
30 menit berkutat dengan peralatan dapur, Caca sudah menyiapkan makanan untuk Riki dan juga dirinya.
Ia segera melangkah keluar apartemen untuk memberikan makanan yang telah jadi, dua ketukan diberikannya ke pintu apartemen Riki.
Pintu terbuka, terlihat seorang laki-laki yang berdiri dengan menggunakan baju kaos hitamnya juga celana santai.
"Om, ini makanannya," kata Caca menyerahkan tempat makan.
"Makasih," ucap Riki mengambil tempat makan, "oh, iya. Saya tidak jadi seminggu lagi pulang, besok pagi saya akan pulang ke Indonesia," sambungnya yang membuat Caca terdiam.
Caca menampilkan senyum terpaksa, beruntungnya Riki tak pergi begitu saja selayaknya dirinya dulu.
"Iya, Om."
"Besok kamu ada sedikit waktu? Bisahkah temani saya?"
Tanpa berpikir lama, Caca langsung mengangguk menyetujui keinginan Riki itu, "Baiklah, jam 7 tepat sudah harus siap."
"Baik Om!"
Caca kembali ke apartemennya dan memilih untuk memakan masakannya tadi, ia juga sambil melihat video tentang penjelasan obat dan nama-nama penyakit pada anak.
"Apakah aku besok harus sekalian mengungkapkan perasaan kepada Caca?" tanya Riki yang menatap masakan dari wanita itu.
"Oh, ayolah! Kenapa aku begitu gugup?" sambung Riki dan berjalan mondar-mandir seperti layaknya setrika dengan memegang tempat makan tadi.
Apakah aku sudah pantas menjadi pendampingmu? Apakah aku sudah layak menghuni hatimu?
Caca ... kau mampu membuatku gila dan bahak berubah menjadi lebih baik lagi mungkin. Banyak orang yang berkata buruk padamu.
Tentang kedekatan kita, maafkan aku karena kadang kau memilih jauh karena sudah tak tahan dengan ucapan-ucapan itu.
Kau tak salah, akulah yang salah karena memasukkanmu ke dalam kehidupanku yang hitam dan tak ada cahaya terang sedikit pun.
Namun, tak niatkah kau menjadi penerang itu? Dan memasukkan warna lainnya ke kehidupan ini. Ah ... rasanya bisa pecah lama-lama kepala di isi oleh berbagai pertanyaan.
"Besok, aku harus melamar dia. Diterima atau tidaknya biarlah itu menjadi resikoku!" tegas Riki yang sudah bersiap untuk jawaban yang akan di dapat.
Dirinya langsung menuju ruang makan untuk menyantap masakan Caca ini, dirinya tak tahu menu apa yang pertama kali akan dihidangkan Caca.
__ADS_1
Setelah selesai makan malam, Riki memutuskan untuk keluar apartemen, "Ke mall, Pak!" perintah Riki.
Entah apa yang ingin dibelinya ke mall, dirinya menatap ponsel miliknya yang sudah masuk beberapa tugas dan jadwal kerjanya lusa sesampainya di Indonesia besok.
Bukan hanya lelah. Namun, sepertinya akan sangat lelah. Tapi, mau tak mau pekerjaan tetaplah pekerjaan yang harus dilakukan.
Setelah sampai di mall, Riki langsung berjalan dengan langkah tegap dan menggunakan kacamata yang bertengger di hidung mancung itu.
"Mbak, saya mencari cincin permata," kata Riki begitu sampai di toko perhiasan di dalam mall ini. Sebelumnya, ia sudah mencari di internet tentang mall mana yang menjual perhiasan.
Karena, tak semua mall menjual perhiasan. Dirinya langsung disuguhkan dengan berbagai model cincin yang berkilau itu.
"Ukurannya gimana Pak?" tanya penjaga toko kepada Riki agar mudah dicari model yang lain.
Dirinya terdiam terlebih dahulu, bingung! Ya, dirinya bingung dengan ukuran jari Caca, Riki menatap jari tangan penjaga toko dan diikuti oleh penjaga yang menatap tangannya juga.
"Coba ke tangan Mbak saja," kata Riki dingin.
"Baik Pak."
Sebenarnya ada perasaan sedikit tak ikhlas kala melihat wanita itu mencoba cincin yang nantinya akan disematkan di jari pujaan hatinya.
Namun, mau tak mau itu harus dilakukan. Daripada nanti terlalu kebesaran malah jelek yang ada di jari wanita itu.
"Ini?" tanyanya memastikan.
"Ya."
Penjaga langsung menaruhkan kembali cincin-cincin ke etalase yang ada, ia segera mengambil penimbang dan menyiapkan surat-surat.
Riki membuka handphone-nya kembali sambil menunggu penjualnya kembali, rencananya besok ia akan melamar Caca di mobil saja saat menuju bandara.
Biarlah hanya sederhana dan acaranya akan dilaksanakan nanti, mungkin dua bulan atau satu bulan kemudian menunggu Caca bisa pulang ke Indonesia.
Setelah nanti kita menikah, kau tak perlu kerja dengan jarak yang begini jauh. Kau akan langsung kusuruh berhenti.
Jika pun kau ingin tetap menjadi perawat, maka akan kubukakan klinik untukmu dan alat-alat yang diperlukan.
Pikiran Riki sudah jauh ke masa depan dan cara mengatur wanitanya itu nanti, apakah itu baik tanpa adanya diskusi lebih dulu?
__ADS_1
"Ini Pak," ucap penjaga mengangetkan Riki.
"Berapa semua?"
Ratusan juta berkurang dari kartu ATM milik Riki, di perjalanan ia membuka kotak cincin dan menatap cincin tersebut seraya tersenyum.
"Apa kau akan melamar gadis itu?"
"Iya, Pak. Memangnya kenapa?" tanya Riki menatap ke arah sopir dari kaca spion.
"Tak mengapa, kalian cocok."
"Semoga memang jodoh," kata Riki dan memasukkan kembali kotak cincin ke paper bag yang diberikan toko langsung.
Diperjuangkan dan sekarang akan diberi kepastian, bukankah menjadi idaman bagi para wanita yang ada di bumi ini?
Memang bukan hal yang mudah, tapi ini jauh lebih baik dengan diberikan kepastian daripada hanya digantung saja hubungan.
Riki tak singgah ke mana-mana, ia langsung masuk ke apartemen di jam sembilan malam. Baju dan barang masih rapi di tempatnya.
Ia langsung menyusun pakaian ke dalam koper dan merapikan segalanya hingga di jam 11 malam, sampai rasa kantuk akhirnya menyerang dirinya begitu saja.
Bahkan, ia tak tidur di kasur melainkan di sofa yang ada. Biasanya, ia tak pernah merasakan lelah separah ini.
Mungkin, karena memikirkan untuk hari esok dirinya sampai selelah sekarang. Berntungnya, sudah semua barang dia mssukkan ke koper dan 3 koper miliknya sudah penuh.
Sebenarnya dari Indonesia dirinya hanya membawa dua koper, hanya saja ketika sampai banyak orang yang memberinya hadiah juga dia yang membeli barang baru juga oleh-oleh.
Jadi, mau tak mau koper pun harus ditambahi lagi. Entah nanti akan diberi izin bawa koper sebanyak ini atau tidak.
Namun, semoga saja diberi izin oleh petugas yang ada. Sedangkan Caca, dirinya masih bergelud dengan buku-buku yang ada.
Karena mengingat bahwa besok harus menemani Riki, ia akhirnya memutuskan untuk berhenti saja di jam 11 lewat 30 menit.
Agar besok tidak terlambat atau Riki tak lama menunggunya, bagaimana pun tak enak jika sampai orang lain yang menunggu.
Karena menunggu, adalah hal yang paling membosankan dan tak disukai siapapun itu. Caca mencuci kaki terlebih dahulu meski tak kemana-mana tetapi dirinya risih jika tak mencuci kaki terlebih dahulu sebelum tidur dan naik ke kasur untuk mendatangi mimpinya di malam ini.
***
__ADS_1
Pagi hari tepat jam 6 Caca sudah mandi dan berhias di depan cermin, sesuai dengan keinginan Riki untuk menemani laki-laki itu.
Bukan tak sedih ketika mendengar Riki akan pulang, seketika dirinya pun langsung rindu dengan tanah airnya itu.