
Masuk ke dalam galeri dan melihat berbagai macam lukisan di sana, ada yang abstrak dan juga gambar lainnya.
"Caca gak paham maksud lukisan ini Om," bisikku menunjuk lukisan yang ada.
"Yang paham makna suatu karya adalah pembuatnya. Kita hanya bisa menebak dari berbagai persepsi. Namun, yang paham betul artinya adalah pembuatnya. Jadi, wajar kalo kamu gak paham."
Aku hanya mengangguk, ada benarnya juga yang dikatakan Om Riki. Bahwa, segala sesuatu yang dibuat pasti hanya penciptanya yang paham apa makna dari buatannya itu.
"Om Farhan. Sini!" panggilku pada Om Farhan yang sepertinya tengah mem-foto beberapa lukisan.
"Ada apa Ca?" tanya Farhan memasukkan kembali handphone-nya.
"Fotoin, dong!" pintaku dengan memberikan handphone sambil cengengesan.
"Yaudah, sini." Farhan mengambil handphone dan memfoto Caca sesuai dengan yang diinginkan Caca.
Setelah selesai berkeliling, Riki ternyata tertarik dengan satu lukisan. Jadi, dirinya membeli lukisan itu dan nanti dari pihak galeri yang akan langsung mengantar.
Rencananya, lukisan itu akan dia pajang di apartemen bukan rumah orang tuanya.
"Om, Caca mau ngomong hal penting," kataku memecah keheningan di dalam mobil menuju pulang setelah selesai melakukan kewajiban juga makan siang.
"Apa?" tanya Riki menatap sekilas ke arah Caca lalu menatap jalanan lagi.
Aku sebenarnya takut mengungkapkan ini, tapi apa yang dikatakan Bunda itu benar. Bahwa, sebaiknya aku tak dekat dengan seseorang yang sudah bertunangan.
"Ca, are you okay?" tanya Riki saat melihat Caca menunduk dan memainkan tangannya.
Aku mengangguk, kemudian menatap lurus ke depan, "Caca harap, ini terakhir kali kita ketemu Om. Bagaimana pun Om akan nikah sebulan lagi, Caca gak mau di fitnah dan dapat cibiran dari orang-orang. Bukan hanya Caca, mungkin Bunda juga akan dapat cibiran karena kedekatan kita," ungkapku meskipun ada perasaan yang tak bisa dijelaskan.
"Enggak, Ca. Sampai kapan pun, kau harus tetap samaku."
__ADS_1
Aku menatap wajah itu, "Om gak boleh egois! Lagian Caca juga harus mikirin masa depan Caca! Caca gak mungkin akan selalu sama Om sedangkan Om sudah akan nikah!" geramku yang entah bersamaan dengan kecewa atau kesal.
"Gak, gue udah bilang bahwa sampai kapan pun lu akan jadi milik gue," kata Riki dingin.
"Gak bisa gitu Om, lu gak bisa egois kayak gini! Lagian, ini sudah takdir."
"Ck! Takdir? Takdir apa yang bahkan manusianya tak bahagia karena takdir itu?"
"Gak selamanya takdir yang kita jalani buruk, Om hanya perlu menerima."
"Intinya, gue gak akan pernah lepaskan lu Ca. Tunggu sampai akhirnya gue akan nikahin lu."
"Dan nikahin Diva juga?" tanyaku dengan suara tinggi. Aku menatap ke arah wajahnya dan dia pun menatapku.
"Ingat Om, Om udah tunangan jadi tolong beri batasan di antara kita. Ini ... terakhir kali kita bertemu, setelah ini Caca gak akan mau dan bisa ketemu sama Om lagi. Sibuklah dengan dunia kita masing-masing, Caca gak mau akibat kedekatan kita Bunda yang akan jadi korban dengan berbagai nyinyiran," jelasku panjang kali lebar, "permisi!"
Aku keluar dari mobil dan berlari kecil menuju dalam rumah, tak kupedulikan lagi Om Riki sudah pergi atau tidak.
Di lain tempat, ada seorang wanita yang sedang menangis dengan punggungnya di usap pelan oleh wanita paruh baya.
"Iya, Sayang kamu tenang, ya. Mama akan beri pelajaran untuk anak yang tak tau malu itu!" geram mama Riki mengepalkan tangan dan menatap tajam ke arah depan.
'Bagus! Kau harus menuruti apa yang aku mau. Liat aja kamu Hama, aku akan buat kamu menyesal kembali ke Indonesia,' batin Diva dengan tersenyum licik.
"Yaudah kalau gitu, Diva pulang dulu, ya Ma. Mau siap-siap cari lokasi nikah dan lainnya juga," kata Diva melepaskan pelukan.
"Iya, Sayang. Kalau kamu kesusahan minta bantuan aja sama Riki, biar kamu gak capek-capek banget, ya," ujar Mama Riki sambil mengelus kepala Diva.
Diva hanya tersenyum dan mengangguk, dia segera menyalam tangan mama Riki dan berjalan keluar dari rumah mewah ini dengan rasa bahagia karena sudah berhasil menghasut mama Riki.
Saat Diva menutup kembali pintu rumah itu, dia kaget dan langsung melototkan mata ketika melihat seseorang berdiri di depannya.
__ADS_1
Laki-laki itu berjalan ke arahnya dengan wajah marah, "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya laki-laki itu dengan penekanan.
"A-aku hanya bertemu Mamamu Riki. Apakah itu salah?" tanya Diva menatap wajah Riki.
"Cih! Ngapain kau ingin bertemu dengan Mamaku? Apa kau tengah mengadu bahwa aku habis pergi keluar dengan wanitaku?" tanya Riki menaikkan alisnya.
"Kau tau Riki? Aku yang calon istrimu bukan dia!" geram Diva dengan suara yang meninggi.
"Apa kau sengaja meninggikan suaramu? Agar akan datang seseorang membantumu?"
"Denger, ya, Riki! Sampai kapan pun aku yang akan menjadi istrimu! Bukan Hama itu!"
"Oh, ya? Kalau aku enggan memiliki istri yang sudah memiliki anak namun belum suami, bagaimana?" tanya Riki tepat di telinga Diva.
Sekujur tubuh wanita itu mendadak kaku dan dingin, dirinya mencoba meredakan kegugupan yang tengah terjadi di dalam tubuhnya.
"Apa kah kau pikir aku semurahan itu hingga bisa memiliki anak tanpa adanya pernikahan?"
"Sebetulnya, aku malah mikir kau lebih murahan dari itu," kata Riki tersenyum sinis. Dirinya berjalan dengan menyenggol bahu Diva yang membuat wanita itu sedikit terdorong.
Diva membalikan badannya dan menatap Riki yang berhenti ingin membuka pintu, laki-laki itu kembali berjalan ke arahnya.
"Jangan lupa kata-kataku, bahwa aku tak akan segan-segan menyakitimu jika tangan kotormu berani menyentuh wanitaku. Aku tak peduli kau mau seorang wanita sekalipun yang sedang mengandung!" tekan Riki dan meninggalkan Diva yang kembali dibuat terdiam dan dengan susah payah menelan air liurnya sendiri.
'Si*l! Dari mana laki-laki itu bisa tau tentangku? Apa dia juga tau siapa ayah dari bayi ini? Syukurnya aku meminta tanggal pernikahan dicepatkan, setidaknya dia pasti akan tetap mau menikahi aku. Ha? Apa dia benar akan mau?' batin Diva yang mulai tak yakin dengan rencananya.
'Dia pasti mau! Aku tinggal rayu Mamanya dan buat wanita itu menjauh, atau ... aku sakiti saja wanita itu? Bukan. Bukan sakiti, tapi lenyapkan!' batin Diva dengan tersenyum menyeringai.
Dirinya akhirnya beranjak dari teras rumah Riki dan pergi menggunakan taksi online yang dipesannya tadi.
"Diva baru saja pulang tadi, apa kau papasan sama dia?" tanya Mama Riki saat melihat anaknya datang dan menuju sofa ruang tamu.
__ADS_1
"Ada apa Ma? Mama mau bicara apa?" tanya Riki yang langsung pada intinya dan duduk di depan Mamanya.
Dia datang ke sini karena memang disuruh oleh Mamanya untuk datang, karena kebetulan dia mengantarkan Caca jadilah mau tak mau dia sekalian mampir.