
"Bro, lu beneran mau nikah sama nenek lampir itu?" tanya Farhan--asisten pribadi Riki.
"Biasakan ketuk pintu dulu!" Tatap Riki tajam ke arah Farhan.
"Hehe, ya, maaf."
"Dan satu lagi, jangan panggil gue Bro-bro di toko."
"Jadi, kalau di luar tempat kerja boleh?"
Riki yang tengah mengerjakan beberapa pekerjaan melalui laptopnya memilih fokus kembali pada layar.
Farhan menutup kembali pintu dan duduk di depan kursi Riki yang kosong, "Pak Riki," panggil Farhan.
Riki melihat ke arah Farhan dengan menaikkan alisnya pertanda bertanya, "Pak Riki belum jawab pertanyaan saya."
"Perlukah saya jawab?"
Farhan membuang napas kasar, beginilah Riki kalau tak berbicara dengan Caca pasti akan sangat hemat berbicara.
"Kau cari alasan dan motif Diva kenapa ingin dinikahkan olehku."
"Ya, karena emang dia suka juga dari dulu."
Tatapan tajam diberikan Riki pada Farhan, disuruh mencari informasi dia malah menjawab dengan sesuka hati. Farhan yang melihat tatapan itu hanya mampu menyengir.
"Baik Pak, akan kucari tahu."
"Ya."
Riki kembali fokus ke laptopnya, melihat Farhan yang masih ada di depannya dan memperhatikan dirinya yang tengah fokus.
"Kau ngapain masih di sini?"
"Oh, iya, saya lupa Pak. Aldy sudah ada di Amerika dan satu tempat kerja dengan Caca, dia juga satu apartemen cuma beda lantai saja."
"Sejak kapan?"
"Ketika Anda pulang, dia datang. Tapi, dia pakai cincin. Apa itu cincin nikah, ya?"
"Ngapain kamu nanya saya?"
"Eh, iya, juga ya," kata Farhan ketika menyadari ucapannya.
"Ya, sudah. Kamu cari tau aja motif Diva mau nikah denganku. Karena, aku tak yakin jika dia ingin nikah denganku karena cinta."
"Baik Pak, permisi!" Farhan berdiri dan pergi melangkah ke luar ruangan, sebenarnya dia datang hanya untuk memberi tahu hal itu saja.
Riki segera mengambil handphone-nya, "Halo, assalamualaikum," salam Riki ketika sambungan terhubung.
"Iya, waalaikumsalam. Siapa, ya?"
"Hmm ... saya Junet Bu. Temen Aldy, mau nanya Aldynya ada?"
__ADS_1
"Ohh ... gak ada Nak Junet, dia lagi tugas di luar negri."
"Yah ...."
"Kenapa? Kalau ada hal yang penting boleh kasih tau Ibuk, nanti Ibuk sampaikan ke dia."
"Enggak, Buk. Mau nanya aja, dia udah lamaran atau belum."
"Emangnya kenapa?"
Riki diam sebentar, dirinya sepertinya melakukan kesalahan karena langsung pada intinya, "Hmm ... ini, soalnya sepupu saya ada yang nyarik jodoh. Mana tau 'kan cocok sama dia."
"Oh ... gitu, toh. Dia belum lamaran sih tapi kalo buat udah punya pasangan atau gebetan Ibuk juga kurang tau nak Junet."
"Gitu, ya, Buk?"
"Iya."
"Yaudah deh, makasih ya Buk. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Annisa mematikan panggilan, "eh, kalo dia temen Aldy kenapa gak nelpon ke Aldy langsung? Kok malah ke aku?" Annisa tersadar dengan keanehan yang ada. Namun, tak terlalu dirinya pikirkan.
"Kalo dia udah lamaran artinya gue gak perlu was-was dia akan sama Caca, ternyata dia malah belum lamaran," gumam Riki meletakkan handphone-nya kembali.
Tak perlu heran dari mana Riki tahu nomor Annisa, itu hal yang gampang baginya. Ia memiliki teman dari berbagai bidang hingga; hackers. Jadi, tak ada yang sulit baginya jika dua ingin mengetahui sesuatu.
"Oh, iya, hari ini Mama pulang dari rumah sakit. Aku jemput dulu, deh." Riki bangkit dan memakai jas hitamnya tak lupa kacamata yang bertengger dirapikan.
"Bukan urusanmu." Riki berjalan melalui wanita yang masih mematung mendengar jawaban Riki, dia menatap kesal ke arah laki-laki itu.
Ketika sudah sampai di parkiran dan ingin memekai helm, tiba-tiba bunyi handphone membuat dirinya berhenti sebentar.
"Iya, ada apa Ca?"
"Om, cincinnya udah Caca Kirin ke ekspedisi, ya," jawab Caca dari sebrang.
"Kamu kirim kembali cincinnya?"
"Iya, Om."
"Kamu gak suka sama cincinnya?"
"E--emm. Gak suka Om," kata Caca berbohong.
"Aku mengenal kau dari SMA, Ca. Aku bisa tau kau tengah berbohong."
"Dih, sotoy beut lu Om Tuir!" jawab Caca dengan nada kesal.
"Haha, aku bukan sok tau Ca."
"Tapi?"
"Tak perlu ada tapi untuk mencintaimu."
__ADS_1
"Huwek ... dah, ah! Om lama-lama makin parah bucinnya, Ca mau siap-siap dulu, deh."
"Siap-siap? Baiklah kalau begitu, kalau udah bener siap kabari, ya."
"Ha? Apanya yang dikabari?" tanya Caca yang tak mengerti sekarang ke mana alur pembicaraan.
"Siap untuk jadi istri 'kan?"
"Dih, gaje lu! Bye, assalamualaikum Om Tuir!" Panggilan diakhiri oleh Caca. Riki menatap handphone-nya dengan senyuman.
"Waalaikumsalam," jawab Riki yang memang tak akan lagi di dengar Caca.
Setelah selesai, Riki kembali memasukkan handphone ke saku celana jeans-nya itu. Ia menunggangi kuda besi warna hitam miliknya dengan kecepatan tinggi.
Sesekali, orang membunyikan klakson karena merasa terganggu dengan suara motor dari Riki. Namun, dirinya tak peduli akan hal itu.
"Kalau mau sunyi dan senyap, tinggal di hutan makanya!" ketusnya waktu itu menjawab ocehan Ibu-ibu yang kerap menghidupkan lampu kanan dan belok ke kiri.
Perlu menempuh waktu 20 menit hingga akhirnya dia telah sampai di rumah sakit, di halaman rumah sakit sudah ada mobil juga sopir milik Riki.
Memang, 2 tahun belakangan ini banyak perubahan di keluarga Riki. Mulai dari rumah yang sekarang sudah bertingkat, memiliki pembantu juga supir.
Dirinya sedikit menolak waktu itu, karena merasa risih jika ada orang lain di rumah. Namun, perubahan bukan hanya terjadi pada rumah tapi juga sikap Mamanya.
Menjadi seorang wanita yang begitu keras kepala dan tak menerima penolakan, Riki yang memang dari dulu tak pernah akur dengan sang papa hanya bisa diam saja dan tak melawan dengan apa keputusan orang tuanya.
"Eh, baru datang nak Riki?" tanya sopir yang umurnya memang sudah terbilang tua.
"Iya Pak. Udah mau pulang, ya?"
"Iya, barang sudah diangkat semua kok."
Riki hanya mengangguk dan berdiri di samping sopir, "Lah, gak masuk ke dalam?"
"Enggak deh Pak, ada Papa 'kan?"
"Iya nak Riki."
Beberapa menit mereka saling diam, Riki membuka handphone dan fokus pada gawainya, "Nak Riki gak punya pacar, ya? Kok gak pernah bapak liat, sih?" tanya sopir menatap ke arah Riki.
Riki yang mendapatkan pertanyaan itu menatap ke arah sopir, sedangkan yang di tetap hanya menampilkan cengiran.
"Punya Pak, tapi dia lagi di luar negri."
"Ha? Ngapain nak Riki?"
"Dia dokter."
"Wah ... keren banget, jadi nanti kalo Bapak sakit bisa langsung minta rawatkan sama pacarnya nak Riki dong."
"Enggak Pak, dia khusus merawat saya doang."
"Nak Riki cemburuan ternyata hahaha," goda sopir melihat ekspresi marah Riki.
__ADS_1