
Handphone Riki memang belum diaktifkannya sampai detik ini di jam 9 malam, berulang kali Mama Riki menelpon Farhan.
Karena, mereka disuruh datang tepat jam 7 dan keluarga Diva datang jam 8 malam. Memilih untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan dan makan terlebih dulu.
Sedangkan Farhan? Dia sudah gelisah ketika diajak Riki untuk makan, bagaimana pun ia takut jika akan dimarahi oleh Mama Riki.
Akan tetapi, berulang kali pula Riki berkata, "Yang berhak memecat kamu itu saya, jadi, jangan takut sama siapapun kecuali saya."
Mereka baru sampai di halaman rumah mama Riki, ia turun tanpa membawa apa pun. Farhan ikut turun dari mobil Riki.
Dia bukan hanya asisten Riki, tapi, juga sekaligus sopirnya.
Pintu di buka Riki, sontak semua orang yang ada di ruang tamu melihat ke arahnya sedangkan Farhan hanya mampu menunduk.
Ia duduk di kursi single dan Farhan berdiri di belakang Riki, "Jadi, ada apa?" tanya Riki menurunkan kacamatanya.
"Kamu gak tau sopan santun, ya? Datang bukannya salam atau sapa orang yang ada di sini malah langsung bergaya sok bos!" murka papa Riki menatap anaknya.
"Hay, semua. Assalamualaikum," salam Riki tetap dengan wajah datar melihat satu per satu orang yang ada di ruangan.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang ada di ruangan dengan komat-kamit.
"Udah Pa, malu banyak orang di sini," bisik mama Riki menahan amarah suaminya.
"Sayang, seperti yang kamu ketahui bahwa pernikahan kalian akan diadakan 3 bulan lagi. Maksud, Diva datang ke sini mereka ingin mengubah bulannya menjadi bulan depan," jelas mama Riki tersenyum mencoba sabar menjelaskan.
Riki tersenyum sinis, menatap ke arah Diva yang tengah sok manis menurutnya, "Kenapa tiba-tiba?" tanyaku menatap ke arah Mama.
"Kan, lebih cepat lebih baik Riki. Lagian, kita juga udah kenal dari lama. Jadi, ngapain lagi kita harus berlama-lama untuk menikah?" tanya Diva.
"Lama atau cepatnya hubungan itu, bukannya gak merubah sesuatu, ya? Bisa jadi udah lama tapi tetap aja ada yang pasangan itu sembunyikan," ucapku menekan kata terakhir.
Kutatap wanita di depanku, dia gelagap dan bahkan raut wajah cemas tak bisa dia bohongi. Semua terlihat jelas di situ.
"Ya, gak mungkin dong. Masa, hubungan udah lama masih aja bisa saling menutupi dan disembunyikan," elak Diva dan merasa di tatap olehku. Dia segera memalingkan wajahnya.
"Saya tidak setuju," kataku singkat. Semua orang yang ada di ruangan tampak terkejut.
"Kamu gak bisa begitu dong Riki!" bentak Papa padaku.
"Kenapa jadi Papa yang sibuk? Kan, yang nantinya akan menjadi suami dia itu aku. Meskipun, mungkin itu hanya mimpi!" tegasku dengan menaikkan sebelah bibirku.
"Riki, kamu keterlaluan sekali! Apa yang dikata Diva itu benar, gak ada baiknya lama-lama menunda pernikahan itu," imbuh Mama kali ini.
"Kenapa gak baik? Aku gak pernah jalan sama dia, gak pernah telponan atau chat. Aku gak akan berbuat yang aneh-aneh sama dia. Aku pun tak sudi melakukan hal itu!"
Plak!
Satu tamparan berhasil mengenai pipi kananku, kurasa ada cairan yang mengalir. Kuusap terlebih dulu dan melihatnya, benar saja.
__ADS_1
Semua orang terkejut dan menutup mulutnya termasuk wanita itu, apakah itu hanya sebagian dari actingnya? Hahaha.
Aku bangkit, sebagai manusia yang lebih muda dan tahu malu, "Saya rasa pertemuan sampai sini saja, oh, ya, Diva. Ada baiknya kau periksa perutmu itu, itu benar-benar sisa makanan atau sisa perbuatan terlarang," kataku tersenyum remeh dan melangkah pergi.
Farhan membungkuk terlebih dulu ke arah orang yang ada di ruang tamu dan berlari mengikuti aku ke luar.
'Kurang ajar Riki! Kenapa bisa-bisanya dia berucap seperti itu!' batin Diva dan melihat ke perutnya.
Diva mendongak dan melihat ke wajah orang-orang yang ada di sini, Mama Riki menatap ke arah Diva dan wanita itu hanya membalas dengan cengengesan.
"Iya, Diva. Kamu lebih baik sering olahraga, biar perutnya jangan keliatan buncit," saran mama Riki tersenyum.
"Hehe, iya, Tante," jawab Diva kikuk.
'Ini lagi! Malah ikut-ikutan natap perut gue!' batin Diva yang semakin merasa terpojokkan.
Aku kembali ke dalam mobil, rasa sakit yang di dapat malam ini bukanlah suatu hal yang luar biasa, "Pak, apa kita ke rumah sakit buat obati bekas tamparannya?" tanya Farhan melihat ke bangku belakang dan belum menjalankan mobil.
Kulihat ke arah rumah Caca, "Caca kayaknya udah tidur Pak," timbrung Farhan yang ternyata menyadari kalau aku melihat ke arah rumah itu.
"Kembali ke apartemen."
"Lukanya Pak 'kan ha--"
"Apartemen," jawabku singkat dan memotong ucapan Farhan yang belum selesai.
Handphone mulai kuaktifkan kembali, kurasa diri sudah siap dengan berbagai tugas yang akan masuk dan juga berbagai panggilan nantinya.
Kucari satu nomor dan segera memanggilnya.
"Dia ada di rumah saya, kamu awasi setelah ini dia pergi ke mana," perintahku pada orang yang ada di sebrang.
"Baik Pak."
"Apakah mata-matanya mengikuti kami?"
"Tidak Pak, anak buahnya mengikuti dokter Caca. Dari tiba di Indonesia dia sudah menyuruh orang untuk mengikuti dokter Caca."
Tanganku terkepal kuat kala mendengar penjelasan anak buahku, 'Kalau kusuruh mereka langsung menghabisi anak buah wanita itu, aku jadi tak tau apa sebenarnya yang ingin dia lakukan pada wanitaku. Jadi, ada baiknya aku membiarkan saja dulu bagaimana rencananya,' batinku menatap lurus.
"Baik kalau begitu, apakah kau punya anak buah lainnya?"
"Ada Pak."
"Kau sudah jamin mereka dapat diandalkan?"
"Sangat yakin Pak."
"Baik, turunkan 5 lagi buat menjaga dokter Caca. Jika anak buahmu tak bisa menjaga dokter Caca, bukan hanya mereka yang akan kubunuh dengan tanganku sendiri. Tapi, kau juga!" tegasku.
__ADS_1
"Siap, Pak!"
Kuakhiri panggilan dan menatap berbagai pesan yang masuk, dari wanita yang membiarkan anaknya di permalukan begitu saja.
[Riki, Sayang. Kamu di mana Nak?]
[Mama dan Papa sudah putuskan bahwa pernikahan kamu akan dimajukan jadi bulan depan]
[Ini sesuai keinginan Diva dan keluarganya. Lagian, ngapain juga lama-lama kalian sudah saling kenal dan sudah pas untuk menikah.]
Kubuang pandanganku ke jendela sebentar, "Ck, apakah yang ingin menikah mereka?" tanyaku tak membalas pesan itu.
Kulihat nomor Caca, ada tulisan 'online' di situ. Segera kukirim pesan padanya.
[Malam dokter Caca.]
[Kenapa Om?]
[Ada pasienmu, nih.]
[Siapa?]
[Makhluk paling ganteng di bumi.]
[Ck, pasti udah punah tuh makhluk😏]
[Haha, karena punah mangkanya sekarang jadi rebutan.]
[Gue mau tidur Om, kalo gak ada yang penting biar di matiin nih!]
[Galak amat dokter Caca, oh, iya, cuma mau bilang nih dokter Caca. Besok ada pameran di galeri, kita ke sana, ya. Gak akan berdua, kok.]
[Oke.]
[Singkat amat.]
[Iya, kek hubungan kita!]
[Eh, sejak kapan kita punya hubungan? Kan, cinta saya belum dijawab. Mana, ditolak mulu.]
[Haha, ditolak bukannya sadar malah lanjut part seterusnya.]
[Ya, mana tau di part ending kebahagiaan akan saya temui.]
[Siapa bilang?]
[Noh, si Author,] balasku pada wanitaku.
Author bilek, "Dih, ngapa jadi bawa-bawa gue, dah! Kalian yang ngebucin malah gue dibawa-bawa _-"
__ADS_1