinya tadi yang ngasih ke kami dokter," jelas perawat.


"Oh, enak gak?" tanyaku menahan agar bulir bening tak turun.


"Enak banget, nanti mau nanya deh sama dokter Aldy beli di mana. Eh, dokter Caca mau?" tanya perawat yang membuatku tersenyum. Setidaknya, mereka memakan buatanku.


"Tidak, kalian saja. Saya mau ke kantin dulu, permisi."


Jatuh sudah, aku tak mampu menahannya lagi. Bulir bening yang kutahan akhirnya jatuh ketika aku tengah berjalan menuju kantin.


Dengan cepat, kuhapus agar tak ada air mata juga jejaknya lagi. Lagian, yang penting cake buatanku dimakan dengan suka cita oleh mereka.


Aku meminta kopi, bukan kopi hitam karena aku tak suka. Kopi susu menjadi pilihanku, aku duduk sedikit ke sudut dekat dengan kaca agar bisa melihat pemandangan di luar sana membelakangi pintu masuk ke kantin.


Tiba-tiba, perhatianku teralihkan ke tangan kiriku. Benda yang selama ini kuhargai karena pemberian orang, membuat aku tersadar. Bahwa, tak perlu lagi zaman sekarang menghargai pemberian orang.


Kubuka gelang itu dan kuletakkan di meja, aku kembali menyeruput kopinya.


"Hay, dokter Aldy," sapa para perawat di lobby.


"Kenapa box-nya kalian biarkan berada di atas?"


"Eh, maaf dokter."


"Yasudah, tak apa."


Ketika Aldy ingin ke kantin, dirinya mematung di ambang pintu saat menatap seseorang yang membelakangi pintu.


"Caca di sini? Apa dia liat kalo mereka tadi makan buatan dia? Atau ... dia tau akan hal itu?" gumam Aldy yang merasa bersalah.

__ADS_1


__ADS_2