Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Penjual Makanan Boraks


__ADS_3

Ayah David menghadap ke arah Caca dengan tampang yang menyeramkan, apakah dia salah? Bukankah memang sangat memalukan jika bertengkar di keramaian dan bukankah sangat tidak baik jika bertengkar di depan anak sendiri.


"Kau siapa? Jangan urusin rumah tangga orang!" bentak orang tersebut dan membuat beberapa kata yang keluar dari mulutnya membuat Caca menutup mata dan menunduk.


Bugh ...!


Satu pukulan mengenai perut laki-laki itu, dirinya yang tak bersedia langsung terjadi. Untungnya tak mengenai ke David atau ibunya yang berdiri tak jauh dari laki-laki itu.


"Lancang sekali kau membentaknya!" geram Riki memegang kerah baju dengan tangan yang sudah terkepal kuat bahkan urat-urat tangan Riki terlihat menegang.


"Om, udah-udah!" larang Caca dengan memegang tangan Riki agar tidak menambah pukulan lagi.


Sedangkan ibu David juga ikutan melerai dan David dibiarkan berdiri agak jauhan dari mereka, "Jangan dengan mudah Anda membentak orang! Jika Anda bisa lakukan itu untuk istri juga anak Anda! Maka ... jangan lakukan hal itu untuk orang lain karena tak semua orang mencintai Anda hingga bodoh!" peringat Riki menunjuk ke arah wajah laki-laki yang kesakitan dengan memegang perutnya.


Riki melepaskan tangannya yang berada di kerah baju laki-laki itu dengan kasar, ia berdiri dan langsung berjalan ke arah mobil yang terparkir.


Tatapan orang tak dia pedulikan, entah tatapan tak suka atau kagum. Dia tak membutuhkan itu, selagi benar maka akan dia lakukan.


Caca juga bangkit dan langsung berlari menghampiri Riki, Riki lebih dulu masuk ke dalam mobil.


"Pak, tolong bayarkan belanjaan yang di pegang oleh satpam trolinya," perintah Riki memberikan kartu ATM ke sopir pribadinya.


"Baik, Pak." Dia pun pergi ke dalam mall setelah mengambil kartu yang diberikan.


"Itu sebabnya aku tak menyukai menjadi baik!" Riki membuka suara setelah sopir pergi sedangkan Caca hanya menunduk.


Memang benar, dulu bahkan Riki bukanlah orang yang suka atau mau membantu siapapun itu. Baik itu ataupun muda, karena dirinya tak mau kejadian seperti ini terjadi.


"Tapi, Om. Gak semua orang akan menanggapi kebaikan kita dengan cara yang sama."


"Kebanyakan seperti tadi. Mereka di bantu dan di tolong bukannya makasih yang diberi malah caci."


"Kalau semua orang seperti Om, mau jadi apa dunia ini? Sungguh kejam sepertinya. Kalau kita niat menolong untuk manusia dan mendapatkan ucapan terima kasih memang akan membuat kita menjadi orang yang enggak berbuat baik. Namun, jika kita berbuat baik untuk Tuhan maka mau diucapkan terima kasih atau enggak kita tetap bahagia karena telah membantu orang lain," jelas Caca sambil tersenyum.


"Terserah padamu. Tapi, aku tak akan pernah mau membantu orang lagi. Karena, memang seperti itu kebanyakan manusia," jelas Riki mengalihkan pandangannya.


Caca hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, memang benar apa yang dibilang oleh Riki. Bahwa, kebanyakan orang yang ditolong seperti itu.


Namun, bukankah itu bukanlah suatu hal yang besar? Jika kita ingin membantu, ya, bantu saja. Tak perlu berharap lainnya meskipun hanya ucapan saja.


"Jadi, kapan Om akan pulang?" tanya Caca sambil melihat wajah Riki. Mencoba untuk membujuk laki-laki itu lumayan harus ekstra.


Seperti layaknya anak kecil. Namun, membujuk Caca tak jauh lebih harus doubel ekstra juga. Wajar, namanya juga seorang wanita.

__ADS_1


"Mungkin, seminggu lagi."


"Ohh ... baiklah. Tak apa kalau begitu, lagian belanjaannya juga mungkin tak sampai seminggu."


"Iya, kurangnya nanti kita makan di luar aja."


"Sambil dengerin Om nyanyi?"


Mendengar ucapan Caca tentang 'nyanyi' Riki langsung memperbaiki duduknya yang semula sedikit miring.


"Saya udah gak tau nyanyi, Cil."


"Kok bisa? Pita suaranya Om ganti?"


"Bukan, udah lama gak nyanyi."


"Masa? Coba nyanyi."


"Kenapa menyuruhku Cil! Cobalah kau yang nyanyi, mengapa selalu menyuruhku? Bukankah kau lebih mudah? Seharusnya yang lebih muda yang disuruh bukan menyuruh," kesal Riki melihat Caca yang semaunya saja.


Caca tertawa melihat protes yang dilayangkan Riki kepadanya, padahal sudah sangat lama wanita itu tak menyuruh-nyuruhnya.


"Suara Caca gak enak Om. Kek suara penjual makanan pake bo raks gitu," kekeh Caca.


"Kek gini, Om!" seru Caca yang menarik nafas cukup dalam "kubawa kau melayang tinggi dan kuhempaskan ke bumi, kumainkan sesuka hati lalu aku tinggal pergi!" Nyanyi Caca dengan percaya diri membawakan lagu itu.


Riki hanya diam dan mengangguk, "Kenapa Om?" tanya Caca yang melihat reaksi Riki.


"Memang benar sepertinya," jawab Riki santai yang membuat Caca memasang wajah kesalnya dan menyilang tangan.


"Hahaha, kenapa kau marah Cil?"


"Karna lu ngejek gue Om!" ketus Caca masih bersedekap dada.


"Bukankah kau yang bilang sebelumnya?"


Caca menghadap ke arah Riki kembali dan menatap wajah laki-laki itu dengan ekspresi marah, "Ya, jan akui dong! Bilang kalo salah hal itu, suara gue kek artis siapa gitu. Kek Mahalini atau lainnya!"


"Setiap orang punya ciri khas suara tersendiri dan ciri khas suaramu seperti itu Cil."


"Tau, ah!"


"Hahaha, kau semakin imut seperti itu."

__ADS_1


"Stop bilang gue makin imut pas marah atau kesel Om!"


"Kenapa?"


"Gak papa!"


"Kau tau?" tanya Riki. Caca hanya diam dan mengabaikan pertanyaan itu, ia melihat ke jendela memerhatikan orang yang tengah berlalu-lalang di sekitar mall.


Orang tua David dan dirinya pun tak terlihat, entah ke mana mereka sekarang. Namun, Caca tak terlalu memikirkan hal itu.


"Ini Pak," ucap sopir menyerahkan kartu kembali.


"Sudah semua Bapak bayar?"


"Sudah."


"Kita ke mana Pak?"


"Apartemen."


"Baik Pak."


Mobil keluar dari parkiran dan menuju ke apartemen, Caca pun akan ada kerjaan di rumah sakit sehingga harus segera datang.


"Barangnya bawa ke apartemen kamu atau aku?" tanya Riki mengambil kantong belanjaan dari dalam mobil.


"Ke aku aja Om. Biar besok pagi gampang ngolahnya."


"Oke."


Mereka berjalan menuju kamar Caca, "Ini, kamu bisa bawa sekalian keduanya?" tanya Riki yang berhenti di depan pintu kamar Caca.


Tak enak rasanya jika masuk ke apartemen wanita itu, meskipun Caca juga sudah pernah masuk ke apartemen Riki sekali.


"Bisa kok Om, tenang aja!" seru Caca sambil mengambil alih kantong belanjaan yang ada di tangan Riki.


"Kalau begitu, Ca duluan Om. Makasih," sambung Caca sambil menutup pintu menggunakan kakinya.


"Sama-sama," jawab Riki dan berlalu dari pintu kamar Caca.


Sesampainya di dapur, Caca langsung meletakkan kantong belanja dan segera berlari untuk membersihkan tubuh.


Dirinya sebentar lagi akan masuk jadwal kerja, ada rapat penting dadakan yang baru saja diberi tahu oleh perawat asistennya.

__ADS_1


"Huwaa ... kenapa sering banget, sih mendadak!" keluh Caca memasuki kamar mandi.


__ADS_2